Buku Petunjuk Penggunaan = Operational Discipline


Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan menggunakan mobil jenis sedan. Tanpa menyebut merek, ternyata sedan itu amat sangat pendek. Maksudnya ground clearance-nya rendah terhadap jalan.

Maklum, sebagai pindahan dari hutan, sedan memang rada-rada jarang. Paling keren double cabin 4×4 yang cukup tinggi ground clearance-nya. Nah, sedan inilah yang membuat saya lebih blingsatan. Setidaknya saya harus menyesuaikan semua feeling dalam mengendarai.

Hanya ternyata saya memang tidak membaca buku petunjuk penggunaan mobil. Sepertinya sih tidak ada di mobil🙂
Yang jelas, pegang kunci langsung tancap gas🙂 Tapi minimal saya beneran nanya dan melihat seberapa tinggi sedan ini terhadap jalan🙂

Nah, beberapa hari kemarin, saya berkesempatan untuk mengendarai mobil dengan transmisi otomatis. Pun saya belajar dan menyesuaikan segala pengetahuan, reflek dan ketrampilan pada transmisi otomatis.

Kali ini di mobil ada buku petunjuk penggunaan, semacam manual operation. Kali ini saya baca. Karena saya merasa butuh membaca untuk memastikan pengetahuan saya tentang mobil bertransmisi otomatis, benar dan sesuai.

Berkaca pada pengalaman ini, seberapa sering anda membaca buku petunjuk penggunaan suatu alat yang pertama kali anda pakai?

Misal membeli TV atau radio, atau telepon genggam, apakah anda akan membaca buku petunjuknya? Apakah anda akan ‘ngoprek’ dulu baru membuka buku petunjuknya? Atau sebaliknya?

Dalam dunia industri, saya menemukan istilah menarik, operational discipline, istilah yang saya temui di Du Pont dan Chevron. Operational discipline tentang bagaimana kedisiplinan dalam mengeksekusi sebuah program, pekerjaan.
Bagaimana disiplin kita dalam memastikan cara kita bekerja sesuai dengan buku petunjuk. Jadi membaca buku petunjuk sebelum menggunakan telepon genggam baru, adalah sebuah operational discipline.

Itu baru telepon genggam, bagaimana dengan mobil bertransmisi otomatis? Bagaimana mengoperasikan moulding press? Mengoperasikan hydraulic shovel? Mengoperasikan pesawat terbang? Memperbaiki alat berat?

Nah, yang lebih asyik adalah postingan di EHS journal, artikel menarik tentang operational discipline.

Pada suatu hari, seorang praktisi K3 duduk bersebelahan dengan pilot yang menjadi penumpang pada penerbangan di Amerika Serikat. Hal yang normal ketika penumpang yang lain sedang naik dan mengatur bagasi kabin, praktisi K3 dan pilot ini ngobrol.
Pada saat pramugari hendak memperagakan cara-cara memasang sabuk pengaman, pelampung dan lainnya, pilot menghentikan obrolannya dan berkata pada praktisi K3, “maaf, saya harus mendengarkan pramugari ini dahulu”.
Sang praktisi K3 ini kaget. Penumpang ini pilot, dia mempunyai jam terbang untuk mengoperasikan pesawat sipil, lalu kenapa harus tekun mendengarkan cara-cara penyelamatan pramugari ini? Sesuatu yang pasti dia dengar dalam menjalankan tugasnya sebagai pilot in command.

Sang pilot memberikan contoh yang hebat. Tindakan pilot ini yang saya sebut operational discipline.

Tidak masalah seberapa anda hebat, seberapa lama jam terbang anda, pada saatnya anda harus melihat ke sebuah prosedur, manual operation, buku petunjuk penggunaan, lakukan. Pada akhirnya kedisiplinan ini yang akan memastikan keselamatan anda.

Bagi anda yang sering terbang, seberapa sering anda memperhatikan petunjuk keselamatan oleh pramugari? Membaca safety card? Sekedar melirik pintu keluar darurat?
Saya? Saya biasanya ‘hanya’ memperhatikan pada saat sesi pelampung. Safety card selalu saya baca. Saya masih berusaha melawan ego saya, berhubung saya merasa hafal cara memasang dan melepas sabuk keselamatan (seatbelt).
Saya tidak cukup operational discipline, ternyata.

Jadi, sudahkah anda membaca buku petunjuk penggunaan hari ini?

Buku Petunjuk Penggunaan

Buku Petunjuk Penggunaan

Posted from WordPress for BlackBerry.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Maret 24, 2012, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: