Bahagia Merayakan 10 Tahun Cinta


Bahagia

Bahagia

Yup, beberapa hari yang lalu, saya merayakan cinta kami di 10 tahun. Lho, kok 10 tahun cintanya? Saya menikah baru 10 tahun, di 10 tahun itulah cinta kami berkembang, tidak pernah kekurangan tempat untuk tumbuh dalam kalbu dan jiwa.

Saya bertemu istri saya di Ramadhan akhir 2002, tepatnya dikenalkan oleh teman saya di Jakarta. Dan karena niat kami untuk menikah nyambi pacaran, jadi tidak banyak a-i-u-e-o dalam perkenalan kami. Hari Kamis bertemu untuk pertama kali dengan istri saya, hari Sabtu sore nekad ke rumahnya, di Bekasi, untuk ketemu keluarganya.

Saya sampaikan niat saya untuk berumah tangga. Saya terbuka, bercerita latar keluarga saya, pekerjaan saya sampai gaji saya. Kalo ditolak ya Alhamdulillah, yang ternyata tidak ditolak🙂

Saya kemudian pulang kampung di Jawa Tengah dan bercerita tentang niatan saya. Alm Bapak dan ibu saya, agak kaget. Saya sering diskusi tentang pernikahan dengan orang tua saya, sejak saya bekerja di Papua. Tapi beliau tidak menyangka akan secepat itu.

Di keluarga besar saya, rekor menikah di usia 24 tahun, baru saya. Jadi wajar jika banyak yang terkejut. Saya meyakinkan keluarga besar, termasuk juga dalam hal biaya hidup, kuliah adik saya, dan lainnya. Saya yakin, hitungan kertas saya masih on-track meski menikah. Namun juga yakin Allah yang akan meng-kaya-kan saya dan istri saya.

Khitbah saya di awal 2003 lucu, tiba-tiba salah satu keluarga besar istri minta semacam pengikat, yang saya dan orang tua saya tidak bersiap untuk itu. Akhirnya, cincin ibu saya disematkan ke jari manis calon istri saya, waktu itu. Belakangan, setelah menikah, saya baru tahu jika keluarga istri saya juga panik pada saat pamannya tiba-tiba mengusulkan pengikat, padahal tidak ada dalam rencana. Begitulah🙂

Eng ing eng, acara aqd nikah, khutbah nikah, walimatul ‘ursy (resespsi) digelar. Pernikahan itu berjarak 3,5 bulan sejak saya bertemu istri saya. Dan istri saya juga sedang menyelesaikan skripsinya di PTN di Bogor, jadi saya menikah dengan mahasiswi🙂

Waktu itu, saya pas field break 2 pekan dan mengikuti pelatihan 2 pekan, jadi sekitar sebulan lah di Jakarta-Bekasi untuk menikah. Dan sebulan itu, selain berstatus suami juga menjadi tukang ketik skripsi.
Juga 2 hari setelah menikah, saya mengajak istri saya ke kampung saya selama 3 hari. Aseli, saya dimarahi mbah saya, ndak bener habis nikah langsung bepergian. Tapi juga mbah saya akhirnya luluh, setelah dikenalkan dengan istri saya🙂

Sebulan berlalu, saya kembali ke Papua dan istri saya masih menyelesaikan skripsinya. Pada saat saya field break, saya jadi tukang ketik, jadi ojek pribadi di Bogor dan Bekasi.

Sekarang usia pernikahan kami baru berjalan 10 tahun, masih baru, masih pengantin baru.

10 tahun dengan riak rumah tangga, 10 tahun dalam indahnya cinta, 10 tahun lengkap dengan 4 putra.
10 tahun membina ruh-ruh baru perubahan Indonesia.

Doakan kami untuk menjalani 10 tahun, bahkan 1000 tahun berikutnya, dengan cinta🙂

Seperti Christina Perri,
….And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I’ll love you for a thousand more….

Saya dan Istri

Saya dan Istri

Posted from WordPress for BlackBerry

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on April 21, 2013, in keluarga, kisah and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: