Pak Cah: Suatu Pagi di Timika


Pak Cah di Timika

Pak Cah di Timika

Pagi ini Timika diguyur gerimis. Berpagi-pagi saya dan isteri menikmati udara pagi yang segar, berjalan kaki di bawah gerimis kecil.

Dari Hotel Serayu kami berjalan saja menyusuri jalan yang masih sangat lengang. Sangat banyak perubahan dalam lima tahun terakhir. Saya sejak kemarin dibuat kaget oleh banyaknya bangunan baru, toko, supermarket, rumah makan. Dulu belum ada. Terasa saya sudah lama tidak menginjakkan kaki di bumi Timika ini.

Jalan kaki pagi serasa nikmat di tempat yang tidak bising ini. Apalagi tidak banyak rambu lalu lintas, karena kata banyak teman di Papua berlaku aturan lalu lintas “Lurus Jalan Terus, Keriting Berhenti”. Makanya kami bisa jalan terus tanpa peduli gerimis.

Arah kaki kami menuju pasar tradisional. Ternyata sudah cukup ramai dikunjungi warga yang berbelanja. Tampak banyak orang berkerumun, mereka membeli pakaian bekas yang baru dibuka dari karung. Beberapa toko di pasar ini tampak menjual baju-baju bekas “karungan”, dan sepertinya cukup diminati warga.

Timika

Timika

Masih seperti dulu, pedagang asli Papua bercorak sangat tradisional, menjajakan barang dagangannya dalam bentuk yang khas. Mereka menggelar barang dagangan berupa sayuran, cabe, lengkuas, bawang dan lain sebagainya di depan pertokoan, ditaruh saja di bawah. Sudah terbagi-bagi rapi, sehingga pembeli tinggal menunjuk barang mana yang dikehendaki tanpa harus menimbang lagi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya sering berkeliling ke wilayah Papua. Ada kerinduan yang luar biasa di hati saya untuk menengoknya. Dua hari ini berada di Timika, insyaallah besok pagi jalan ke Jayapurlusa ke Biak.

Di Timika tentu sudah banyak perubahan dan kemajuan. Sekolah Islam Permata Papua kini sudah tampak besar. Dulu saya melihatnya seperti di tengah hutan, sekarang ternyata sudah dilewati jalan aspal yang sangat halus.

Muridnya dulu masih terbatas, sekarang masyarakat Timika antri untuk mendaftarkan anaknya sekolah di Permata Papua. Sekolah ini tiap tahun terpaksa harus menolak banyak calon siswa karena tidak mencukupi kapasitas kelasnya. Banyak orang tua kecewa karena anaknya tidak bisa masuk sekolah Permata Papua.

Tadi malam saya memberi tausiyah bakda Maghrib hingga Isya’ di Masjid Besar Babussalam. Subhanallah, jamaahnya melimpah. Semangat keislaman sangat tampak dari antusias mereka melaksanakan shalat berjamaah ke masjid dan mendengarkan tausiyah hingga selesai.

Melihat ini semua saya semakin yakin dengan masa depan Papua. Akan semakin banyak tercetak generasi baru yang terdidik dan cerdas. Mereka siap membangun Papua, kendati masih dililit oleh berbagai persoalan terkait agenda Otonomi Khusus yang memberikan keistimewaan kepada warga Papua kelas satu.

Kendala pasti ada dan harus dihadapi dengan kebesaran jiwa. Justru kendala ini yang semakin menyemangati melakukan terbaik bagi perkembangan dakwah di wilayah Papua. Saya sangat optimis melihat wajah-wajah para aktivis yang menampakkan semangat menyala. Young and fresh. Energi mereka luar biasa besarnya.

Mereka yang akan turut berkontribusi memajukan Papua. Saya sangat yakin dengan masa depan dakwah di Papua.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juni 14, 2011, in kisah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: