Monthly Archives: Oktober 2010

Sang Pemimpi Masa Depan

Dalam bahasan kebangsaan dan masa depannya, pemuda menjadi pusatnya.
Yang menarik adalah pada saat sumpah pemuda dilakukan pada 28 Oktober 1928. Kira-kira pada waktu itu, apakah mereka yang menggagas dan menghadiri sumpah pemuda akan mengetahui jika 17 tahun kemudian bangsa mereka akan merdeka? Well, saya meragukannya. Bahkan bisa jadi sebagian diantara mereka yang menghadiri bahkan tidak sempat merayakan kemerdekaan negara mereka.

Kenapa mereka mengadakan sumpah pemuda? Yang bahkan negara Indonesia belum terbentuk, yang bahkan penjajah masih setia bercokol dengan politik devide et impera, yang bahkan kerajaan-kerajaan masih berjaya di seantero nusantara. Apakah mereka tidak tahu perbedaan suku? Perbedaan bahasa? keluasan wilayah geografis nusantara? bahkan karakteristik archipelago, kepulauan nusantara? Saya yakin mereka tahu. Hanya satu hal, karena mereka mempunyai impian. The youth dreaming the future. Ya, karena pemuda memang bisa dan selalu memimpikan masa depan.

Pada saat sumpah pemuda itulah, para pemuda dari beberapa penjuru nusantara berkumpul dan memimpikan 3 hal. Berangkat dari tanah air yang sama tanah air Indonesia, membangun bangsa yang sama bangsa Indonesia, Berbahasa yang sama dengan bahasa Indonesia. Memimpikan adanya persatuan dan memberikan energi perlawanan.

Dan kenapa bukan para senior, para orang tua, para pendahulu mereka yang mustinya lebih mempunyai pengalaman perlawanan dan penderitaan? Pada umumnya generasiĀ  tua hanya bisa glorifying the past, menceritakan masa lalu. Terkadang ada trauma psikologis dari para orang tua atas pengalaman yang sudah mendarah daging. Perlawanan hanya akan menimbulkan kesengsaraan, perlawanan hanya akan memberikan ruang yang sama sekali tidak nyaman dalam konfrontasi. Dan hebatnya pemuda adalah mereka tidak mengalami itu semua, jika tidak, maka pengalaman yang akan menjadi psychological barrier.

Maka tidak heran ketika setelah roda reformasi digulirkan, situasi ekonomi yang naik turun dan lebih tidak terkendali, sebagian orang tua langsung berkomentar sinis. Lebih suka kembali ke jaman Soeharto, harga murah, ekonomi stabil dan keamanan kondusif. Ya, hanya orang tua yang mengatakan seperti itu. Karena pemuda pulalah yang menggerakkan reformasi.

Dalam bahasa saya, pemuda cenderung bergerak maju, nabrak dan terhalang itu urusan belakangan. Saya terkadang punya prinsip, selama belum ada yang mengingatkan, berarti saya masih benar. Karena saya masih dalam golongan pemuda.

MarkPlus Inc. beberapa waktu lalu melakukan riset tentang pemuda di 6 kota besar, melibatkan hampir 800 responden dalam rentang usia 16 tahun sampai dengan usia 35 tahun. Dan hasilnya, pemuda dikategorikan di 4 kuadran yang berbeda.

Kuadran pertama disebut Patriot dengan jumlah kurang lebih 27,5%. Mereka mempunyai idealisme , nasionalisme yang tinggi dan cenderung menjadi pemimpin. Mereka mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan sangat loyal.

Kuadran kedua disebut Buddy, dengan jumlah kurang lebih 24,8%. Mereka tipe yang santai, memiliki banyak teman, toleran dan peduli kepada orang lain.

Kuadran ketiga adalah Fighter, dihuni 24,3%. Mereka cukup keras, outspoken, mempunyai banyak kegelisahan, dan kadang sedikit egois.

Kuadran keempat disebut Star, sejumlah 25,2%. Mereka cenderung idealis dan populer, mempunyai pengaruh besar dalam peer group-nya, punya tujuan hidup yang jelas bagi masa depannya, namun cenderung fokus pada diri sendiri.

Meski tidak mewakili secara besar gambaran pemuda bangsa ini, namun sudah memberikan gambaran pemimpin masa depan.

Pemuda adalah masa depan. Jika kita sebagai bangsa memahami kegelisahan dan gejolak pemuda, maka pemuda bisa menjadi tulang punggung yang kuat untuk negara.
Saya adalah pemuda. Saya yakin masa depan bangsa negara ini ditangan saya. Dengan demikian, saya tahu tanggung jawab, kontribusi dan kepemimpinan yang dibutuhkan oleh negara ini.

Diberbagai sektor manapun pemuda akan selalu well-accepted. Termasuk dalam kategori apapun, pemuda tetap strategis.

Nah begitu strategisnya pemuda, mari tempatkan pemuda pada panggung utama untuk menggerakkan roda bangsa dan negara.

Bangsa ini tidak boleh putus asa, meski bencana menerpa. Pemudalah yang akan memberikan way-out, solusi dalam pengelolaan bencana.

Bagaimana dengan anda?
Selamat (menjelang) hari Sumpah Pemuda!

*Inspirasi menulis dalam pesawat, setelah membaca ulasan pak Hermawan Kertajaya tentang pemuda*

Iklan
%d blogger menyukai ini: