Monthly Archives: September 2011

EQ, Wawancara, Kompetensi………

Dalam beberapa bulan terakhir saya sedang banyak ‘order’ untuk dimintai tolong melakukan wawancara kandidat karyawan, baik di protofolio saya di kantor pusat maupun dari cabang.
Setelah mendapatkan rekomendasi dari HR, saya mulai menjadwalkan dan melakukan wawancara. Tentunya saya tidak boleh menuliskan materi dan hasil wawancara disini, namun saya mendapatkan sebuah ‘insight’yang menarik.

Beberapa diantara kandidat tadi mempunyai kesamaan dalam mereka mengemukakan pendapatnya. Dan mereka pulalah yang berhasil meyakinkan saya dalam materi wawancara tersebut.
Mereka mempunyai latar belakang sebagai aktifis, apapun organisasinya, baik fresh graduate maupun experienced. Saya menilai mereka dari kemampuan mereka memilih kata, rangkaian kalimat, gestur tubuh, akurasi isi dan pergerakan bola mata.

EQ

EQ - gambar diambil dari google

Saya sendiri pernah aktif di organisasi pelajar jaman SMA, organisasi kemahasiswaan jaman kuliah, yayasan pendidikan, yayasan sosial, yayasan dakwah, partai politik, komunitas profesional, dan terakhir sedang hobi arisan RT dengan bapak-bapak tetangga dan kenalan. Setidaknya saya mengalami bagaimana rumit, seni, menyenangkan dan menyedihkannya menjadi seorang aktifis.

Sehingga saat bertemu dengan sesama aktifis, ‘chemistry’ itu segera menemukan temannya. Dari gaya bicara, bahkan terkadang gaya berjalan pun bisa memberikan indikasi. Sehingga cukup mudah bagi saya untuk menebak dalam wawancara apakah kandidat seorang aktifis atau tidak.

Pemilihan kata pada kandidat yang berlatar belakang aktifis selalu bernada positif, rendah hati, mengedepankan etika dan cenderung kata-kata yang tidak bombastis. Sehingga kesan pemilihan kata yang lebih cermat menjadi kuat. Mereka berpikir sebelum memilih kata.

Dalam konteks kompetensi kerja, saya bisa memperkirakan kompetensinya seberapa kuat dalam komunikasinya. Kandidat ini memahami, pemilihan kata akan menentukan seberapa besar pesan yang akan tersampaikan. Meskipun kandidat adalah seorang fresh graduate, saya tidak mempunyai kesulitan dalam memperkirakan potensi komunikasi yang dimilikinya. Bagi saya kompetensi komunikasi sangat universal, baik fresh graduate maupun experienced. Tidak selalu yang experienced lebih baik.

Dalam menyusun kalimat, setelah pemilihan kata, juga memperlihatkan kejelasan maksud dan pesan yang hendak disampaikan. Semakin memperjelas bahwa seorang aktifis terbiasa berpikir terstruktur, rapi dan sistematis dalam memperkenalkan ide dan menceritakan pengalaman atas ide tersebut. Kandidat berlatar belakang aktifis, bisa memperinci dengan baik dalam struktur kalimat dan sistematika cerita yang mudah dipahami. Maka dengan mudah saya menangkap pesan yang disampaikan.

Pun dalam konteks pekerjaan, kompetensi penyusunan kalimat sehingga memperjelas pesan yang disampaikan adalah sesuatu yang sangat penting. Ingat, tidak ada diantara kita yang bisa bekerja sendirian. Selalu ada ruang untuk mempengaruhi atau dipengaruhi. Disinilah ruang tempat kita berdialektika membangun kesepahaman dan logika yang bisa diterima mayoritas. Sehingga kompetensi kejelasan tujuan menjadi sesuatu yang mutlak dipenuhi.

Dalam kompetensi ini, saya tidak merasa ada perbedaan signifikan apakah kandidat adalah fresh graduate atau experienced. Konten atau isi adalah sesuatu untuk dibicarakan, namun cara membicarakannya akan memberi saya pemahaman bagaimana mereka berusaha menyampaikan ide mereka.

Di gestur tubuh, saya selalu mendapati bagaimana para aktifis ini sangat antusias dalam mengemukakan idenya. Bahasa tubuhnya mendukungnya. Cara duduk yang tegak, cenderung ke depan, gerakan tangannya relatif tidak bisa diam dan matanya menyiratkan antusiasme. Pertanyaan saya tidak panjang apalagi lebar, tapi jawaban yang diberikan bisa panjang dan lebar dan relevan dan antusias.

Sebagaimana kemalasan yang menular, antusiasme juga menular. Sangat mudah merasakan antusiasme dari gestur tubuh orang lain. Sehingga disini pun, saya tidak mendapatkan perbedaan signifikan apakah fresh graduate atau experienced.

Dalam hal etika, saya juga mendapati para aktifis ini jujur dalam memperlihatkan akurasi data yang diberikan. Ketika dia tidak tahu atau tidak bisa mendetailkan, dia selalu bilang tidak tahu. Bagi saya itu lebih baik daripada saya terus melakukan probing question dan pada akhirnya saya mendapati dia hanya menggertak atau bahkan memanipulasi data. Etika adalah taruhan seorang aktifis. Etika adalah baju terluar seorang aktifis dalam berinteraksi. Disini juga sangat mudah dalam mengenali ‘seberapa besar’ etika yang diperlihatkan.

Dan terakhir, pergerakan bola mata.
Ya, saya masih menggunakan bola mata dalam melihat kemungkinan-kemungkinan kecil dengan mencocokkan isi pembicaraan, gestur, antusiasme dan lainnya. Bagi saya mata akan memberikan konfirmasi pada yang diucapkan dan apa yang dilakukan.

Sehingga mudah untuk mengatakan apakah materi pembicaraannya bersifat mengarang (imajinasi) atau mengingat (melakukan). Pun ditambah dengan model pertanyaan yang bersifat probing question, akan mengkonfirmasi kebenaran isi pembicaraan.
Pada umumnya, jika seseorang melakukan sesuatu sebagai pengalaman, maka ia akan mudah menceritakan detail pengalaman itu dan sorot matanya akan mengatakan hal yang sama. Sebaliknya, jika pengalaman itu didapat dari cerita, atau melihat dari kejauhan, tidak bisa detail.

Disinilah, saya menemukan benang merah, bahwa latar belakang aktifis relatif lebih mudah beradaptasi dan membangun hubungan sosial. Pun relatif lebih diterima perusahaan dalam proses wawancara. Tentunya tulisan ini saya tulis dalam konteks wawancara pekerjaan. Dalam hal lain, bisa jadi sama.

Dan tiba-tiba saya teringat konsep EQ, Emotional Quotient…………

%d blogger menyukai ini: