Kudus: Al-Quds of Java


Dalam Sahur Jum’at di salah satu tugas yang saya kerjakan di tanah Minang, sambil makan sahur sambil mantengin linimasa semalam yang terlewatkan. Dan saya menemukan sesuatu yang menarik. Teman di media sosial sedang membicarakan Kudus, kampung halaman saya. Pun topik pembicaraannya menarik; Kudus: Jerusalem of Java.

Sebagaimana Bandung adalah Paris Van Java, maka Kudus adalah Jerusalem Van Java. Yang masih berdasar teman saya tadi, penyebutan Jerusalem of Java pertama kali dicetuskan oleh Prof.Mark Woodward dari University of Arizona, USA dalam tesisnya.

Bagi saya yang aseli Kudus, topik ini menarik dan membangkitkan minat saya untuk menjelajah dan mencari tahu lebih banyak tentang kalimat ini: Jerusalem of Java.

Setelah sahur, bekerja menuntaskan pekerjaan saya selama bekerja di cabang Padang, sampai ada sela waktu sore selesai Ashar yang sesi pelatihan dan diskusinya sudah selesai. Perfect time untuk mulai menulis. Sore itu pula saya nge-tweet tentang Kudus: Jerusalem of Java. Dan tweet saya itu saya bongkar menjadi paragraf yang mudah dipahami disini, di blog saya. Tentu saja beberapa referensi saya ambil untuk mmemberikan bobot, tidak sekedar pendapat saya ansich.

Kudus dahulu bernama Tajug dan diubah oleh Sunan Kudus menjadi Kudus sekitar tahun 1530M atau 956H. Pembicaraan tentang Kudus tidak akan pernah terlepas dari sosok Sunan Kudus yang melegenda. Beliaulah yang menata Kudus dan perkembangannya. Pada beberapa catatan sejarah, sebelum kemunculan Sunan Kudus, pendakwah Islam sudah ada, yang lebih dikenal dengan nama Kyai Telingsing. Kyai Telingsing adalah orang Cina yang bernama asli The Ling Sing. Pembahasan Kyai Telingsing semoga bisa saya tuliskan kemudian.

Sunan Kudus -gambar diambil dari Google

Beberapa sejarawan berkata walisongo adalah utusan dari Turki Ustmani untuk kepulauan yang sekarang bernama Indonesia. Setidaknya pendapat ini didukung hipotesa, bahwa hampir semua walisongo keturunan Arab.
Namun riwayat yang sering dibicarakan, Sunan Kudus bernama Ja’far Shaddiq (1500-an – 1550M) putra Raden Usman Hajji. Raden Usman Hajji yang juga dikenal sebagai Sunan Ngudung berasal dari Jipang Panolan (utara Blora sekarang). Sunan Ngudung sendiri keturunan Arab sehingga Ja’far Shaddiq pun bernasab Arab-Jawa.

Sebagaimana ulama nusantara lainnya, Ja’far Shaddiq muda menimba ilmu di Mekkah sampai ke Palestina. Di Palestina, Ja’far Shaddiq terkesan dengan kota Jerusalem atau Al-Quds. Dalam sebuah riwayat beliau mengambil batu untuk dibawa pulang ke tanah Jawa, Kudus sekarang, sebagai pengingat inspirasinya untuk membangun kota selayaknya Al-Quds atau Jerusalem. Riwayat lain menyebutkan, AL-Quds waktu itu beliau berhasil mengobati wabah penyakit di Al-Quds. Atas jasanya, Ja’far Shaddiq dihadiahi batu/prasasti masjid Al-Quds.

Berbekal kekaguman pada Al-Quds, Ja’far Shaddiq kembali ke Kudus dan berdakwah Islam. Bergelar Sunan Kudus beliau membangun masjid berkubah dan menamakannya Al-Aqsho seperti di masjid di Al-Quds Palestina. Kemudian kota yang terbentuk dengan pusat kota di masjid AlAqsho dinamakan Kudus, berasal dari kata Quds (suci-Arab), sama persis dengan AL-Quds, Jerusalem. Pun gunung di sebelah utara Kudus dinamakan Gunung Muria, seperti Jabal (gunung -Arab) Muriyah di Palestina.

Dengan demikian terlihat hubungan antara Kudus dengan Al-Quds atau Jerusalem Palestina. Inspirasi kota Kudus diawali dari AL-Quds Palestina. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan Kudus adalah Jerusalem of Java.

Masjid Al-Aqsho sekarang lebih dikenal dengan Masjid Menara Kudus, karena bangunan menara sama persis dengan arsitektur candi di halaman depan Masjid. Masjid Al-Aqsho adalah masjid dengan perpaduan gaya kubah Timur Tengah, yang sama sekali tidak sama dengan Masjid di jamannya dan candi sebagai pendekatan budaya. Kudus, sebelum Islam masuk, berpenduduk dengan agama Hindu. Sehingga kultur yang terbentuk adalah Hindu. Dengan pendekatan budaya ini, Sunan Kudus berdakwah tanpa harus berkonfrontasi dalam budaya.

Masjid Al-Aqsho -gambar diambil dari Republika

Dalam pendapat saya, pendekatan Sunan Kudus benar-benar terinspirasi dari AL-Quds. Jika Al-Quds menghimpun sejarah kenabian 3 agama samawi, Islam, Nasrani dan Yahudi, maka Kudus menghimpun kerukunan 3 agama pada waktu itu, Islam, Hindu dan Budha. Arsitektur Masjid Al-Aqsho membuktikannya.
Islam diwakili dengan masjid dan kubahnya yang khas Islam. Hindu terwakili dengan menaranya dan beberapa gapura kecil dalam kompleks masjid. Pun Budha terwakili dengan 8 pancuran/titik wudhu di masjid, juga ornamen piring keramik pada menara. Bisa jadi piring keramik ini merupakan hasil akulturasi Kyai Telingsing yang sudah berdakwah sebelumnya.

Pada waktu itu Sunan Kudus menambatkan sapi beliau, yang dinamakan Kebo Gumarang di halaman masjid dan seringkali berdakwah dengan menerjemahkan surat Al-Baqoroh yang berarti Sapi Betina (Al-Qur’an surat kedua). Dengan budaya masyarakat yang beragama Hindu, masyarakat bersimpati dengan gaya dakwah beliau. Sunan Kudus juga melarang penyembelihan sapi di Kudus, demi menjaga toleransi dengan masyarakat Kudus yang mayoritas Hindu. Oleh karenanya, sampai sekarang di Kudus sangat jarang dijumpai penyembelihan sapi. Daging sapi diambil dari kota diluar Kudus.

Demikianlah perkembangan budaya terjadi dengan akulturasi budaya. Masyarakat menerima Islam dengan damai dan sangat terbuka. Kultur Hindu masih tetap terlihat sampai sekarang, pun Islam semakin diterima dengan segala upaya dakwah Sunan Kudus. Beberapa peninggalan budaya beliau adalah dandangan yang digelar kurang lebih 2 pekan sebelum puasa. Pada waktu itu, Sunan Kudus menambahkan bedug di atas menara pada halaman masjid dan menggunakannya sebagai tanda memanggil masyarakat dan mengumumkan awal puasa.

 

Masjid Al-Aqsho -gambar diambil dari Kompas

Dan dalam perkembangannya, Masjid Al-Aqsho menjadi pusat kota Kudus. Sampai abad ke-19, pusat kota Kudus di seputaran masjid Al-Aqsho yang sekarang lebih dikenal dengan Kudus kulon (Barat -Jawa). Sekarang pusat kota Kudus bergeser ke arah Timur.

Demikian sedikit penjelasan hubungan kota Kudus dan Palestina (Jerusalem/Al-Quds), sekedar mengobati keinginan untuk mudik🙂
Satu falsafah Sunan Kudus yang dijelaskan oleh teman saya tadi di lini masanya, yen sira landep ojo natoni, yen sira banter ojo nglancangi, yen sira mandhi ojo mateni.

Jika engkau cukup tajam perkataannmu jangan melukai, jika engkau cukup cepat jangan mendahului, jika engkau cukup sakti jangan membunuh. Saya merasa, inilah kenegarawanan Sunan Kudus dalam menjaga hati, kesopanan, tingkah laku beliau supaya tidak takabbur. Itulah gaya tawadlu’-nya Sunan Kudus.

Apakah saya, anda bisa seperti itu? Semoga bisa, setelah satu bulan Ramadhan berlatih mengekang nafsu untuk bekal 11 bulan berikutnya.
Mohon maaf lahir batin, untuk hari raya Idul Fitri dalam beberapa hari lagi. Pun sudah lumayan larut pada saat menuliskan ini. Besok harus mudik ke Jakarta🙂

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Agustus 27, 2011, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: