Arsip Blog

Secangkir Kopi Kita

Masih di jam 23:30 saat menulis ini, saya pun masih menikmati rasa nyeri di salah satu bagian kepala karena tension headache, nyeri pada gusi, otot trapezius kiri bagian atas dengan belajar mekanisme rasa nyeri timbul dan ditransmisikan hingga diterjemahkan menjadi rasa nyeri. Tapi gambar ini ternyata terlalu sederhana πŸ™‚ http://t.co/W1OBRQsJrL .Jadi mata belum berkenan menutup dan otak masih bergerak menyusuri halaman demi halaman.
Ba’da maghrib tadi di Kota Wisata, sepulang ngantor di Cileungsi, saya mencari ibuprofen, analgesik atau penghilang rasa sakit. Berhubung tidak ketemu di supermarket Hero, maka secangkir kopi Kalosi Toraja di warung kopi Excelso menemani untuk sekedar meredakan nyeri. Sambil mengaduk, memperhatikan lingkaran seduhan kopi di gelas kertas.
Sehitam kopi, sepekat malam, menikmat diantara kelokan hidup. Kopi; dipetik, dikupas, disangrai, digiling, untuk hasil yang luar biasa. Bukankah kita juga begitu? Cobaan, musibah, tenggat, tekanan pelanggan/atasan, membentuk hidup kita lebih baik.
Dan kita selalu percaya bahwa malam akan selalu ditutup dengan geliat fajar. Dimana mahluk mulai menyembah Tuhannya, sebagian mulai berkarya, sebagian menyiram embun dengan kilauan mutiara cahaya.
Maka tidak ada alasan untuk kita tidak percaya masa depan yang baik, yang lebih baik. Seperti mentari yang setia menyapa di pagi setelah pekat malam.
Hanya saja kelemahan masa depan cuma satu, ia selalu berada di depan. Sulit terlihat dari jangkauan mata apatah usia. Karena jika ia di belakang, namanya menjadi masa belakang πŸ™‚

Posted from WordPress for Windows Phone

%d blogger menyukai ini: