Berharap Kepompong Jadi Kupu-Kupu


kepompong - kupu-kupu

kepompong - kupu-kupu

Jakarta – Persahabatan bagai ke-pom-pong / mengubah ulat, menjadi kupu-kupu. Beberapa pekan ini lagu lawas Sindentosca, yang sempat populer itu, kembali terngiang-ngiang di kepala. Alasan pertamanya sih karena anak saya sedang latihan menari untuk perpisahan sekolahnya, dan lagu itu yang jadi soundtrack.

Dalam pesta kelulusan di sebuah sekolah di Menlo Park, California, pendiri Facebook Mark Zuckerberg berkata: “Persahabatan yang hebat adalah yang membuat hidup makin menyenangkan dan bermakna; (hal itu) juga membuat Anda bisa melakukan banyak hal!”

Mark tahu betul apa yang dimaksud. Bukankah dia yang membuat situs pertemanan yang paling populer saat ini? Apalagi, kalau melihat sejarah Facebook, situs itu memang diawali oleh sekelompok teman.

Makin terpatrinya Facebook dan Twitter dalam keseharian pengguna internet justru jadi alasan untuk selalu menjaga hubungan baik.

Hampir semua relasi, sahabat, teman, saudara dan bahkan orang yang baru ketemu beberapa menit saja, bisa terhubung lewat jaring-jaring Facebook dan Twitter. Dan kalau tidak hati-hati mereka bisa segera tahu apa-apa saja yang kita lakukan sehari-hari.

Jika yang mereka ketahui hanya sebatas apa yang mereka lihat di jejaring sosial, ada kemungkinan yang didapatkan bukanlah gambaran seutuhnya. Tidak semua orang bisa secerdas Sherlock Holmes dan mendeduksi kepribadian orang hanya dari tweet dan aktivitas di Facebook.

Oleh karenanya menjaga hubungan baik jadi hal yang mutlak. Membuka jalur komunikasi pribadi, pada orang-orang yang berarti, bisa membantu melunakkan dampak teriakan publik yang dibuat lewat Twitter.

Menjaga hubungan baik bukan berarti harus berpura-pura di hadapan orang. Pencitraan itu adalah jatahnya tweet publik, dalam hubungan pribadi sudah seharusnya lebih jujur dan terbuka.

Kadang menjaga hubungan baik sesederhana menjaga prasangka baik diri kita terhadap orang lain. Dengan demikian setiap komunikasi dengan orang itu tak akan dihantui rasa curiga yang bisa mengacaukan pesan yang disampaikan.

Ya, teknologi memang memungkinkan seseorang untuk tetap keep-in-touch dengan rekan yang jaraknya jauh. Namun tanpa usaha untuk menjaga hubungan di level yang personal, meskipun jarak jauh, hubungan yang tadinya dekat pun bisa jadi renggang.

Persahabatan bagai ke-pom-pong / mengubah ulat, menjadi kupu-kupu // Persahabatan bagai ke-pom-pong / hal yang tak mudah berubah jadi indah.

http://www.detikinet.com/

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juni 16, 2011, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: