The Attitude of I


Suatu saat saya berkelana diantara situs-situs, mencari pencerahan dan pengetahuan baru, saat saya ingat model sharpening the sawnya pak Steve Covey. Dan saya menemukan insight tentang cara saya bersikap dan berefleksi bagaimana saya memimpin tim saya.

Dalam sebuah artikel, yang saya lupa dimana bacanya, ketemu analogi yang pas dari beberapa binatang yang menjadi refleksi model saya melakukan coaching pada tim saya. Pertama mari kita lihat burung Hering Berjanggut atau berbahasa Inggris Bearded Vulture yang bernama latin Gypaetus barbatus. Burung yang juga dikenal sebagai Lammergeier atau Lammergeyer adalah burung pemangsa, hidup di tebing, pegunungan batu, cadas, dan pemakan bangkai, tulang dan sumsum tulang dari bangkai.

Gypaetus barbatus

Gypaetus barbatus

Cara si Lammergeyer dalam memakan sumsum tulang sangat unik, burung ini mampu terbang dengan membawa tulang dengan diameter 10cm dengan berat kurang lebih 4kg, dengan ketinggian 50-150m dan menjatuhkan tulangnya pada tebing dengan tujuan memecahkan tulang sehingga dapat dimakan sumsumnya. Cara menjatuhkan dengan terbang di ketinggian tertentu ini membutuhkan akurasi terbang dan akurasi jatuhan yang sangat presisi. Dan proses akurasi ini dilakukan dengan sabar diajarkan oleh indukan Lammergeyer kepada anaknya selama 7 tahun. Ya 7 tahun proses coaching dari indukan ke Lammergeyer muda. Secara ideal, demikianlah seorang pemimpin, atasan dalam melakukan coaching ke anak buahnya, ke pengikutnya, follower, untuk memastikan kemampuan yang secara terstruktur meningkat dan semakin baik dalam memberikan hasil. Namun ternyata tidak semua orang, tidak semua pemimpin punya ketelatenan bak indukan Lammergeyer. Saya? Juga tidak sesabar itu🙂 Mari kta lihat model coaching lainnya.

Sea turtle

Sea turtle

Penyu laut yang masuk dalam superfamily Chelonioidea banyak sekali ditemui di laut Indonesia, dan pantai-pantai di Indonesia untuk bertelur. Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 – 8 tahun sekali. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam. Menariknya, pada saat tukik-tukik ini merayap kembali ke laut, ke tempat hidupnya, tidak seekor pun dari indukannya yang datang untuk menengok apalagi memberi contoh, apalagi menolong dan melindungi dari pemangsa. Dus artinya para tukik ini dibiarkan berjuang sendirian untuk menuju laut dengan bayang-bayang pemangsa yang menunggu di sepanjang pantai dan laut. Dan tipikal orang seperti ini buanyak di kehidupan kita.

Tukik

Tukik

Banyak orang yang membiarkan anak buahnya, pengikutnya, followernya untuk menjalani proses pendewasaan, proses pembelajaran tanpa campur tangan sang pemimpin. Pada timnya, dia, si pemimpin, tidak banyak terlibat dalam proses pengembangan kompetensi. Semuanya berjalan seperti siklus seleksi alam, dimana yang kuat dengan segala kemampuannya bisa bertahan dalam kompetisi. Saya?

Saya masih agak lebih baik dari indukan penyu🙂 Biasanya saya membekali tim saya dengan pengetahuan dan kemampuan yang saya anggap cukup untuk melakukan tugas dan memberikan hasil yang diinginkan. Proses pengembangan kompetensi saya lakukan dengan model minimum requirement. Selanjutnya, saya senang mendorong dan menceburkan tim saya dalam dunia nyata yang kadang-kadang tidak bersahabat. Titik lebih baiknya dari indukan penyu adalah, saya tetap hadir untuk  proses konsultasi, untuk bertanya, meski lewat media sosial model chatting client, twitter dan lainnya. Tapi aseli, saya lebih dekat ke model penyu daripada modelnya si Lammergeyer🙂 Saya tidak sesabar itu🙂

Pertanyaan saya justru bukan pada menggugat kenapa saya bermodel penyu? Kenapa atasan saya bukan tipe Lammergeyer? Sama sekali. Pada sebuah situasi, atasan saya adalah given, saya tidak bisa memilih pemimpin, atasan saya. Justru yang menarik adalah, bagaimana sikap kita jika kita mempunyai model pemimpin, atasan, bos seperti saya atau lebih parah, tidak punya interest pada pengembangan diri anak buahnya? Nah! Saya menemukan istilah yang menarik, dan saya setuju beud dengan itu. Kuncinya justru pada setiap kita, pada saat kita merespon kondisi ini. Ingat, 90% hidup kita adalah tentang bagaimana kita bersikap pada 10% situasi dimana kita berada. Sama kan? Sikap kita jika ketemu dengan pemimpin atau atasan model penyu, akan menentukan bagaimana kita bisa berkembang. Ketika seseorang mengambil sikap ‘The Attitude of You‘, maka semua hal yang terkait kehidupannya akan berpusat pada ‘YOU‘. Ya, ketika dia mempunyai pemimpin, atasan, dia akan selalu bersikap, ‘as my leader, YOU should …….‘ Sebagai atasan, anda harus mengajari saya, anda harus mengurusi saya, anda harus mencontohkan sikap ke saya, anda harus menjadi teladan saya, dan lain sebagainya sikap ‘YOU’ centered. Semua hal ditaruh pada pemimpin atau atasan, sebagai pusat kehidupannya dan menggantungkan harapan pada atasannya. Hanya menariknya, pada saat seseorang bersikap ‘The Attitude of YOU‘, dan kebetulan ketemu dengan pemimpin atau atasan yang model penyu, maka apa iya dia akan menyandarkan karirnya, pengembangannya pada orang yang bahkan mungkin tidak pernah peduli? Ini pertanyaan reflektif bagi anda yang sampai sekarang masih memakai ‘The Attitude of YOU.

Mari kita rubah paradigma kita dalam memandang kehidupan. Pada sisi yang berbeda, saya menemukan juga ‘The Attitude of I‘ yang menggunan ‘I‘ sebagai pusat kehidupannya. Mari kita lihat. Ketika seseorang mendapatkan pemimpin atau atasan model penyu, maka dia tidak akan terlalu bergantung pada pemimpin atau atasannya. Karena dia yakin, tanggung jawab pengembangan dirinya, karirnya berada pada dia sendiri, tidak dari pemimpin atau atasannya. Karena semuanya menggunaakan pola ‘I should ……‘ Saya akan melakukan…. untuk ….. Maka kendali hidupnya ada ditangannya sendiri, tidak di pemimpinnya atau atasannya. Dia sendiri yang menentukan kebutuhan pengembangannya, karirnya akan ada dimana dan sampai apa, tujuan hidupnya dan lainnnya. Pemimpin atau atasannya hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuannya tadi.

Apakah ‘The Attitude of I‘ ini mudah? Tidak! Diperlukan ilmu tingkat tinggi yang namanya sabar, yang belajarnya tiap hari, latihannya tiap saat, ujiannya sering dadakan, dan sekolahnya seumur hidup. Tapi dijamin hasilnya lebih cespleng🙂

Saya menyadari sepenuhnya, jika model saya lebih mirip seperti penyu, yang mungkin tidak ideal. Sebagai bosnya tim, saya secara gradual, merubah paradigma coaching saya kepada tim. Namun saya juga menceritakan model Lammergeyer dan penyu ini untuk memastikan anggota tim saya memilih sikap yang tepat. Saya tetap menginginkan tim saya mengambil ‘The Attitude of I‘, berhubung mereka punya bos yang lebih mirip penyu daripada Lammergeyer, kagak keren beud sih🙂 Seperti selalu saya katakan pada diri saya sendiri, carry your own weather, maka pilihan itu ada pada kita.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Februari 6, 2013, in pencerahan and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: