Surat Dari Garda Depan Merapi (You’ll Never Walk Alone…)


by Gaw Bayu Gawtama on Saturday, November 13, 2010 at 3:04pm

Mungkin ada yang menganggap kami ini orang-orang gila, sebagian lain menyebut apa yang kami lakukan ini adalah hal “konyol”, bahkan tak sedikit yang bilang orang-orang seperti kami ini sok pahlawan. Ketika semua orang berlarian ketakutan, turun menjauh dari Gunung Merapi yang mengeluarkan material panas secara mengganas, tatkala semua orang panik berhamburan keluar rumah menuju tempat yang dianggap aman, kami malah sebaliknya. 

Kami harus meyakini bahwa semua penduduk di radius sepuluh hingga dua puluh kilometer dari Merapi sudah turun menjauh, mencoba menjadi yang terakhir menjauh. Namun ternyata masih ada yang tertinggal, terjebak tak bisa kemana-mana di dalam rumah, di dusun-dusun mereka, sambil berteriak mencari pertolongan. Entah sudah ratusan kali atau ribuan kali mereka berteriak namun tak ada yang menjawabnya sehingga mereka kelelahan dan berusaha bertahan di tengah terjangan debu panas, api menyala dan ancaman kematian di depan mata. 

Kami mendekat ke Merapi bukan untuk menantang keperkasaannya, bukan juga untuk mencari mati. Suara tolong yang membahana dari dalam rumah-rumah, dari Dusun dan Kampung memang tak terdengar oleh telinga kami yang jauh, namun langit tengah malam itu seperti terbuka dan merekam suara tangis meratap pertolongan itu, kemudian menggemakannya ke sisi langit yang lain yang persis di atas kami. Sebuah telepon masuk sebagai penghantar bahwa di atas sana masih banyak orang yang tertahan dan membutuhkan pertolongan. 

Setelah semua tak lagi tersisa di jalan, tatkala pekat malam tak menyisakan sedikitpun terang, rembulan seolah tak tampak terhalangi oleh hujan debu dan guyuran air dari langit yang menjadikannya lumpur, hanya suara-suara menggema itulah yang menuntun kami terus memacu kendaraan ke dusun-dusun di lereng Merapi. Kami seperti orang buta di tengah malam gelap dan bermandi lumpur itu, kaca mobil yang kami tumpangi tak lagi mampu menyajikan pandangan ke depan agar kami tak terjerumus. Berkali-kali kami menyiramnya dengan persedian air minum yang terbatas, tetap saja lumpur Merapi menutup kembali kaca itu. Anehnya, mobil kami tetap melaju cepat bahkan semakin cepat mendekati suara rintihan dan teriakan minta tolong. 

Sepi, senyap, gelap dan langitpun tak menampakkan keindahannya, di sebuah desa hanya merah menyala yang tergambar. Sebuah dusun, atau kampung, atau mungkin desa yang terdiri dari banyak dusun sudah terbakar dengan api yang menyala. Anehnya lagi, justru kami tak bisa menjauh, malah sebaliknya terus dan makin mendekat, terlebih ketika jarak kami dengan api yang beberapa puluh meter saja, terdengarlah suara-suara yang menggetarkan hati, membuat adrenalin meningkat seribu kali lipat sekaligus membuat merinding. 

“Tolooong… toloooonggg… saya disiniiii…” berkali-kali suara ini terdengar dari dalam rumah-rumah yang terbakar. Semakin keras teriakan itu, semakin besar api menyala, semakin keras dan cepat jantung berdegub. Hanya ada dua pilihan yang bisa diambil pada detik itu, dan harus cepat diputuskan. Berlari secepatnya untuk selamatkan diri sendiri, atau masuk ke rumah-rumah berkobar api untuk selamatkan para korban. Sempat terpikir untuk selamatkan diri saja, tetapi teriakan tolong itu seolah menarik kaki kami justru lebih ke dalam. Sekian detik kemudian, kaki kami melangkah menembus jalan berdebu panas dan mendobrak rumah-rumah berkobar api tempat asal suara. 

“Masya Allah… innalillaahi, astaghfirullaaah, Allahu akbaarrr!” hanya kalimat-kalimat ini yang mampu terucap dari mulut ini seraya menyaksikan orang-orang, laki-laki perempuan, dewasa dan anak-anak terkapar tak berdaya. Sebagian besar mereka menderita luka bakar serius, kebanyakan wajah dan tubuh mereka melepuh tertutup debu panas yang menyergap masuk ke dalam rumah mereka, hampir semuanya kehabisan oksigen. Bahkan, beberapa orang kami temukan sudah tak lagi bernafas. 

Secepat kilat kami mengangkat para korban, anak-anak dan wanita kami dahulukan, meski pada akhirnya yang terdekatlah yang bisa kami evakuasi. Dusun Bronggang, Desa Argomulyo semakin membara, api terus membesar. Langkah sempat tertahan ketika beberapa bagian rumah yang sudah terbakar roboh menghentakkan jiwa. Entah kenapa, justru langkah tak juga surut, kami terus merangsak masuk untuk selamatkan lebih banyak. 

Di dalam sebuah rumah, kami temukan seorang ibu, dengan seorang anaknya yang masih balita, juga seorang wanita dewasa lainnya. Ketiganya sudah terkapar di lantai masih dalam keadaan hidup namun mengalami luka bakar. Di tengah kepulan asap yang merasuk ke dalam rumah, sang ibu berkata, “Mas tolong lihat anak saya dulu, kalau masih hidup, selamatkan anak saya terlebih dulu mas…” saya segera mengangkat tubuh anak lelaki berusia sekitar dua atau tiga tahun itu karena ia masih bernafas. Tetapi saya menyesal karena tidak bisa kembali ke dalam rumah yang apinya sudah bertambah besar.

Mungkin ada benarnya kalau orang anggap kami konyol, tak lagi menggunakan akal sehat. Ketika semua orang berlari kebawah, justru kami semakin ke atas. Beruntung memang bukan akal sehat yang kami pakai kala itu, bisa jadi kami sudah lari tunggang langgang jauh meninggalkan Dusun Bronggang yang sudah terbakar. Disaat itu, hati nurani mendominasi seluruh raga ini sehingga kami tak lagi memikirkan keselamatan diri untuk terus mengevakuasi. Barulah ketika nafas mulai sesak pertanda kami pun sudah kehabisan oksigen di tengah kepungan api, akal sehat ikut bermain seolah berkata, “Sudah, jangan dipaksakan. Selamatkan juga dirimu…”

Api semakin besar, beberapa rumah mulai roboh karena terbakar api, asap semakin tebal mengepul. Suhu terasa semakin panas, kami pun kehabisan udara. Betul kata akal sehat, kami pun mundur meski hati meronta, jiwa bertariak karena ketidakmampuan kami mengambil lebih banyak korban hidup-hidup. Inginnya terus masuk ke kobaran api, tapi ada tangan-tangan yang mencegah seraya berkata, “cukup sudah, bahaya jika diteruskan…”

Hari-hari berikutnya, kami terus melakukan evakuasi meskipun tipis harapan untuk bisa mendapatkan yang masih hidup pasca erupsi terbesar sepanjang satu abad pada 5 November 2010 dini hari itu. Hanya tubuh-tubuh yang hangus terbakar yang bisa ditemukan, sebagian terkubur debu panas yang sulit dievakuasi. Sudut mata ini tak henti meneteskan air mata, membayangkan wajah-wajah yang gagal kami selamatkan tatkala masih hidup. Perih rasanya hati ini mengingat teriakan minta tolong yang tak mampu kami sambut semuanya. 

Seorang sahabat menghibur, “Kalian sudah menyelamatkan tujuh jiwa dalam keadaan hidup. Menyelamatkan satu jiwa seperti menyelamatkan seluruh jiwa. Be strong my bro…”. Namun kata-kata itu tetap belum mampu menahan air mata ini untuk terus menetes setiap kali melintas Desa Argomulyo. Seorang juru foto sebuah media cetak yang ternyata ikut dalam mobil kami ketika evakuasi pun berujar, “Kalianlah relawan sebenarnya…” kata-katanya juga tak bisa membuat kami tersenyum. 

Proses evakuasi jenazah terus kami lakukan hingga tulisan ini dibuat. Kami seperti bermain petak umpat dengan Merapi. Ketika kami harus masuk ke sebuah dusun untuk mengevakuasi, kami pantau puncak Merapi dengan asap yang terus mengepul, kemana arah angin, kami berada di arah yang berlawanan. Ketika kami berada di Selatan sedangkan arah angin menuju Barat, maka kami pun masuk. Begitu arah angin berubah ke Selatan, secepat mungkin kami berlari, memacu kendaraan untuk menghindarinya. Begitu setiap hari, bukan ingin menantang kehebatan Merapi, tapi semata untuk membuat anggota keluarga yang menunggu mendapat kepastian tentang Ayahnya, ibunya, suaminya, isterinya, anaknya, adiknya atau siapa saja yang masih dianggap hilang. 

Lagi-lagi air mata tak mampu kami bendung setiap kali menemukan dan mengevakuasi jenazah, kemudian salah seorang keluarganya menangis histeris. Gemuruh di dada mengiringi mendung di sudut mata hingga tetes air membasahi wajah. Tetapi kami harus tetap tegar, segera kami hapus air mata untuk tetap terlihat tegar bersiap untuk mencari dan terus mencari korban berikutnya. Bantu kami dengan doa dari sahabat semua… (Gaw, dari tengah dusun yang porak poranda diterjang kehebatan Merapi, 13112010)

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on November 13, 2010, in kisah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: