Too Big To Fail


TooBigToFail

TooBigToFail


Ini bukanlah pembahasan film Too Big To Fail, yang menyoroti kasus ambruknya sistem finansial di Amerika. Yang itu, di-goggling banyak dan di wikipedia ada 1 page khusus tentang itu.
Namun dalam skala pribadi, masih relevan. Bisa dibawa ke ranah pribadi. Dan yang akan saya tuliskan, kurang lebih seperti itu.

Pada penerbangan Jakarta ke Manado, saya bertemu teman profesi ex-tambang di Papua. Kami banyak ngobrol tentang dunia tambang, dunia safety, dan yang menarik adalah tentang mindset.
Pada pembicaraan ini, saya sudah tweet-kan melalui akun saya di @ihdaihda, dengan memberi tagar #TooBigToFail. Beliau bercerita tentang bagaimana mindset teman-teman beliau, pada waktu itu, yang bangga pada capaiannya.

Dulu, beliau dikelilingi oleh teman-teman yang bangga pada sistem yang baik, penghargaan yang byk, bangga pada korporasi raksasanya. Efeknya adalah teman-teman itu tidak pernah melihat dunia sudah berubah, tidak mau melakukan benchmarking, tidak juga melihat ke korporasi lain.

Meski, sampai sekarang saya menilai belum sampai tahap collapse, tapi beliau menilai sistem tidak dipakai. Beliau cerita program benchmarking.

Program benchmark dibuat oleh beliau, setelah perdebatan yang akhirnya disetujui. 4 perusahaan tambang dan 1 manufaktur menjadi tujuan. Sang bos tidak setuju dengan benchmark ke manufaktur, karena bukan tambang. Beliau menjelaskan, bagaimana manufaktur tadi juga bagus. Yang dilihat di manufaktur bukan pada bisnisnya, tapi pengelolaan sistemnya. Dan tetap sang bos tidak setuju, karena bukan tambang. Mentok!

Teman-teman beliau selalu bangga pada korporasinya, dengan nama besarnya, dengan penghargaannya. Tapi gejala system failure mulai muncul. Beliau komennya sederhana. Saya bangga dengan pendiri korporasi ini, dengan konstruksi infrastruktur. Tapi tidak bangga dengan penghargaan. Pada kenyataannya, kita mendapatkan penghargaan, tapi deviasi berjalan terus. Something wrong, kata beliau. Sayang, tidak didengar sang bos.

Sampai sekarang korporasi ini masih ada, dan memang membesar. Tapi memang ada gejala system failure muncul. Tiba-tiba saya ingat Kodak.

Jaman saya kecil, brand Kodak sangat kuat, semua kamera judulnya Kodak, top of the mind. Penjualan Kodak, top of the market. Kodak sekarang? Barusan Kodak collapse!
The giant finally die! Saya miris jika tambang ini harus berakhir seperti Kodak. Atau bahkan kita!
Kita, individu, bisa collapse seperti Kodak? Bisa! Jika bangga pada penghargaan, tidak mau beradaptasi melihat dunia. Menengok pun tidak!

Ketika tidak beradaptasi dengan perkembangan, belajar ke orang lain, persis seperti katak dalam tempurung. Merasa jago, tapi di tempurung! Dan akhirnya jago tempurung itu akan mati, ya mati! Tidak mampu bersaing. Will you end like Kodak? Itu esensi pembicaraan saya.

Pada akhirnya pembicaraan selama penerbangan Jakarta ke Manado ini bermanfaat selain silaturrahim juga mengingatkan saya untuk tetap belajar.
Kami berpisah di Manado, dan bercakap suatu saat akan kembali bersua dengan cerita yang berbeda🙂

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juni 11, 2012, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: