Memimpin yang Tidak Mendukung


kepemimpinan

kepemimpinan

Beberapa kali saya mendapatkan bbm, yang saya yakin anda juga sering mendapatkannya.

Tiap hari sang anak muda berdoa pada Tuhan, dalam doanya dia bilang begini: “Tuhan, saya ingin kantong saya penuh dengan uang. Mobil yang besar. Dan banyak perempuan di dalamnya.”

Lalu akhirnya Tuhan mengabulkan doanya dan ia sekarang menjadi KONDEKTUR BIS.

Bisa jadi nama dan sedikit kata-katanya berbeda. Namun intinya sama. Saya tidak sedang membahas betapa doa membutuhkan spesifik dan ‘precise’.

Saya barusan mendapatkan ide untuk menulis dari sudut yang berbeda. Betapa terkadang kita, tidak siap dengan doa yang kita ucapkan sendiri. Lihatlah, ketika Tuhan mengabulkan doa sang anak muda itu, apakah itu yang dikehendaki? Bisa jadi tidak. Namun sangat tersirat bahwa anak muda itu tidak siap dengan keterkabulan doa itu.

Ada sebuah kisah yang lebih serius, tidak lewat bbm namun lewat twitter. Saya kutipkan dari sahabat penulis saya, Salim A fillah.

Dalam Al Hikam, Ibn ‘Athaillah As Sakandari mengisahkan sebuah #doa yang diijabah Allah; tetapi sang pendoa yang justru tak siap akannya. Seorang ahli ‘ibadah ber #doa memohon pada Allah agar dikaruniai 2 potong roti tiap hari tanpa harus bekerja, & sehingga dengannya, dia dapat dengan tekun beribadah kepada Allah. Dalam bayangannya, jika tak berpayah kerja mengejar dunia, ibadahnya kan lebih terjaga.

Maka Allah pun mengabulkan #doa-nya. Dengan cara yang tak terduga. Tiba-tiba dia ditimpa fitnah dahsyat yang membuatnya harus dipenjara. Allah takdirkan bahwa di penjara dia diransum 2 potong roti; 1 di pagi, 1 di petang. Tanpa bekerja. Diapun luang & lapang beribadah.

Tapi apa yang dilakukan sang ‘abid? Dia sibuk meratapi nasibnya yang terasa nestapa. Masuk penjara begitu menyakitkan & penuh duka. Dia tak sadar, bahwa masuk penjara adalah bagian dari terkabulnya #doa yang dipanjatkan sepenuh hati. Rasa nestapa menutup keinsyafannya.

Jadi kawan, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri ketika doanya terkabul.

Contoh paling mudah, saya hendak membawanya ke dalam ranah politik supaya mudah. Setiap calon legislatif selalu berharap untuk tembus ke kursi anggota legislatif. Setiap calon kepala daerah berharap dirinya tembus untuk terpilih menjadi kepala daerah, bahkan presiden sekalipun.

Namun pertanyaannya selalu berulang, apakah sang calon tadi siap ketika kemudian terpilih?

Bagi saya yang menarik dari sebuah kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin terpilih tidak hanya memimpin orang yang mendukungnya, namun orang yang menentangnya. Memimpin orang yang mendukung tidak perlu dibahas lagi, sejak awal dukungan sudah ada. Semoga saja dukungan itu adalah dukungan ideologis dan dukungan karena program, bukan karena uang.

Pertanyaan besarnya, bagaimana memimpin mereka yang tidak mendukung. Itu pertanyaan mendasar sebelum anda mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Banyak pemimpin yang tidak siap dengan mereka yang tidak mendukungnya, setelah memegang tampuk kepemimpinan. Maka sikap kritis dari mereka yang tidak mendukung dianggap sebagai kritik yang menyerang, menggulingkan kepemimpinan, sama sekali tidak mengambil sebuah koreksi atasnya. Dan banyak diantaranya kemudian memberangus semua bentuk oposisi dengan segala bentuk represifnya. Sekali lagi membuktikan ketidak siapan memimpin mereka yang tidak mendukungnya sejak awal. Yang paling menyedihkan, adanya fobia pada ketidak seragaman, yang sekali lagi, berujung pada pemaksaan penyeragaman.

Dalam banyak hal, kemampuan komunikasi menjadi esensi dalam memimpin. Komunikasikan program dan segala keunggulan anda kepada mereka yang tidak mendukung anda. Berikan bukti atas janji, mereka yang tidak mendukung tidak hanya sekedar melihat, namun bisa jadi berbalik mendukung.

Kemampuan komunikasi inilah yang akan menjadi jembatan dalam menyikapi kritik, perbedaan, dan pandangan yang berbeda atas suatu masalah. Tidak semuanya berujung pada penyeragaman, demokrasi hanya rumah terbuka bagi para penghuninya.

Saya mengimajinasikan itulah yang dilakukan Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki atau yang lebih terkenal dengan singkatan AKP, Adalet ve Kalkinma Partisi dalam bahasa Turki.

Siap memimpin?
Siap memimpin yang tidak mendukung anda?

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juni 20, 2011, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: