Tentang Rasa


Tentang Rasa

Tentang Rasa

Suatu pagi setelah subuh, saya dan istri hanya goleran di tempat tidur. Ya, suatu pagi setelah saya menjalani pekerjaan yang cukup panjang di Sumatera.

Kami berbicara banyak, panjang dan lebar, kesana kemari, saling bercerita apapun itu. Anggap saja saat itu, saya mengganti beberapa hari pillow talk yang tidak saya lakukan. Yup, kadang saya melakukan pillow talk, meski tidak rutin. Sampai kemudian cerita si tercintah bergerak ke temannya yang hendak menikah dan kebetulan minta tolong untuk menjadi mak comblang.
Lalu dimulailah prosesnya, bla bla bla dan sebagainya. Hingga kemudian si tercintah terdiam. Saya masih antusias menunggu ceritanya. Tetiba dia menoleh ke saya dan bertanya:

“Jadi ingat dulu kita menikah, dengan segala perasaan dan kehebohan jaman itu. Penasaran, apakah rasa itu masih sama?”
Saya diam, memandang dalam ke matanya. Sial! Jerit dalam hati. Saya bahkan tidak bisa berpikir untuk menjawab.

Masih kata si tercintah, “Setahun pertama menikah, seingatnya sering banget ngirim puisi”. Setahun pertama memang kami terpisah kota, saya di Papua sementara si tercintah masih menyelesaikan kuliahnya. “Kayaknya sejak si abang lahir mulai jarang deh“, sambil tersenyum.
Lha sayanya ikut tesenyum sambil mikir, benar kah? “Ah, perhatian kok. Kan beberapa kali beliin bunga pas ulang tahun”, ngeles saya. “Iya ya” sambung si tercintah sambil mikir juga.

Tapi saya merasa tidak menjawab pertanyaan pertamanya, apakah rasa itu masih sama?

Entah kecerdasan dari mana, lalu saya bercerita pola psikologi lelaki dan perempuan, seingat yang saya baca dari artikelnya pak Cah, seorang konsultan keluarga dari Jogja. Intinya, manifestasi perasaan dan cinta seorang suami atau ayah berubah dari verbal menjadi sebentuk tanggung jawab, yang menggerakkan seluruh raga untuk mencari nafkah, dan jarang berbentuk verbal seperti ungkapan perasaan dan lainnya.
Sementara wanita, di usia berapapun akan selalu mengharapkan ungkapan verbal dari lelakinya, tidak berhenti pada tanggung jawab (saja). Disini saya memahami men from mars and women from venus, memang desain dan jeroannya beda, untuk saling melengkapi.

Si tercintah hanya diam, lalu mengiyakan.
“Iya, tahu kok”, sambil tersenyum. “Cuma mau nanya doang, semoga rasa itu tetap sama, sampai kapan pun, di antara kita”, sambil tersenyum.

Saya? Hanya bisa tersenyum🙂

—————————————————-
Menulis ini di Kalimantan, dini hari, sambil streaming lagunya Astrid, ‘Tentang Rasa’
………………
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
………………

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on April 9, 2015, in keluarga and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Baru denger kata2, mens from mars and women from venus… , maknanya gimana bang? *biar gak salah tafsiran😀

    Tanggung jawab adalah cara lelaki berkata… sepakat…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: