Jika Tersesat Berarti Anda Hidup!


Persimpangan jalan

Persimpangan jalan

Kurang lebih baru setahun saya hidup dengan baik dan benar di Jakarta dan sekitarnya. Setelah beberapa tahun sebelumnya di Papua.

Pun, budaya, gaya lalu lintas, kondisi lalu lintas, termasuk jalanannya sama sekali berbeda. Satu hal, saya tidak hafal jalanan Jakarta! Jadi saya menyiapkan mental untuk tersesat. Ya tersesat.

Saya merasa, tersesat sepertinya akan menjadi proses pengenalan saya pada Jakarta. Saya menyiapkan segala ‘perlengkapan tersesat’ seperti bahan bakar yang musti setengah jika sedang jalan ke lokasi yang belum hafal, baterai telepon genggam yang terisi penuh. Tinggal belum memasang layar GPS di mobil.
Dengan demikian saya merasa well-prepared, lebih siap jika tersesat.

Pekan lalu saya salah jalan dan berputar-putar di Mampang Prapatan🙂 Terbukti dengan bahan bakar dan telepon genggam, saya bisa kembali ke jalan yang benar lagi lurus🙂

Saya merefleksikan ketersesatan saya ini dalam pembelajaran kehidupan. Seringkali saya tersesat dalam kehidupan. Seringkali saya tidak membawa bekal yang cukup dalam tersesat di kehidupan.

Masih ingat postingan saya, Buku Petunjuk Penggunaan = Operational Discipline? Jika Buku Petunjuk adalah kitab suci dari Tuhan, bukankah menghindari ‘salah penggunaan’ adalah dengan membacanya?

Nah dalam tataran teknis, menyiapkan bekal yang memadai akan lebih baik dalam menjalani kehidupan.
Bahan bakar? Ya itu adalah semangat, motivasi, cita-cita, impian. Apapun yang menggerakkan kita untuk selalu berusaha, berkarya, bekerja dalam kehidupan.
Telepon genggam? Adalah teman, keluarga, saudara, sahabat, siapapun yang selalu disekeliling kita, dalam kehidupan. Tempat kita berinteraksi, berkarya untuk kemanfaatan, bahkan tempat curhat dan juga tempat bertanya.

Nah, dengan operational discipline yang baik sesuai buku petunjuk penggunaan, bahan bakar yang pas, telepon genggam yang siap sedia, insyaAllah akan berkehidupan yang baik.

Maka, tersesat bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Mungkin tersesat adalah bagian dari pembelajaran kehidupan. Seperti pembelajaran saya memahami jalur-jalur di Jakarta.

Tersesat itu Hidup! Tapi syarat dan ketentuan berlaku🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on April 1, 2012, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Pak, tersesat itu juga menunjukkan kalau kita sudah mempunyai tujuan. Bagaimana mungkin kita bisa bilang tersesat apabila kita tidak punya tujuan dan arah. I mean, kita tersesat dari mana? Iya kan?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: