The Ring


Ini bukan judul film, saya cuma akan menulis tentang cincin. Terinspirasi mengikuti prosesi akad nikah anaknya bibi tadi pagi. Saya menjadi saksi, jadi lumayan detail tahunya.

Pada postingan https://ihdaihda.wordpress.com/2013/04/21/bahagia-merayakan-10-tahun-cinta/ , saat itu memang tidak membawa cincin. Karena memang tidak terencana, walhasil cincin ibu saya disematkan ke calon istri saya, waktu itu. Kegedean pastinya🙂

Lalu pada suatu masa di awal 2003, saya sedang field break, ngeberesin pernak pernik nikah. Dan tibalah saatnya membelikan mahar nikah berupa cincin emas, dan beberapa seserahan lain semacam baju dan lainnya.
Masih di mal Pondok Gede, di toko emas, si tercintah (nyebut begini setelah menikah🙂 ) memilih sendiri cincin yang dia suka. Saya cuma bayarin, saya bawa untuk nanti diberikan pada saat nikah. Lho, saya jalan berdua sama calon istri? Oh tidak, benernya saya cuma ngikut dan mbayarin, mengingat saya tidak paham Jakarta-Bekasi. Ada bibi (yang tadi pagi anaknya menikah) calon istri yang menemani dan mengatur perjalanan dan bebelian apa saja yang harus dikerjakan hari itu.

April 2003 jam 8:00, akad nikah dimulai. Selesai akad nikah, cincin yang sudah dipilih sebelumnya saya sematkan ke jari manis istri. Kan sudah sah, halal, dijamin serbaguna dan tahan lama😀
Itu cincin saya untuk istri saya, sebagai mahar pernikahan kami. Cincin itu masih ada sampai sekarang, terukir nama kami disisi dalam cincin.

Sedikit melompat pada 2014, 11 tahun kemudian, sekarang.
Menjelang dini hari, saya terbangun. Istri saya masih tidur dengan dede Uqi. Perlahan, meninggalkan tempat tidur mengambil sebentuk jewel box yang berisi cincin. Beberapa hari sebelumnya, saya membeli cincin dari online shop. Disimpan erat untuk sebuah kejutan.

Perlahan, saya bangunkan istri dengan kecupan kecil di dahi. Sedikit riyip-riyip, istri mulai terbangun sambil heran.
Saya bisikkan, “met milad sayang, ini untukmu”.
Istri membuka jewel box, dan tanpa kata berekspresi kaget.
“Terima kasih sayang. Mmmm, mo ngomong apa ya…”
Masih antara ngantuk, kaget, senang. Saya sematkan cincin di jarinya, persis saat menikah dulu. Istri saya memeluk erat, masih dengan muka kaget🙂

Saya tahu, istri saya tidak begitu ‘ngeh’ dengan perhiasan. Cincinnya yang mahar nikah saja jarang dipakai, dan cincin milad ini juga pasti jarang dipakai🙂 Tapi bukan itu poinnya.
Kejutan, hadiah, perhatian, are much more awsome daripada kilau cincin. Di usia kami yang tidak terpaut jauh, cuma hitungan bulan, kami berusaha menjadi sepasang sahabat ‘halal’, yang easy going.

Ini view saya sebagai suami, pejantan tangguh, pacarnya istri, sahabat terbaik untuk istri🙂 Maka untuk suami hebat, berilah kejutan dan nikmati jutaan kejutan dari istri😉
Jangan tanya tips atau relationship advise dari saya. Saya kenal beberapa expert yang jauh lebih hebat, karena saya hanya seorang murid.

Posted from WordPress for Windows Phone

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 12, 2014, in keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: