Karena Kau Bukanlah Gajah Terantai atau Jangkrik dalam Kotak….


Pada suatu saat, saya panjang dan lebar berdiskusi tentang sistem pendidikan kita, tepatnya pendidikan tinggi. Diskusi ini menjadi bagian dari perjalanan saya dan memenuhi undangan dari teman-teman terbaik saya di sebuah universitas.

Saya pernah menjadi mahasiswa, saya pun sudah berkecimpung dalam dunia industri, setidaknya saya melintasi dua dunia ini dan mempunyai pengalaman atas keduanya. Dalam diskusi itu, saya juga memberikan pengalaman saya baik di dunia kampus maupun di dunia kerja. Dan saya menemukan hal yang menarik, sangat menarik sehingga sangat prihatin. Kira-kira jika diungkapkan verbal akan berbunyi, saya prihatin……

Saya memberikan pendapat dan pandangan saya tentang kurikulum, bagaimana memberikan jembatan untuk mahasiswa bisa menyebrang tanpa adaptasi yang terlalu lama, antara dunia kampus dan dunia kerja. Disisi kurikulum, saya memberikan beberapa hal yang mungkin bisa menyelamatkan lulusan baru dari kegalauan. Apapun ilmu yang diajarkan di perkuliahan, tetap berguna, namun yang harus disadari ilmu itu mendasar, sangat fundamental. Sehingga butuh jembatan untuk melihat dan menerapkan dalam dunia kerja. Tidak mudah, saya katakan demikian.

Saya berpengalaman, lulus kuliah tidak serta merta apa yang didapat di perkuliahan bisa diaplikasikan begitu saja. Ternyata memang sangat mendasar, apa yang saya dapoatkan di perkuliahan. Saya kebingungan, sehingga saya harus mencari referensi taktis apa yang bisa digunakan, saat itu.

Disinilah pengalaman itu saya bagi, semoga teman-teman yang sedang belajar di perkuliahan tidak mengalami kegamangan saya dalam menjawab tuntutan industri.

Pada titik dimana saya mulai menginjak pada pengajar, kualitas pengajar, saya benar-benar menemukan hambatan birokratis. Kualifikasi pengajar ternyata tidak semudah dan sesederhana yang saya kira. Saya melakukan pendekatan berbasis kompetensi dan pengalaman, ternyata persyaratannya berbasis keilmuan. Nah! Saya mulai berhitung. Kenyataannya memang saya tidak memahami persyaratan itu. Pada diskusi itu, memang saya tidak menemukan sebuah kata sepakat ataupun kesepahaman. Namun saya menyerap beberapa hal yang bisa menjadi modal perbaikan di masa depan, setidaknya.

Hingga tiba-tiba saya teringat dengan puzzle yang pernah disodorkan pada saya. Ini gambar puzzle-nya.

9dots puzzle

9dots puzzle -gambar diambil dari google

Pertanyaannya, hubungkan 9 titik tersebut dengan 3 garis tanpa putus (tanpa mengangkat alat tulis), hanya 3 garis. Saya bingung, dulu pernah 4 garis dan bisa, jika 3 garis saya harus bereksperimen keras dan berhasil. Saya tinggalkan jawabannya pada anda.

Pola pikir yang dibawa, bagi saya musti out-of-the-box. Itu kata kuncinya. Saya memandang, pengajaran akan lebih efektif dengan berbasis kompetensi dan pengalaman. Pada fase mahasiswa disiapkan untuk dunia kerja, penting untuk memberikan jembatan yang akan mengantarkannya dari dunia perkuliahan yang sangat teoritis ke dunia industri yang sangat aplikatif. Bahwa aplikasi berdasar teori ya, tapi tidak serta merta teori bisa diaplikasikan.

Saya kok merasa, kurikulum pendidikan tinggi, tidak bergerak out-of-the-box dan hanya berputar-putar dalam kotak. Begitu mahasiswa keluar kotak, terjadilah kegamangan yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya.

Dan selintas, sambil menulis ini saya teringat dengan almarhum Steve Jobs, yang dengan revolusioner mengubah manusia. Saya juga teringat dengan Bill Gates. Nah dua orang yang saya sebut ini ternyata DO! Betul DO, Drop-Out, ndak lulus kuliah. Tapi tetap menggerakkan roda revolusi teknologi. Lha yang makan kuliahan kok justru melempem, pasti ada yang salah.

Saya sadar, tulisan ini tidak akan mengubah apapun, kecuali anda mulai berpikir dan mulai bertindak. Buka kembali teori-teori jaman perkuliahan dulu, buatkan jembatan untuk aplikasi dan terapkan. Kemudian ajarkan jembatan itu pada para mahasiswa yang masih berkutat dengan diktat tebal. Supaya mereka menemukan AHA! dan berkata, inilah aplikasi ilmuku.

Sudah menemukan jawaban 3 garis untuk menghubungkan 9 titik di atas?

Sekali lagi, anda boleh berpikir hebat, kreatif, out-of-the-box. Namun tetap anda harus memulai perubahan itu dalam kotak, in-box. Apalagi jika anda belum mempunyai box-nya, ya kudu membuat atau menemukan box itu dahulu.

Terhalang dengan birokrasi, ada dua pilihan yang saya tawarkan, berhenti dan ngomel dengan para birokrat yang menurut anda menghambat, atau mencari jalan lain supaya tidak ketemu birokrat yang menjengkelkan. Pilihan itu pada anda. Itulah box anda yang mustinya anda keluar untuk mencari ide dan kembali ke dalamnya untuk memperbaiki.

Saya suka mencari gara-gara dengan membuat jalan baru. Apakah ketemu halangan (lagi)? Mungkin. Jika ketemu, ya buat jalan baru lagi. Termasuk, saat beberapa teman terhambat kualifikasi pengajar tadi. Saya katakan, lakukan saja pengajaran itu. Dirimu tidak butuh pengakuan bukan? Tujuanmu kesini untuk memberikan jembatan itu bukan? Supaya adik-adikmu berada di jalan yang benar bukan? Karena saya melakukannya.

Saya menuliskan ini pada sebuah perjalanan pulang, meski baru bisa diposting sekarang. Dalam perjalanan pulang itu, saya membaca media cetak yang mempublikasikan opini pembaca, kurang lebih begini.

Pusat Penyelamatan Satwa Jogja, adalah institusi non pemerintahan dalam penyelamatan satwa dan melakukan rehabilitasi satwa untuk dikembalikan pada habitatnya. Sehingga yang dilakukan adalah peliaran, ya mengajari dan menumbuhkan kembali naluri alami satwa untuk liar dan siap kembali ke habitat semula. Perbedaan mendasar dengan kebun binatang bahkan sirkus binatang adalah mereka melakukan penjinakan. Nah, sama seperti dunia pendidikan kita saat ini, mayoritas adalah penjinakan atas ide kreatif peserta didik daripada peliaran ide. Sehingga hasilnya bisa dilihat.

Saya merefleksi dengan apa yang saya alami setelah membaca opini itu. Saya juga merefleksi dengan bagaimana saya mengajar ke  anak-anak saya. Dan saya pun menemukan benang merahnya dengan kondisi yang saya ceritakan di atas. Mungkin liar adalah kata yang tidak cukup tepat. Tapi jelas sekali kita tidak bisa menembus kotak yang kita buat sendiri.

Sebagaimana yang saya sampaikan pada sesi obrolan di forum yang hebat itu, kita bukanlah gajah yang terantai kakinya, ataupun jangkrik yang terbiasa di korek api.  Jadi buatlah kotakmu dan keluarlah, namun jangan lupa untuk kembali untuk memperbaikinya.

Oya, sudah ketemu 3 garis menghubungkan 9 titik itu?

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 20, 2011, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. luar biasa pak ihda…..salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: