Saya, Ayah yang Galau


Ini masih tentang saya sebagai ayah. Masih nyambung dengan tulisan saya sebelumnya di ‎http://bit.ly/1B3ko2E.

Jadi kurang lebih sepekan sejak tulisan saya upload, hari ini, Sabt, saya ikut seminar persiapan orang tua menghadapi masa remaja, yang diselenggarakan perkumpulan orang tua di sekolah abang.
As usual, tidak banyak mahluk bapak-bapak yang hadir, bisa dihitung dengan jari bahkan! Padahal konteks seminar membutuhkan keterlibatan bapak dan ibu, tidak bisa salah satu saja.

Diawali dengan statistik yang heboh, anak kelas 4-6 SD sudah kenal pornografi dan seks. Ini uedyan! Dan beberapa berita menunjukkan kekerasan seksual. Dan juga terbahas anak SMP yang bunuh diri di lemari, bahkan sepekan sebelum bunuh diri sempat konseling dengan pembicara. Jadi memang tahu persis apa yang terjadi.
Beliau memberikan klarifikasi juga atas broadcast yang beredar. Sama seperti bridging teman saya pada tulisan saya sebelumnya, manga dan musik itu hanya mendorong dan seolah ‘melegalkan’, namun masalah mendasarnya pada orang tua.

Setelah mengikuti seminar, saya menyimpulkan memang pusat masalah diawali oleh orang tua. Anak tidak pernah salah, karena anak hanya memberikan reaksi dan refleksi dari orang tua. Itu!
Celakanya, tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua dan tidak banyak yang mau belajar menjadi orang tua yang baik. Hanya mau enaknya saja pas bikin anak😀

Kuncinya sederhana, kebersamaan bersama anak dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Ini harus! Bagaimana anda tahu anak anda sudah pernah ciuman, padahal masih kelas 4 SD? Tanpa pernah bertanya, ngobrol, menjadi sahabat anak, it is a mission impossible.

Lalu, saya praktikkan pada sore harinya.
Benernya, sore hari Sabtu, saya ada janji kopdar untuk HSE se-Bekasi Raya di Cikarang. Saya batalkan, karena saya ingin menemani dan bermain dengan si kakak yang ulang tahun hari ini.
Kami hanya makan es krim di resto kenalan saya di bilangan Jatiasih, masih di resto yang sama kami main basket, ayunan, ping pong, apapun mainan dan alat olah raga yang ada, saya mainkan dengan kakak.
Saya tahu, kehadiran saya sebagai ayah akan sangat berarti bagi saya dan kakak. Hanya es krim dan ayunan, itu saja. Sangat sederhana.

Maka saya selalu berusaha menolak agenda yang ngabisin waktu di Sabtu dan Ahad, karena saya ingin ada untuk anak-anak.
Saya hanya ingin anak-anak ngobrol dengan saya tentang apapun, sebelum mereka curhat ke orang lain.

Karena saya ayah mereka, sahabat mereka :)‎

Posted from WordPress for Windows Phone

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Januari 24, 2015, in keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: