Kelas Menengah: Anda Termasuk?


Saya tidak begitu yakin akan menulis apa, mengingat sekarang terjebak delay 3 jam dari @IndonesiaGaruda di bandara Cengkareng. Setelah melihat-lihat lounge yang ada, pilihan yang agak nyaman bisa ngetik, ngopi, ngadem, dan nyari colokan jatuh pada kedai kopi. Perlu nyebut merek? OK deh, coffee bean tepatnya. Saya termasuk orang yang tidak begitu suka dengan exposedan keramaian, maka coffee bean menjadi pilihan daripada starbuck. Cenderung karena starbuck lebih terbuka dan ramai, lagian hampir tidak mendapat tempat duduk. Dan tiba-tiba saya ber-tweet-an dengan seorang teman di Surabaya, yang menghentakkan kesadaran saya, jika saya sudah lama tidak nulis di blog saya, terima kasih yak🙂

Biasanya yang menjadi pertimbangan saya untuk mencari tempat duduk adalah colokan listrik, yup colokan listrik. Saya termasuk generasi X setengah Y, yang memang bermain ‘agak intens’ di social media, dan social media butuh gadget, dan gadget butuh listrik. Untuk gadget apapun jika dipakai internetan 3 jam full, dijamin tepar dan butuh listrik. Maka listrik sama pentingnya dengan makanan dan minuman.

Ini sama halnya ketika saya sedang berkendara di tol, terutama tol Cikampek. Rest area yang dikunjungi saya pastikan saya bisa nge-charge gadget saya. Beberapa waktu yang lalu, saya juga akhirnya membeli powerbank, tidak lain dan tidak bukan adalah supaya gadget saya tetap bertahan hidup dan bisa nge-tweet. Tapi saya bisa jamin, saya tidak cukup alay ataupun narsis, meski saya juga menyadari betapa amat tipis perbedaan narsis dan eksis, ciyyus!

Salah seorang sahabat saya di Batuhijau sana, bahkan selalu berkomentar ke saya, bahwa saya tidak bisa hidup jika tidak ada koneksi internet. Well, mungkin, lha dia juga heran dan aneh, hampir ke setiap tempat saya selalu checkin menggunakan foursquare, hampir setiap hari ada tweet yang menghiasi wall facebook dia. Saya hanya tertawa sambil berusaha menelan oatmeal buatan dia dan berharap dia tidak unfriend hanya gara-gara wall facebook-nya penuh dengan cross post dari akun twitter saya. Paman saya di Kebayoran Baru sampai pernah komentar, “jangan-jangan kamu ke kamar tidur pun ditulis di facebook” gara-gara wall facebook-nya juga penuh dengan cross post foursquare saya. Ah, nasib orang keren dan seleb ya begini😀

Saya termasuk kelas menengah yang memang butuh gadget, butuh colokan listrik, butuh eksis dan sedikit narsis dan tentunya kadang sambil nunggu juga nongkrong di coffe bean atau sejenisnya, meski jarang juga sih. Dan saya tidak sendirian, di coffe bean ini, ramai. Usianya relatif pada middle age, usia produktif. Di starbuck? Lebih ramai lagi.

Beberapa pengamat marketing, gejala seperti saya memang terprediksi dalam kebangkitan kelas menengah Indonesia. Kelas menengah ini mulai banyak secara jumlah di Indonesia, meski secara kualitas masih perlu dipastikan. Ya, kelas menengah jika konsumsinya USD3000 per tahun. Dengan tingkat konsumsi segitu, banyak hal yang bisa dilakukan, termasuk dulu internet dan gadget adalah kebutuhan sekunder bahkan tersier, sekarang naik pangkat menjadi kebutuhan primer.

Saya menyaksikan sendiri, pekan kemarin dalam penerbangan Lombok ke Surabaya menggunakan low cost carrier, mayoritas penumpang bukanlah orang kaya atau perkotaan, tapi, maaf, pinggiran kota yang terlihat dari cara berpakaian dan berbahasa. Khasnya lagi adalah etika dalam travelling atau di pesawat masih belum melekat dalam perilakunya. Semacam OKB, Orang Kaya Baru? Mungkin semacam itu. Di bandara Cengkareng, terminal 1 dan 3 yang didominasi low cost carrier penuh sesak. Taksi di Jakarta, hampir semua orang pernah menggunakannya. Pesawat bukanlah sebuah kemewahan untuk kelas menengah Indonesia, saya setuju dengan mas Yuswo yang menyebutnya mass luxury, kemewahan massal.

Jika ada yang ingat di IIMS di Kemayoran beberapa waktu yang lalu, ada dan banyak pembeli sedan mercedes. Bahkan di Jakarta, mercedes sudah bukan lagi mobil mewah, karena kelas menengah Indonesia pun bisa memilikinya. Sekarang definisi barang dan benda mewah perlu ditinjau lagi, mobil mewah di Jakarta adalah ferari dan lamborgini, yang memang hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.

Memang tidak cukup mewakili untuk Indonesia, peta statistik akan berbicara dari ujung miskin sampai kaya tak terhingga, jurang itu sangat lebar. Namun kebangkitan kelas menengah ini adalah bukti yang tidak terbantahkan. Purchasing power (daya beli) negara ini terjaga karena kelas menengah ini. Anda bisa melihat betapa java jazz, jakjazz, north sea festival, bisa laku keras. Hampir setiap bulan ada konser internasional di Jakarta, dan tiketnya habis. Inilah kebangkitan kaum kelas menengah.

Juga fenomena menarik pada pilkada DKI kemarin, kelas menengah adalah kelas yang paling ribut atas performa pemerintahan DKI. Lihatlah di social media, hujatan dan keluhan macet datang dari mereka, meski apda saat yang sama mereka yang menyebabkan macet🙂 Apakah begitu? Lihatlah penjualan mobil avanza dan xenia, mobil sejuta umat ini. Siapa yang membeli, kelas menengah kan?

Namun yang menarik, pada saat hari pencoblosan, juga tidak banyak yang memanfaatkan momentum itu untuk memberikan pilihan yang pas untuk mengatasi macet. Sebagian diantara mereka justru memanfaatkan libur sehari itu di Bandung, Puncak Bogor, Ancol dan lainnya. Lha kemarin nge-tweet macet buat apa yak? Ini bukan sekedar masalah keluhan kelas menengah sebagai pengguna jalan ansih, tapi kebutuhan mereka bersosialisasi di social media, kebutuhan mereka untuk diakui (eksis) di social media, kebutuhan untuk mengikuti arus dan tren. Ya, lihatlah antrian Blackberry Bellagio, atau peluncuran Galaxy Note II, atau iPad 3, ya mereka ini🙂

Maka sekarang, jika mereka mudik ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, yang dicari di rest area adalah colokan listrik, tidak sekedar makanan ansih. Sekarang mereka juga mencari tongkrongan yang ‘prestis’ seperti sevel, coffe eban, jco, dunkin donut, pizza hut. Harga? cincailah, yang penting suasana, wifi gratis, dan prestis tadi.

Menyedihkan? Ya begitulah gambaran kelas menengah Indonesia. Purchasing power atau daya belinya luar biasa, maka barang apapun yang dilempar ke Indonesia, dijamin akan ludes dan laku, apapun mereknya. Ya, apapun mereknya. Saya pernah jalan ke mal yang spesialisasi gadget, dan saya terheran dengan buanyaknya merek gadget dari yang terkenal sampai teraneh. Yang menarik bukan mereknya, tapi modelnya ya kurang lebih lah. Anda nyari yang mirip galaxy note tapi harga 2 jutaan, ada. Yang penting mirip galaxy note, sudah cukup untuk berani nongkrong di jco🙂 It’s all about prestige and trend.

Maka kemudian ada tesis baru, kebangkitan entrepreneur kelas menengah juga. Selain kelas menengah sebagai konsumen dengan daya beli yang luar biasa itu, sebagian mereka menangkap peluang ini sebagai entrepreneur kelas menengah juga, untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah lainnya. Maka produk-produk luar biasa bermunculan di sekitar kita, mulai distro dan factory outlet, culinary, online shop, dan lainnya.

Inilah kelas menengah yang cerdas menangkap peluang di kebangkitan kelas menengah Indonesia. OK, pertanyaannya, anda berada dimana? Di kelas menengah yang mana? Konsumen yang hampir mempunyai unlimited purchasing power atau entrepreneur? Hanya anda dan Tuhan yang tahu jawabnya🙂

*Tulisan ditulis menggunakan laptop, ngetem di coffe bean bandara Cengkareng, akan terbang via Garuda, sambil nge-tweet pake gadget, ngopi, ngemil cheesecake ->kelas menengah banget dah😀

kelas menengah

kelas menengah

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 21, 2012, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ehem pak Ihda🙂 hati2 addicted gadget loh..wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: