Padang, Ternyata Ada Sate Yang Tidak Pedas


Masih di kota Padang pada saat menulis catatan ini. Tepatnya malam terakhir, besok akan berangkat balik ke Jakarta, nengok monas🙂

Dan finishing-nya berpekan-pekan setelahnya, dan sekarang saatnya diterbitkan. Setelah kembali dari menjelajahi hutan Kuala Kencana, nyaris ketinggalan ferry di Batam dan tersesat di Singapura. It will be a-next store to write.

Dan perjalanan ke Padang, untuk yang kedua kalinya, dimulai.

Semoga menu di pesawat tidak pedes-pedes amat. Betapa saya mulai jatuh cinta pada pedesnya masakan khas Padang. Aseli! Saya mulai menyukainya, semoga Shara tidak tertawa membacanya🙂 Mungkin karena agak lama di kota Padang dan bergaul dan tentunya ‘terpaksa’ makan makanan khas kota Padang. Meski tidak semuanya pedes, buktinya masih ada es durian yang mangstab abis!

Sesaat mendarat di BIM, Bandara Internasional Minangkabau, masih dengan sahabat baik saya Shara dan pak Dodik, meluncur mencari makan malam. Nah kali ini dengan berbaik hati, Shara tidak mengajak saya ke warung sate padang yang aseli pedesnya. Yakin pasti Shara masih ingat perjuangan yang saya lakukan untuk menghabiskan seporsi sate padang.
Dan setelah melalui perdebatan panjang sepanjang perjalanan, diputuskan makan martabak mesir. Ah, mampir ke kantor dulu untuk sholat maghrib. Sembari ngobrol sebentar dengan petugas keamanan, yang ternyata masih hafal saya setelah 2 pekan dari ngantor saya yang pertama di kantor Padang. Meluncurlah kami ke warung martabak mesir.

Martabak tujuan kami ternyata tutup, martabak malabar. Dan melanjutkan ke tujuan alternatif, martabak kubang. Yup, nama tempatnya Kubang, meski nama warungnya adalah Hayuda. Lebih terkenal dengan martabak kubang. Parkirnya agak repot, ya karena lumayan rame.

Rasanya lumayan lah. Ya dibilang lumayan, karena ekspektasi saya adalah rasa rempah-rempah yang kuat. Namun yang muncul di lidah saya hanya dominasi lada yang ‘rada’ membakar. Namun demikian dagingnya banyak dan lumayan lunak. Jadi tetap nyaman dinikmati, maksudnya tidak pedes-pedes amat🙂

Kemudian, roti cane. Yup, roti dari India. Roti cane, mirip dengan lembaran roti tipis, yang ditaburi gula. Manis sebenarnya, namun pada umumnya disajikan bersama sepiring kecil gula. Jadi bisa dicolek lagi ke gula. Rasanya gurih, khas roti ditingkahi rasa manis gula.

Bagi sebagian orang, yang masih semodel seperti saya, akan agak aneh setelah makan martabak yang lumayan besar, diteruskan makan roti cane. Begitulah di kota Padang. Pada umumnya martabak yang terhidang adalah khas India, demikian pula makanan lainnya yang menjadi menu andalannya. Well, meskipun di Bekasi, nemu rumah makan Padang yang juga menjual martabak Mesir, namun tidak ada roti cane-nya. Pun martabaknya bukan India, namun Mesir.

Untuk 1 porsi roti cane, berapa kali harus pesen? Sekitar 10 kali. Setiap kali ada pramusaji lewat langsung diteriaki, “roti cane satu”. Dan masih tetap tidak muncul pesenan ini. Lewat lagi teriak lagi, sampai sekitar 10 kali. Dan akhirnya, muncullah di meja. Untungnya tidak muncul 10 porsi roti cane. Karena pramusajinya tidak sampai 10 orang.

Nah disini saya baru ketemu telur diseduh dalam teh. Di Padang telur disebut talua. Oleh karenanya teh ini disebut teh talua. Cara membuatnya mudah. Telur mentah dimasukkan gelas dan dikocok hingga sedikit berbuih, tanda putih dan kuning telur sudah menyatu. Bisa ditambah dengan gula. Sambil mengocok telur, sambil merebus teh tentunya tanpa gula. Pada saat teh sudah matang, air teh disiramkan ke gelas berisi telur kocok tadi. Dan jadilah teh talua. Nantinya telur yang langsung matang akibat disiram teh panas, akan membentuk seperti busa dan mengambang di permukaan. Jadi disarankan tehnya tidak terlalu penuh, supaya tidak tumpah. Jika kurang manis, bisa ditambah gula.

Rasanya? Seperti minum STM, susu telur madu. Ya, minum teh, namun mempunyai rasa telur. Jangan kuatir tentang aromanya, sama sekali tidak amis telur. Enaklah. Dan bisa dikatakan minuman bergizi. Variasi lainnya, ganti teh dengan kopi. Maka jadilah kopi talua. Pak Dodik bilang capucino-nya Padang. Ya warnanya tentu akan berubah dari kopi hitam menjadi coklat susu seperti capucino. Memang sip minuman yang satu ini.

Nah, esok paginya ngantor seperti biasa, menjalankan tugas negara yang ditugaskan kepada saya.
Agenda makan siang? Masih standar di rumah makan sederhana. Masih sama dengan cerita sebelumnya. Meski demikian, tetep saja masih merasa unik dengan desain kotemporernya yang rasanya menyalahi pakem tradisional. Namun justru itu yang membuatnya menjadi cita rasa baru. Diferensiasi inilah yang bisa menciptakan jembatan antara kekhasanan masakan dan mengakomodasi tren desain yang pada umumnya dipahami oleh pendatang (non-Minang).

Dan hasilnya, orang Minang tidak merasa sungkan dengan desain yang ‘nyleneh’ dengan tetap terikat masakan tradisionalnya, dan disisi yang berlawanan, pendatang (non-Minang) merasa nyaman dengan desainnya meski mungkin tidak cukup akseptasinya dengan masakannya. Setidaknya menurut saya.

Nah, makan malam hari pertama ngantor baru keren. Sate itjap. Ya, sate daging sapi, dengan bumbu yang berbeda. Kuahnya dominan kecap manis, hampir tanpa kacang, dan tentunya tidak cukup pedas. Cocoklah untuk model seperti saya🙂 Jadi ya menyenangkan.

Dan yang menarik, ada penjual minuman di depan warung sate itjap ini. Shara memperkenalkan kosa kata dan jenis minuman ini sebagai aia daun kacang. Aia adalah bahasa minang untuk air. Daun kacang, nama asli dan panjangnya daun kacang tujuh jurai. Diambil daunnya, direbus, diambil airnya. Pada saat dingin, akan mengental dengan sendirinya. Dan makanya sebagian orang juga menyebutnya daun cincau, karena mengental seperti cincau.

Saya minumnya mirip minum jus lidah buaya, kental terkadang nemu seperti potongan kenyal daging daun lidah buaya seperti cincau. Bisa disajikan aia daun kacang dan bisa juga diberi santan. Saya memilih tanpa santan supaya rasanya lebih kentara. Warnanya memang agak aneh untuk ukuran saya, hijau! Ya hijau, kental dan relatif tidak bening (tembus pandang) karena kentalnya itu.

Rasanya lumayan. Agak hambar, kelihatannya karena kurang gula saja. Ya seperti minum rebusan daun. Khas daun. Namun enak kok. Jika ada yang nawari sekarang, boleh juga.

Menurut sang penjualnya, aia daun kacang berkhasiat menyembuhkan masuk angin, memperkuat imunitas, kesegaran tubuh. Wah, lha kok saya ingat semacam jamu di Jawa. Ah, memang ragam tanaman di negara ini begitu banyak dan pasti mempunyai manfaat. Jika saja terkelola dengan baik, yakin bisa mengangkat UKM dan juga mengangkat cita rasa lokal dan kekhasan daerah.

Lepas menikmati sate itjap dan aia daun kacang, balik ke hotel. Saatnya istirahat dan memastikan pekerjaan hari ini terselesaikan dan menyiapkan agenda esok pagi.

Hari kedua berlangsung baik. Makan siang masih sama di rumah makan sederhana, jadi ya masih sama ceritanya.

Makan malamnya baru luar biasa. Soto padang dan teh talua. Berlokasi di kinol, lumayan susah cari tempat parkir. Kinol lebih dikenal sebagai tempat makan, dan memang sepanjang jalan isinya cuma warung, rumah makan. Hanya sayangnya, satu sisi digunakan parkir, hanya satu sisi yang digunakan sebagai tempat makan. Seandainya, usulan saya nih, sepanjang jalan tersebut dijadikan car free, disediakan lahan parkir khusus, kelihatannya akan menarik.

Kembali ke soto Padang. Jika dilihat, mirip seperti soto banjar, soto betawi. Masih menggunakan santan berkunyit, oleh karenanya agak kuning. Hanya kata Shara ada yang agak salah. Soto Padang yang bener, menggunakan dendeng sapi kering disajikan terpisah dari kuahnya. Sehingga rasa dendengnya terasa, meski dimakan bersama kuah. Nah yang ini, yang saya makan, dendengnya sudah terendam dalan kuah soto, bersama emping. Jadi saya tidak menemukan kerenyahan dendeng dan rasa khasnya. Ya karena sudah tenggelam dalam dominasi rasa soto. Sayang sih memang, namun tetap saja menjadi pengalaman yang menarik.

Teh talua, masih ingat? Itu yang saya pesen untuk minumnya. Lumayanlah untuk menghangatkan badan dan nambah stamina🙂

Hari ketiga, kerja ngantor lagi. Kali ini tugas saya agak berbeda. Jadi ya pola makannya juga ikut berbeda🙂 Makan siang di rumah makan sederhana. Masih di tempat yang sama. Hanya jumlahnya lebih banyak dari hari pertama dan kedua. Jadi ya gelarannya juga lebih banyak.

Makan malam hari ketiga, sama dengan makan malam saya 2 pekan lalu. Ikan bakar di pantai Padang yang masih tanpa penenrangan di pantainya. Ah, sayang memang. Padahal sudah diusulkan lho. Maksudnya saya yang mengusulkan kepada warga Padang, Shara🙂

Yang agak beda, bumbu ikan bakarnya yang lebih terasa. Oh ya, yang ini masih di pantai yang sama, namun warungnya beda. Berjarak sekitar 20 meter dari warung yang saya kunjungi sebelumnya. Gurami bakar, bumbunya gurih agak pedes. Yummy sekali. Saya pun melupakan kegelapan di belakang saya. Lebih baik konsentrasi dengan gurami bakar saja🙂

Dan tentu saja, menu es durian tak ketinggalan. Keluar menyusuri pantai Padang, menuju rumah makan es durian. Ah, yang biasa saya kunjungi ternyata sudah tutup. Ya sudah jam 21 WIB sih. Aha! Ternyata masih ada buka. Tidak sia-sialah upaya ini.

Dan tentunya menikmati es durian. Walau agak beda, durian tetap durian🙂 Kali ini saya memesan es durian tanpa tebak. Lumayan lah, duriannya. Mangstab abis duriannya. Selesai menikmati es durian, saatnya pulang ke hotel. Hari ini cukup dengan gurami bakar dan es durian.

Dan makan siang hari keempat di rumah makan bumbu desa. Ada juga restoran Sunda di Padang. Begitu masuk rumah makan, langsung terasa atmosfir Sundanya. Langgam gamelan Sunda melantun sepanjang rumah makan buka. Sesekali ada suara burung. Saya menengadah. Saya melihat beberapa sangkar burung, namun saya tidak yakin ada burung beneran hidup disitu. Akan agak aneh dengan rumah makan yang tertutup, bertembok dan beratap, menaruh burung hidup. Faktor higinitas akan menjadi taruhannya. Dan dugaan saya benar, suara burung tadi bagian dari langgam gamelan yang diputar secara digital. Untung tidak pakai saung.

Iseng nanya, pramusajinya ternyata bukan Sunda. Hampir saja Sunda beneran, jika se orang-orangnya adalah Sunda.

Makanannya? Sunda abis. Pepes ada, ayam bumbu bakar ada, tempe bacem ada, beras putih atau merah ada, empela atau ati ada. Dan tentunya lalapan yang tidak pernah lepas dari khas masakan sunda.

Dan akhirnya saya bisa menikmati kesendirian, mulai jam kerja berakhir. Pulang dari kantor, dianter temen di Padang, kembali ke hotel jam 18 WIB. Masih sore untuk ukuran saya. Ya karena Shara, teman baik saya, terbang ke Jakarta. Dan tamu saya juga kembali ke kantornya. Jadilah saya menikmati kesunyian, yang menyenangkan.

Saya jadi mempunyai kesempatan untuk melakukan hobi amatir saya. Foto memfoto. Kebetulan hotel saya terletak di pantai Padang Panjang. Sore itu juga saya hanya menaruh tas dan berganti sendal di lantai 6 dan langsung kabur ke lobby, langsung menuju ke belakang hotel.

Di belakang hotel, pantai dengan pasir putih menghampar sekitar 3 meter sebelum air laut. Dan setiap 20 meter, kurang lebih, dibuat pemecah ombak, susunan batu setinggi kira-kira 3 meter di atas permukaan air laut dan menjorok ke lau sepanjang, kurang lebih, 6 meter.

Saya asyik memotret pantai, batas pasir yang selalu dipeluk air laut. Putihnya pasir, meski tidak lebar, mengingatkan saya pada pantai di Bali. Menjelang maghrib, matahari mulai turun mendekati horison. Pun kesempatan ini yang saya tunggu. Memotret matahari tenggelam, sunset. Cantik dan warna keemasan bersemburat merah tua berjalin kelindan mengiringi matahari ke peraduannya.

Maghrib, saya sholat. Dan setelahnya saya kembali ke pantai, masih tetap menikmati senja yang perlahan tergantikan malam.

Ah, di susunan batu, saya berdiam menikmati angin. Warna keemasan, berjalin kelindan dengan merah tua, dan berangsur memudar seiring tenggelamnya matahari. Warna yang indah. Dengan segala keterbatasan kamera dan pengetahuan, proses mengabadikannya menjadi lebih menantang dan menyenangkan.

Dan disusunan batu itu pula, saya bertemu dengan pak Son. Memang demikian namanya. Ternyata beliau sholat maghrib di susunan batu itu, menghadap ke barat, menatap ke lautan lepas. Saya kok membayangkannya menjadi lebih syahdu, lebih khusyuk dan lebih terasa kebesaran Allah SWT. Berucap Al-Fatihah dengan suara deburan ombak. Dan ayunan ayat-ayat Qur’an mengalun mengindahi setiap desau angin yang berhembus.

Saya hanya ngobrol sebentar dengan beliau. Namun menjadi pembicaraan yang menarik.

Dan makan malam pun, saya memilih di hotel. Berhari-hari di hotel ini, baru kali ini makan malam di restorannya. Bermenukan sate maranggi, jus pinang dengan jahe dan gula merah.

Kombinasi yang aneh? Yup, karena pengin nyoba sesuatu yang baru. Sate maranggi-nya lumayan lah. Baluran bumbu kecapnya cukup meredam pedesnya irisan cabe hijau.

Nah jus pinang ini, justru baru minum di Padang. Padahal di Papua buanyak, hanya belum pernah ketemu jus pinang.
Rasanya? Agak getir, ditingkahi rasa jahe yang agak pedas dan manisnya gula merah yang khas. Disajikan hangat. Lumayan menghangatkan badan setelah berangin-angin di pantai.

Dan akhirnya, esok paginya kembali terbang ke Jakarta. Dan keinginan itu terbayar pada kunjungan yang kedua ini. Ternyata ada sate yang tidak pedas🙂

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juli 1, 2010, in kisah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Wah .. malah saya yang baca pak🙂 nge link ke Linedin soalnya.
    Mantaf .. wisata kuliner terus. Lebaran saya ke Padang nanti pasti ke tempat2 yang pak Ihda kunjungi itu lho …
    btw, itu baru hanya di padang lho pak, belum bukittinggi, payakumbuh, tanah datar .. semua makanan nya macam2 lagi :))
    peace

  2. hehe, lengkap banget sajiannya ya Pak…
    salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: