Koper Kulit


Telah 20 tahun Yanto dan Yanti mengarungi bahtera rumah tangga, hidup sebagai pasangan suami istri di tengah berbagai persoalan hidup yang melingkupi. Suatu hari karena dipicu perbedaan pendapat yang tajam dan saling mempertahankan pendirian, terjadi pertengkaran hebat yang fatal.

Yanto sama sekali tidak mau mengalah bahkan mengayunkan tangan memukul Yanti. Peristiwa itu memaksa Yanti memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.

“Mau pergi…?! Pergi kamu…!!! Dan jangan kembali lagi…!!!” ketus Yanto dengan nada suara tinggi.

Ternyata Yanto marah besar, kata-katanya sungguh menusuk telinga. Hal ini membuat Yanti merasa dipersalahkan, pedih rasanya dan bercucuranlah air matanya. Yanti merasa selama 20 tahun ini, demi rumah tangga ini, dia telah mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya. Kesulitan dan bahaya telah dilalui walau dalam keadaan kritis. Kebersamaan dalam satu hati menghadapi krisis hidup telah mengantarkan perkawinannya melewati bahaya, kesulitan dan kesengsaraan.

Saat mengemasi barang-barangnya, Yanti tersadar bahwa semua yang telah mereka capai ini tidak mudah untuk didapat! Termasuk koper kulit besar yang akan dibawanya adalah hasil jerih payah mereka berdua. Ketika akan mewujudkan impian mereka bertamasya sekeluarga, barulah mereka membelinya!

“Bagasiku ini tidak lain dan tidak bukan adalah suami dan anak-anakku?” Pikir Yanti saat emosinya mulai reda dan dinginnya hati mulai menjalar

Yanto sangat emosional kala itu, setelah amarahnya reda, merasa diliputi teka-teki: SANG ISTRI YANG TADI KATANYA INGIN PERGI MENINGGALKAN RUMAH, MENGAPA DIAM SAJA, TIDAK TERDENGAR SUARA BERKEMAS?

Tanpa diduga ketika muncul di dalam kamar, Yanti menyuruhnya duduk di atas bagasi dan berkata kepada sang suami:
“Kamu adalah bagasiku, kalau memang mau pergi, aku akan membawamu pergi.” Ujar Yanti dengan sinar mata yang lembut memancarkan keramahan dan cinta kasih.

Sahabatku! Tragedi pergolakan rumah tangga yang nyaris ditutup dengan minggat dari rumah itupun berakhir dengan damai. Selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia walau telah tersakiti.

Satu hasrat dalam hati, satu ketulusan, kebaikan budi dari pasangan suami istri yang begitu mendalam dan bermakna, mengikat erat-erat nasib keduanya. Ini merupakan takdir, rahmat dan jodoh dari kehidupan sebelum lahir, bagaimana mungkin bisa dicampakkan begitu saja.

*republikasi dari catatan ustadz Aidil Heryana*

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 19, 2010, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: