Statusisasi Kompensasi


uang

uang

Saya checkin di airport checkin counter jam 20:10 WITA untuk penerbangan jam 21:25 WITA, saat saya menerima pemberitahuan jika pesawat saya akan mengalami keterlambatan.
Perkiraan dari petugas maskapai penerbangan, akan berangkat jam 23:00 WITA, itupun masih perkiraan. Jadi saya harus ngetem di bandara di salah satu kota di Kalimantan sekitar 3 jam.
Kecewa? Pasti. Bengong? Iya. Lihat baterai handset yang indikatornya sudah kuning.
Setelah nemu coffee shop, yang bisa nyolok charger, akhirnya bisa duduk dan nyruput kopi. Tapi saat saya nulis postingan ini, saya sudah ‘diusir’ karena hendak tutup. Jadi nasib lah duduk di kursi penantian di bandara.

Beberapa teman saya berkomentar, ada kompensasi snack, makanan untuk keterlambatan itu.
Lha bagi saya bukan masalah kompensasinya sih. Wong ngetem di coffee shop saja, saya bisa nyruput kopi dan espresso muffin, gratis kok. Waktu, kelelahan, tidak bisa dikompensasi dengan nasi goreng atau sekotak snack.

Banyak hal di dunia ini tidak bisa dikompensasikan dengan materi apalagi snack🙂
Saya ingat pada pembicaraan saya dengan salah dua dari teman sewaktu saya di Kalimantan Timur. Apa yang membuat saya bisa cukup lama di perusahaan saya sekarang? Tanya salah satu teman saya itu.
Ini jawabannya tidak mudah, pun tidak bisa exact karena ini dan itu.

Saya hanya menjawab, saya punya kesempatan untuk belajar, bereksperimen, menemukan gaya saya tanpa orang lain membatasi. Dan such kind of luxury, tidak bisa dikompensasikan.
Salah lain teman saya, menimpali; I know that feeling, sambil tertawa ringan.
Ya, ini salah satu, bagi saya, yang tidak bisa dikompensasikan. Bukan tidak ada yang berusaha membajak saya atau saya membajakkan diri🙂 tapi saya nyaman dengan segala kesempatan pembelajaran dan eksperimentasi itu.

Barusan, sebelum ke bandara, saya sempatkan bertemu kawan lama saya dulu di pulau Lombok. Dia akan menikah besok. Maka saya sempatkan untuk bertemu, just say hello, dan ngobrol ndak jelas begitu😀
Sambil makan, sambil nanya; ntu calon ketemu dimana? Bisa-bisanya nyanthol ke teman kantor trus nikah?🙂
Ya begitulah, jawab dia sambil tersenyum. Dia bercerita, awal kenal karena 1 kantor, biasa saja yang menjadi cinta yang luar biasa. Love has its own logic, katanya. So is the life, timpal saya.

Dalam bahasan cinta, tidak ada cerita kompensasi. Cinta hanya mengenal kata memberi, karena cinta adalah kata kerja. Maka cinta bagian dari sesuatu yang tidak terkompensasi, seperti waktu, kebahagian, dan lainnya.
Tidak semua hal akan dikompensasikan, apalagi dikompensasi dengan materi.

Tapi, ngomong-ngomong, petugas maskapai-nya sudah ngeluarin kotak makanan sebagai kompensasi keterlambatan.
Tapi saya keukeuh tidak ngambil, wong kenyang nyruput kopi🙂
Dan pada akhirnya, saya mengkompensasi waktu nganggur saya dengan menulis postingan ini. Semoga tidak menjadi statusisasi yang mengkudeta kemakmuran hati.

Salam Jebred!

Posted from WordPress for BlackBerry

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on September 27, 2013, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: