Bukan Hanya Kartini


Sambil melawan sangkaan infeksi, saya mulai bergerak dari web ke web, membaca linimasa twitter, sesekali beberes laporan audit yang tertunda sekalian memeriksa data statistik 12 bulan.

Ah, hari itu adalah 21 April. Hari yang dinobatkan sebagai hari Kartini di negaraku tercinta.
Beberapa linimasa memang mencerahkan. Saya mulai membuat linimasa sendiri.
Saya terpana dengan ide berani #kartini namun juga dengan perlawanan Cut Nyak Dien, apalagi sekolahnya Rohana Kudus, kepahlawanan Keumalahayati. Dan semuanya adalah Perempuan Indonesia.

Mereka adalah inspirasi, pada masanya, untuk sebuah gerakan perlawanan penjajah. Maka pendapat saya, kooptasi gerakan perempuan hanya pada #kartini adalah kesalahan.
Jika saja kita mau membuka lampiran sejarah kehidupan bangsa ini, sejumlah perempuan perkasa pernah mengisi relung kosong kepahlawanan bangsa.

Jebakan #kartini lebih kuat dari logika, saya mengatakan inilah hasil pendidikan berpuluh tahun yang kita makan. Maka kemunduran jika #kartini diperingati hanya kebaya ansich. Tanpa melihat substansi perjuangan.
Sebuah kelucuan yang miris, jika hari #kartini diperingati dengan kebaya lengkap dengan konde, mungkin, dan itu dipaksakan di ujung sisi pulau Papua.

Kawan, berbesar hatilah, #kartini tidak sendirian dalam gerakan perempuan Indonesia. Indonesia tidak hanya Jawa atau Jepara, banyak yang lain yang hebat.

#kartini hebat dengan idenya yang out of the box, saat itu.
Tapi suatu masa, penguasa Kerajaan Islam Aceh adalah perempuan, Sultanah Safiatuddin. Pemakmur Nanggroe Atjeh Darussalam, yang mampu mengirimkan zakat rakyatnya untuk dibawa ke Timur Tengah. Yang entah kapan akan berulang di negara yang bernama Indonesia.
Safiatuddin pula yang membawa 40 undang-undang tentang perempuan pada parlemen, pada masanya.

Suatu saat, Cornelis De Houtman sang penjajah, dibunuh oleh Keumalahayati dikapalnya. Keumalahayati adalah pemimpin armada kapal perang terbesar dijamannya. Laksamana perempuan kedua di dunia. Tanpa ragu, mengambil celah kepemimpinan dalam melawan kolonialisme mempertahankan bangsanya.
Belum lagi Christina Martha Tiahahu, ada juga Rohana Kudus, Cut Nyak Dien, apatah Emmy Saelan.

Hari #kartini bukan #kartini belaka. Lihatlah jejak-jejak epik kepahlawanan. Semangat pergerakan, perubahan, pembebasan lebih mendominasi daripada flamboyanisme feodal.

Terpenting, semua punya kontribusi dalam caranya, seperti Keumalahayati, #kartini Lalu apa darimu?

Maka, luaskan hati dan pikiran dalam memaknai hari #kartini sebagai gerakan perjuangan. Selalu ada gerakan yang menjadikan kita, bangsa, lebih baik.

Pertanyaannya, dimanakah kau? Atau masih bersuka ria memakai kebaya setahun sekali lalu lupa? Semoga #kartini tidak sedih kau peringati seperti itu.

Lupakan #kartini jika berhenti bahkan memaksa kebaya. Lupakan kesetaraan, jika pemaknaan kesetaraan itu melebihi pemaknaan keadilan.
Apakah kau akan menggugat jika adil itu lebih dekat pada Tuhan? Atau kau taruh Tuhan dikopermu demi kesetaraan yang menyesatkan?
Adil, memberikan porsi terbaik tanpa mengganggu domain original dalam fungsinya.

Kawan, berikan kontribusi terbaikmu, maka entah #kartini atau Cut Nyak Dien bahkan Safiatuddin bisa terefleksi darimu. Renungkanlah.

Selamat hari #kartini Keumalahayati, dan lainnya pejuang perempuan. Mari bersama membangun bangsa yang lebih baik.

pahlawan perempuan
——————————
Dan tulisan ini baru bisa diunggah sekarang setelah berjuang dengan jaringan telko, aplikasi dan layanan yang tidak pernah muncul, maaf….

 

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Mei 5, 2012, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: