Musibah Pada Objektifitas Profesi


Sukhoi Superjet 100
Pada beberapa hari terakhir, dalam milis yang saya ikuti sangat dinamis. Terkait dengan insiden Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, memang mengundang spekulasi yang ramai.
Milis ini adalah milis profesi K3L, dibeberapa tempat disebut HSE, SHE, EHS, dan lainnya, pokoknya itu.
Nah berbagai analisa dan pertanyaan muncul dan ramai dalam milis. Mulai pertanyaan sederhana, sampai nada miring baik pada pilot, cabin crew dan sistem transportasi udara di Indonesia pada umumnya.

Bagi saya yang seprofesi dengan kawan-kawan milis, saya sangat memahami bagaimana pertanyaan kritis itu diajukan. Ya, kami terbiasa bertanya sampai 5 tingkat kedalaman🙂 Biasa disebut 5-why technique, hanya sekedar mengetahui apa penyebab mendasar pada sebuah insiden. Bahasa keren di profesi ini, incident investigation, penyelidikan insiden🙂 Sama seperti pekerjaannya KNKT.
Namun kok karena subjek pertanyaan dan objeknya tidak ditempat, saya merasa menjadi sebuah kesia-siaan dalam mengajukan pertanyaan dan bahkan hujatan sekalipun. Lha wong yang ditanyain juga tidak ikut anggota milis, bagaimana bisa menjawab. Bahkan pernyataan yang bernada miring pun juga bermuncul dengan dasar berita yang beredar.

Nah, karena yang bertanya adalah anggota milis yang adalah pelaku profesi K3L, maka saya juga menyayangkan kok ya pertanyaannya tidak didasarkan pada fakta dan/atau bukti. Bukan kah dalam profesi ini diajari untuk mencari fakta bukan opini? Bukan kah dalam profesi ini diajari untuk melihat secara objektif untuk mencari penyebab bukan siapa yang salah? Tiba-tiba saya juga berapologi, milis tetaplah berisi manusia, bahkan profesi K3L pun adalah manusia pelakunya. Safety juga manusia……

Perkembangan terakhir sangat menarik,
Tiba-tiba beredar postingan baik di media sosial seperti bbm, twitter, facebook dan beberapa blog, bahwa telepon genggam wartawan penumpang pesawat tidak dimatikan. Dan kabar ini serentak menjadi pembicaraan, pun dalam milis. Hujatan pasti muncul, ramai menyalahkan sang wartawan. Ditambah postingan di blog Kompasiana, yang meramu dengan berbagai berita lainnya.
Di blog Kompasiana, pada kolom komentar semakin ramai dengan nada miring, pada bagian akhir kolom muncul pelurusan dan komentar balik yang memberikan jawaban ilmiah. Namun postingan itu tetap ada di blog, pun penulisnya tidak muncul lagi.

Sehari kemudian, muncul klarifikasi jam saat telepon genggam tersebut aktif. Yang intinya telepon genggam wartawan tersebut aktif sebelum penerbangan. Dan tidak ada satupun yang secara jantan meminta maaf dari yang pernah mem-posting kabar tersebut.
Not even di milis.

Jadi, dimana letak objektifitas profesi ini? Penilaian memvonis, bahkan dilarang dalam proses penyelidikan insiden. Anda boleh punya praduga, namun simpan itu sebagai praduga yang membutuhkan bukti yang cukup kuat untuk mengatakan praduga itu adalah fakta. Ini yang saya pelajari selama sekian tahun menjalankan profesi K3L ini.
Dalam bahasa hukum disebut ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat atau presumption of innocence atau asas praduga tak bersalah.

Mas dan mbak senior, ajari kami yang junior ini berlaku objektif dalam melihat masalah. Saya kok merasa kredibilitas K3L ditentukan dari objektifitas ini.
Jadi, kembalikan objektifitas profesi ini dalam porsinya. Ada tim ahli KNKT yang akan melakukan penyelidikan insiden. Kabarnya ada subject matter expert dari Sukhoi yang datang. Kabarnya lagi blackbox bisa dibaca di Indonesia. Itu semua masih kabar. Mari ditunggu kebenarannya.
Jangan ada lagi komentar, analisa ngawur dan berita sampah beredar dalam milis, timeline twitter maupun facebook kita.

Yang tidak megang profesi K3L? Sama saja, tetap saja harus bijak.
Tidak kah kita berempati pada keluarga sang wartawan tadi? Ayo, letakkan hatimu dalam sebaik-baik posisi. Selamanya kita akan disetir oleh media dan kemudian berkomentar asal, tanpa melihat fakta, jika tidak pernah cerdas dalam mencerna dan bersikap dewasa.

Dan tiba-tiba setelah sholat Jum’at, muncul candaan yang kelewatan di grup bbm saya, kelewatan menurut saya.
Salak sebesar gunung, tidak akan mengembalikan mereka yang telah pergi. Tidak akan pernah mengobati luka dan menutup kenangan. Dan kita menjadi manusia atas serpihan kenangan-kenangan itu.
Lalu, di musibah mana lagi yang akan kau tertawakan?

Dewasalah, sahabatku…………….
*catatan senja dari profesi K3L, dan saya tidak menyebut sang wartawan sebagai almarhum, sebelum ada kepastian dari otoritas medis, (setidaknya pada saat tulisan ini dibuat 11/05), maaf…..

*K3L = Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan
*SHE = Safety, Health and Environment

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Mei 14, 2012, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: