Sate Matang yang Menakjubkan


Sate Matang

Sate Matang

Akhir Maret 2015 kemarin, saya sedang melakukan audit internal untuk wilayah Sumatera. Setelah Meulaboh, kemudian Banda Aceh, kemudian berlanjut menuju Pangkalan Susu. Berangkat dari Banda Aceh jam 19:30 WIB, berkendara mobil. Dan jam 23-an saya berhenti di daerah Matang Geuleumpang Dua, kota kecamatan di kabupaten Bireuen, setelah 3 jam berkendara dari Banda Aceh. Yak, sajian kuliner malam ini adalah sate Matang.

Sate ini dinamakan dengan sate matang karena awal mulanya sate ini diperkenalkan oleh penjualnya di kota Matang Geuleumpang Dua sebuah kota kecamatan di kabupaten Bireuen. Pada tahun 90 an sate ini populer dibeberapa kota besar di Aceh, kini banyak sekali bertebaran penjual sate di Aceh dan kota Medan Sumatera Utara yang menjajakan sate dengan label “sate matang”.

Ternyata bahan utama sate matang adalah daging kambing, namun harga daging kambing yang lebih mahal maka seringkali sate matang dibuat menggunakan daging sapi. Proses pembuatan dan memasak sate matang tidak jauh berbeda dengan sate daerah lain, potongan daging yang telah dibersihkan dan dipotong dadu dalam ukuran kecil. Setelah disematkan pada tusukan sate lalu direndam dalam adonan bumbu berupa rempah-rempah dalam waktu yang agak lama. Selanjutnya sate siap untuk dibakar di pemanggangan.terbuat dari daging Sapi (lembu). Seratnya agak kasar jika dibanding dengan sate Padang. Sapi yang digunakan merupakan sapi piaraan namun tanpa kandang, yang menyebabkan otot sapi lebih terbentuk dibanding sapi piaraan di kandang. Namun rasanya maknyus!
Daging sapi dipotong kecil-kecil diungkep dengan bumbu ketumbar, bawang putih, jahe, kunyit dan garam terlebih dahulu, kemudian baru setelah itu ditusuk dan dibakar di arang. Rasa manis mendominasi, bahkan tanpa sandingan, sate Matang tetap enak dikudap.
Sate Matang dimakan dengan disiram bumbu kacang (piring tengah) dengan remahan kacang berukuran kasar. Rasa bumbu kacang relatif sama dengan bumbu kacang di Jawa, meski tidak terlalu banyak menggunakan gula Jawa atau gula kelapa.

Yang menarik, nasi yang menemani sate Matang juga disajikan dengan kuah kari kambing (piring paling kanan). Ternyata aselinya adalah kaldu kambing, namun ditaburi daun bawang dan agak kental sehingga mirip kari😀

Kari ini menggunakan rempah seperti kapulaga, bunga lawang, cengkeh,kayu manis dan merica. Sangat cocok dinikmati di tengah malam.
Anda harus mencoba, di warung aselinya, di Matang!

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on April 16, 2015, in kisah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: