Catatan Hati Seorang Ayah


Ahad pagi, saya tersentil dengan diskusi di grup WA alumni SMP. Masih tentang anak-baru-remaja yang meninggal bunuh diri entah di Jakarta atau Bandung. Meski broadcast-nya bias, antara penyebab depresinya adalah manga atau broken home perceraian orang tuanya, tapi tetap saja ada hal yang bisa diambil pelajaran.
Salah satu teman memberikan ‘bridging’, jembatan, yang baik. Manga akan menjadi semacam legalisasi bahwa bunuh diri adalah baik dan damai, namun bottom line-nya adalah perhatian orang tua pada anak.
Diskusi ramai, mengingat ada salah satu anggota grup masih single dan available, sampai tulisan ini ditulis 😁

Saya sempet menulis, memberikan refleksi, karena ini pengalaman pribadi saya.

Dulu, sekitar 2 bulanan anak pertama lahir, saya masih di Papua dan keluarga, atas sebuah situasi, terbang ke Bekasi. Jadi saya, istri dan anak pertama terpisah hampir 4 bulan. Dan apa yang terjadi? Pas field break, semacam cuti, saya pulang ke Bekasi, seperti biasa istri menggendong anak menyambut di teras rumah. Tapi anak pertama saya sama sekali tidak bereaksi dengan kedatangan bapaknya. Butuh waktu hingga 6 jam (kurang lebih) untuk anak saya mengingat dan tahu bapaknya pulang.
Sakitnya tuh disini 😁

Itu baru 4 bulan, jika direpetisi bertahun-tahun, ya monggo dibayangkan. Itu kejadian pada anak usia 6 bulan, bagaimana ke anak usia 15 tahun?
Sejak saat itu, poin yang menjadi syarat dan ketentuan jika dibajak dan membajakkan diri ke perusahaan lain, adalah keluarga harus bisa dibawa.

Maka saya tidak heran jika keluarga yang rumahnya menjadi terminal, akan sangat rapuh kondisi psikologi anggota keluarganya. Ya terminal, tempat singgah para anggota keluarganya hanya sekedar tidur, makan, mandi, tidak lebih.

Sekarang, anak pertama saya menjelang SMP, sudah mulai main PS dengan teman-temannya, janjian di mall meski diantar orang tuanya masing-masing, belajar taekwondo dan futsal karena temannya begitu, sebentar lagi SMP, menjelang remaja.
Jadi berasa tuwir begini 😃
Tapi bagi saya, masa-masa mencemaskan itu menjelang hadir. Ada sisi di saya yang masih menganggap abang masih anak lelaki kecil. Tapi kenyataannya si abang beranjak besar menjelang remaja.

Lalu saya ingat, seseorang pernah mengatakan pada saya, anakmu adalah anak jamannya. Didik dia dengan akhlak dan kebenaran, bukan dengan pelajaranmu di masa lalu. Karena akhlak dan kebenaran akan selalu abadi.
Jaman saya kecil tidak ada internet, sekarang? Bahkan saya deg-degan jika si abang pergi ke warnet dengan temannya 😁
Namun tidak kemudian melarang total, karena mantemannya juga akan berbicara clash of clan, The Hobbit, legoland, iPad, dan lainnya. Jadi memang membangun karakter lebih penting, maka pada masa seperti apapun, si abang akan lebih siap.

Seperti kata Ziauddin Yousafzai, ayah dari Malala, “I don’t clip her wings”.
Sepaket dengan tidak mengekang kebebasan untuk belajar, membekali dengan akhlak, aqidah, tauhid menjadi tugas utama seorang ayah.
Sangat tidak relevan, pembelajaran dan perhatian hanya dibebankan ke sekolah, sama sekali tidak. Pun hanya diberikan kewajiban ini kepada ibu, sama sekali tidak. Karena ayah dan ibu hanyalah 2 sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan.

Kenapa saya menulis ini?
Karena saya seorang ayah 😊

Posted from WordPress for Windows Phone

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Januari 18, 2015, in keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: