Temani Anakmu!


Jum’at malam, entah bagaimana ceritanya, saya menemukan quote ini di internet, lalu saya tuliskan di akun twitter saya.

“any man can be a father, it takes someone special to be a dad”‎

Dan sesaat saya termenung, saya ingat ada kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak.‎ Dan saya juga ingat satu kasus yang ditangani istri saya juga, masih terkait anak-anak.

Yang pertama,
Seorang anak ‘dicap’ oleh orang tua murid lainnya sebagai nakal dan hiperaktif. Anak ini lebih sering menjegal kaki temannya, menginjak punggung pada saat temannya tengkurap mengerjakan tugas. Dan titik kulminasi adalah menusuk leher temannya.
Saat ini anak tersebut sedang didampingi guru shadow, selama proses pembelajarannya. Justru yang menyedihkan adalah orang tuanya. Ibu si anak ini sangat defensif dan menyangkal perbuatan anaknya. Dan menariknya, saat orang tuanya dipanggil, selalu yang hadir ibunya, ayahnya? Nope, tidak pernah muncul.
Dari salah satu guru kelasnya, ada perilaku spontan orang tua yang ‘tertangkap’ di sekolah.‎ Pada saat pembagian raport bayangan, pada sesi si anak dan ibunya, si ibunya otomatis menyentil telinga si anak ini pada saat diberitahu betapa nakalnya si anak di kelas. Sentilan ini di depan gurunya, lalu apa yang dilakukan orang tuanya di rumahnya?

Yang kedua,
‎Anak yang berbeda, selalu ramai di kelas, mengganggu teman-temannya. Tidak dalam bentuk kekerasan seperti anak pertama, namun selalu mengajak ngobrol, merebut buku temannya lalu menggambar disitu. Selalu berkhayal menjadi pangeran jahat dan sering berkata “aku akan balas dendam ke putri cantik”.
Anak ini mengajak pura-pura berkelahi ala manusia harimau dan selalu menjadi pihak yang jahat. Nerocos apapun yang muncul di pikirannya, dan semuanya adalah dialog sinetron semacam manusia harimau.‎
Saat orang tuanya dipanggil ke sekolah, yang muncul adalah neneknya. Ayahnya sedang berobat di Bogor, ibunya selalu pulang larut malam setelah bekerja, si anak bersama kakek neneknya sepanjang hari.‎

Apa yang saya pelajari?
Saya menduga, anak pertama mengalami kekerasan di rumahnya. Pelampiasan kemarahan dan kekesalannya melakukan kekerasan ke teman-temannya.‎ Tindakan otomatis ibunya cukup mengkonfirmasi hal itu.
Kenapa orang tuanya melakukan kekerasan ke anak? Orang tua tidak pernah menyediakan cukup waktu untuk mendengar, dan memandang anak sebagai objek dengan cara pandang orang dewasa.‎
Saya juga menduga, anak kedua tidak mendapat cukup perhatian di rumahnya. Temannya hanya TV sepanjang hari, maka tidak heran dialog TV begitu lancar. Juga imajinasinya sangat TV sekali.‎

Apa kesimpulannya?
Temani anakmu! Sudah itu saja, bye!‎

Posted from WordPress for Windows Phone

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Februari 21, 2015, in keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: