Lagi, Tentang Melawan Arus


Melawan Arus

Melawan Arus

Lagi, saya ketemu analogi yang sangat baik untuk kita belajar memposisikan diri dalam sebuah peristiwa.
Saya tidak bicara konteksnya, anggap saja saya adalah pemirsa TV seperti cerita ini.

Penjelasan analogis ‘The Map is Not The Territory’ sebagai berikut;

Seorang kakek sedang mengendarai mobilnya, ketika ponselnya berbunyi.
Saat diangkat, terdengar suara nenek dengan nada panik: “Kamu ada dimana?”
“Di jalan Sudirman,” jawab kakek tenang.
“Hati-hati ya, aku barusan lihat berita di TV, ada satu mobil nekad melawan arus di Sudirman. Kayaknya orang gila!”, lanjut si nenek.

Sang kakek menjawab dengan agak gusar: “Satu mobil? Ini di depanku ada ratusan mobil yang melawan arus!”

Pertanyaan saya: apakah anda adalah sang kakek? Atau pengguna jalan selain sang kakek di jalan Sudirman? Atau sang nenek?

Pertanyaan ini relevan, mengingat bahwa dalam suatu situasi anda perlu memberikan sikap.
Masih ingat posting saya di Teriakan Babi? Coba di-link ini: http://bit.ly/yhZqYc Pada postingan itu, saya, anda adalah sang kakek atau pengguna jalan lain di jalan Sudirman itu🙂

Bisa jadi, jika saya atau anda adalah sang kakek, kita tidak pernah merasa salah atas perilaku yang kita perbuat, karena view atau pandangan kita sesempit mata kita memandang. Persis seperti pengemudi yang diteriaki babi oleh supir truk.
Maka, renungkanlah, mengapa kita diteriaki, mengapa kita dikritik, mengapa kita dianggap salah. Ya, dianggap salah. Benar atau salah, itu belakangan bahasannya.

Atau coba baca postingan saya yang Teriakan Supir, di-link ini: http://bit.ly/10RTE4v Mari kita membacanya dengan menempatkan dalam sebuah konteks.
Jika kita tidak belajar secara arif menyikapi, bisa jadi, saya atau anda, kita, adalah penumpang bus yang berkomentar, karena asbun asal bunyi, asal njeplak dalam bahasa saya🙂

Padahal kita juga harus melihat dalam konteks, memahami situasi secara luas tidak parsial.
Maka, jika kita bisa menempatkan seperti sang nenek yang membaca situasi lebih utuh akan terlihat siapa yang melawan arus lalu lintas.
Maka renungkanlah, untuk apa saya, anda, kita mendapat sebuah ujian, bahkan ujian masuk sekolah/kampus, ujian kenaikan kelas atau semesteran. Lihatlah dalam perspektif yang lebih luas.

Bahkan Tuhan berkata dalam kitabNya, keinginan untuk berubah itu harus dari manusia. Pun dengan jaminan, bahwa ujian itu sesuai dengan kapasitas manusia.

Jadi?🙂
Mari berbaik sangka kepada Tuhan yang mengkaruniakan kehidupan🙂

Posted from WordPress for BlackBerry

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on September 1, 2013, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Postingan yang ringan dan renyah Pak Ihda. SEO friendly lagi, he he…salam kenal

  2. Justru saya musti belajar🙂
    Praktisi K3, blog-nya terisi apapun yang mengalir di kepala, selain K3😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: