Bapak, Saya Bangga Padamu…


Saya baru saja kembali ke sebelah Ibukota dari kampung halaman untuk mudik 3 hari. Lumayan untuk bercerita, berukhuwah dan sungkem ke ibu saya dan adik saya.

Meski tidak cukup perencanaan yang pas, akhirnya pergi dan pulang menggunakan jasa travel. Alasan kepraktisan dan budget lebih mendominasi🙂
Namun lelahnya memang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Berangkat Kamis jam 12 malam, sampai di rumah di Jawa Tengah jam 15 di hari Jum’at adalah perjalanan yang menguras energi. Apalagi membawa 1 batita dan 1 bayi. Yah, begitulah balada pemudik dengan kemacetan di jalan raya.
Pulang Ahad jam 18 sampai rumah di sebelah Ibukota jam 05 pagi, cukup cepat, tapi tetap tidak menghilangkan pegal kaki.

Dalam perjalanan pulang kembali, Ahad kemarin. Masih di awal-awal perjalanan, sang sopir memutar album Ebiet G. Ade. Hingga nafas saya berhenti sesaat pada lagu Titip Rindu Buat Ayah. Sedikit mbrebes mili, saya teringat almarhum bapak saya.
Melirik pada abang yang tertidur pulas dipangkuan saya, saya membayangkan dulu saya pernah seumuran si abang yang baru 2 tahunan, dan tertidur dipangkuan almarhum bapak saya.

Kenangan masa kecil pun berlarian dalam benak saya.
Kami pernah naik vespa, saya, bapak dan ibu, adik saya belum lahir, berkendara ke lereng gunung Muria untuk sekedar piknik gelar tikar.
Kami pernah ke kebun binatang Gembiraloka Jogja, ikut wisata SD ibu saya, yang menjadi guru🙂
Kami pernah ke pantai Kartini Jepara, berkejaran di ombak.
Mestinya lebih banyak lagi, kenangan masa kecil saya bersama almarhum bapak.

Saya pun, memahami kenapa bapak selalu telaten menjaga kami, saya dan adik saya. Pun bapak saya telaten membersihkan muntahan saya jika naik kendaraan roda empat. Ya saya pemabuk darat sejak kecil🙂
Bahkan dokter pun angkat tangan, nanti berhenti sendiri jika sudah besar, kata dokter. Dan memang berhenti jadi pemabuk darat sejak sekolah di Surakarta, di Hiperkes UNS🙂

Saya lebih halus, lebih merasai dalam membelai kepala si abang. Pun saya menjiwai dalam membersihkan muntahan si abang. Semoga pemabuk darat ini bukan penyakit keturunan🙂

Barusan saya juga ngredit rumah, dan merasakan bagaimana muterin uang yang ada.
Saya masih ingat, almarhum bapak menukar vespa bututnya ke motor bebek yang agak trendi di jaman itu. Saya juga merasakan ketatnya keuangan saat itu.
Saya biasanya menabung di sekolah, pada usia SD. Sampai lulus SD, uang tabungan itu saya serahkan ke almarhum bapak, untuk tambahan membeli motor dan modal untuk berdagang.
Umur segitu, saya hanya iya saja saat dibilangin ibu saya jika uang tabungan itu untuk menjadi modal almarhum bapak. Sekarang saya paham tanggung jawab itu.

Saya, saat ini, adalah seorang bapak, seorang suami. Persis seperti almarhum bapak saya.
Saat ini, saya tahu apa yang dirasakan almarhum bapak.

Maka, saya bangga menjadi seorang bapak, seorang ayah, seorang suami. Dan saya bangga pada almarhum bapak saya.

Bapak, saya bangga padamu…

*maaf, saya tidak memuat foto almarhum bapak, nanti saya nulis dan bacanya lebih banjir airmata….

Posted from WordPress for BlackBerry.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on April 9, 2012, in keluarga and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: