Joni, The Kwetiaw-Man


Koki

Koki

Hari terakhir penutupan sesi 2 SHEMDP, Jum’at kemarin, saya bercerita kisah Joni The Kwetiaw-Man. Kisah ini pertama kali saya dengarkan dari radio LiteFM pada saat menuju kantor.
Tanpa mengurangi rasa hormat, jika ada kesamaan apapun, aseli tidak disengaja.

Alkisah, Joni adalah koki andalan pada suatu warung kwetiaw. Kehandalannya dalam meracik bumbu dan memasak kwetiaw membuat warung benar-benar ramai dan membesar, hingga berkembang seukuran restoran menengah.
Joni bekerja pada pemilik warung yang menjadi restoran ini sudah bertahun-tahun. Hingga suatu saat Joni mulai berpikir.

Joni melihat pemilik restoran lebih banyak waktu untuk keluarga dibanding dirinya. Pemilik punya lebih banyak uang daripada gajinya. Pemilik lebih bisa bersantai daripada dirinya.
Pada akhirnya Joni memutuskan berhenti dari jabatan koki, dan memulai usahanya sendiri, warung kwetiaw, juga.

Joni membangun bisnisnya dari nol, dari Joni sendirian yang meracik, memasak, menyajikan kwetiaw. Kepiawaiannya dalam meracik bumbu dan memasak kwetiaw mulai membesarkan warungnya. Mulai Joni mengambil karyawan, dan warung membesar.
Joni tetap meracik bumbu, tetap memasak, tetap menyajikan kwetiaw. Sambil dibantu karyawannya.

Ada perubahan pada uang yang dikelola dan diterima Joni, tentunya lebih besar daripada saat Joni jadi koki. Namun pada suatu titik, Joni merasa ada yang salah. Ia mulai membandingkan dengan restoran tempat ia bekerja dulu.

Si pemilik restoran dulu punya waktu lebih, tapi sekarang Joni tidak, meski ia pemilik warung. Ada yang salah!
Saat karyawan Joni mulai istirahat, karena pengunjung sudah terlayani, Joni tetap memasak menyiapkan. Ada yang salah! Demikian seterusnya Joni berpikir keras.

Sampai disitu kisah yang saya ceritakan pada peserta SHEMDP. Saya memang tidak bercerita detail sampai akhir kisah🙂

Saya katakan pada teman-teman SHEMDP, bekerja tidak pernah bisa sendirian, demikian juga hidup dan mengelola kehidupan. Saya ingat copywriter iklan, without bridge we all are island.

Kita, manusia, akan menjadi pulau-pulau terpisah, tanpa komunikasi, relasi dan kerja sama.
Komunikasi, relasi dan kerja sama itulah yang menjadi jembatan, sehingga setiap kita menjadi terhubung. Menjadi sebuah kesatuan.

Jadi, empowering others, networking, coaching, adalah kompetensi penting bagi SHE personnel dalam mengerjakan tugasnya. Lebih dari pekerjaan, kompetensi itu pula yang menjadikan hidup kita berwarna.

“Saya, saya katakan ke peserta, tidak bisa membiarkan kalian terjebak seperti halnya Joni. Saya tidak mau kalian menjadi the-next Joni The Kwetiaw-Man. Jangan pernah…..”

Posted from WordPress for BlackBerry

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Mei 4, 2013, in kisah, pencerahan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: