Hilangnya Mindset Negara Kepulauan


Rabu, 03/11/2010 02:50 WIB

Tsunami Mentawai dan Hilangnya Mindset Negara Kepulauan

Andi Saputra : detikNews

detikcom – Jakarta, Puluhan relawan hanya bisa termangu menatap hujan di Pulau Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Beberapa mengusir suntuk dengan menyeduh kopi ditenda-tenda darurat. Beberapa lainnya mengobrol atau sekedar bertukar informasi tentang kondisi terakhir.

Kerutan-kerautan wajah mereka terlihat gelisah. “Kami ingin ke lokasi bencana, tapi melihat ombak setinggi rumah, siapa tidak takut,” kata Ismail, (32), relawan asal Palembang kepada detikcom beberapa waktu lulu.

Pertimbangan ini terbukti oleh alam. Kapal boat dengan ukuran cukup besar yang ditumpangi relawan dari PLN terbalik ditelan ombak. Pun begitu, 24 relawan yang juga berisi wartawan antv sempat hilang kontak akibat terseret ombak hingga terdampar di pantai yang belum terjamah. Kondisi di udara pun sempat merepotkan helikopter dengan kondisi angin yang tak bersahabat selama 3 hari terakhir.

“Ya begitulah kondisinya,” komentar Staf Khusus Presiden, Heru Lelono.

Sebagai negara kepulauan, kenyataan di atas mungkin sangatlah miris. Sebagai kabupaten baru, tak nampak satupun kapal ukuran besar milik Pemkab yang mendistribusikan bantuan ke titik lokasi bencana. Malah, Kapal Polair Antasena yang datang ratusan mil dari Jakarta yang berada di garda depan pendistribusian bantuan.

“Boat mereka hanya sekali mengantarkan ke darat, setelah itu kabur, malah kami yang bolak-balik dari pagi hingga petang,” jelas komandan kapal, Kompol Herry Noor .

Pada sekup regional, konsep pembangunan yang pincang ini paling dekat dilihat dari konsep pembangunan Jakarta. Berlogokan ombak, namun tidak ada pembangunan yang berpihak kepada keberlangsungan laut Jakarta. Hutan bakau dibabat habis, pantai diuruk, nelayan tradisional di usir, tambak diganti dengan menara apartemen, pantai lumpur di ganti pantai pasir, serta jalan amblas dibilang kesalahan konstruksi semata.

Secara nasional, negara bahari tinggal slogan. Lagu nenek moyangku seorang pelaut menjadi guyonan. Dengan luas laut lebih dari 2/3 luas daratan tidak diikuti pembangunan berkonsep bahari.

Penambahan kapal TNI hanya cukup jadi isu manis di DPR. Kapal laut ukuran besar hanya hitungan jari. Tidak sedikit pembangunan dermaga baru malah berakhir di KPK/ kejaksaan. Penahanan 3 anggota DKP oleh Malaysia malah dirayakan dengan 20 menit pidato pujian kepada Malaysia. Pertumbuhan ekonomi berarti meningkatnya lapangan pekerjaan di sektor pertanian. Nelayan selalu di strata sosial paling rendah. Bahkan, tsunami hanya sebagai resiko orang yang tinggal di pulau.

Sehingga jangan heran jika ada bencana, orang lebih suka menyalahkan alam.  Padahal, Mentawai sangat terkenal di mancanegara karena keindahan pantai dan ombaknya yang menyihir para peselancar internasional.

Diambil dari Detiknews.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on November 3, 2010, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: