Ibu Saya


image

Saya akhirnya rawat inap, setelah dua kali obat penghilang rasa sakit tidak efektif mengusir rasa sakit. Dan terakhir rawat inap pada saat SMP kelas 3 menjelang EBTANAS, tahun segitu. Jadi memang cukup gimana dirawat inap.
Satu hal yang saya lupa ngupdate adik saya, jangan beritahu ibu. Namun telat, adik saya sudah memberitahu beliau. Kamis malam masuk IGD, Jum’at dini hari pindah ke ruang perawatan, jam 8-an hari Jum’at saya ditelpon ibu.

Dengan segala omelan dan nasihat, beliau memberikan dan mengalirkan kekhawatiran, perhatian, kecintaan ke saya via telepon genggam. Sampai akhirnya, “Piye aku ke Bekasi? Sek, ben digolekke tiket karo adimu, sakcepete mangkat” -Gimana saya ke Bekasi? Supaya dicarikan tiket adikmu, secepatnya berangkat, demikian translasi bebasnya.
Gantian saya yang gelagapan. Berbagai cara meyakinkan supaya ibu tidak perlu datang. Saya baik-baik saja (meski mlungker menahan nyeri di uluhati, lambung, dan perut kiri), pesan yang saya kirimkan dengan segenap ngeles.

Untuk saya yang sudah cukup besar ini dan memberikan 5 cucu ke ibu, saya tetap dianggap anak laki-laki kecil beliau šŸ™‚
Saya sadar, omelan dan nasihat ibu kadang tidak nyambung, tidak juga pas dengan sakit yang sekarang menjadikan saya nginep. Tapi saya dengarkan sambil tersenyum mringis.
Saya tahu, ibu lebih kurang menggunakan apa yang dipengetahuan, dan kekhawatiran pada anak lelakinya, sehingga struktur kalimat beliau lebih seperti omelan daripada nasihat.
Saya paham, ibu saya khawatir terhadap saya.

Tapi saya lebih suka untuk mendengar, menerima kalimat-kalimat itu dengan penuh rindu. Karena saya tahu, bukan akurasi data yang saya butuhkan. Saya cuma ingin mendengar suara ibu, titik. Digetar-getar suara itu pilar kecintaan, nada kerinduan, mengalun bersama.
Apalah arti pengetahuan saya dibanding cinta seorang ibu pada anaknya.

Maka saya tidak menyesal, dulu masih SMU, ibu saya melarang saya protes ke mbah Uti (aselinya mbah Putri, namun cadelnya saya pas balita hanya terucap mbah Uti, sampai sekarang).
Mbah Uti bercerita jika batu itu hidup, bisa tumbuh membesar dan ngglinding sendiri. Saya yang belajar biotik dan abiotik tentu protes dong, tapi ibu saya menahan.

I love you mom….


Posted from WordPress for Android running on Blackberry 10

Iklan

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Januari 15, 2017, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: