Horison Kehidupan


Sudah cukup lama ide ini muncul, dan selalunya teringat pada saat berada di pesawat. Terinspirasi pada kronologis kecelakaan pesawat piper saratoga John F. Kennedy jr., yang diceritakan oleh gladwell dalam bukunya what the dog saw.

Ia, Kennedy jr., terbang malam hari dari Essex County New Jersey dengan tujuan Martha’s Vineyard. Pada satu titik ketinggian tertentu ia kehilangan kendali atas pesawat yang dikemudikannya. Dan Kennedy jr. tidak berusaha untuk melakukan koreksi atas kehilangan kendali tersebut. Apa yang terjadi justru menjadi pertanyaan banyak pihak, dan saat ini menjadi inspirasi saya untuk menulis. Kennedy jr. tidak menyadari jika ia telah jauh meninggalkan horison, dan mulai bergerak menyimpang dari arah.

Pertanyaannya adalah kenapa ia tidak menyadari. Karena ia tidak melihat horison, segalanya cukup gelap akibat ia menyeberang lautan Atlantik, yang mestinya mengikuti lampu pada garis pantai Rhode Island dan Buzzards Bay.
Dengan menyeberangi lautan Antlantik, ia tidak melihat horison dan ia tidak menyadari jika ia keluar dari jalur, dan bergerak turun. Dan pada titik kesadaran itu muncul, terlambat. Engine pesawat tidak mampu mengangkat badan pesawat akibat gaya gravitasi dan percepatan pesawat. Ia menukik menghunjam lautan Atlantik di lepas pantai Martha’s Vineyard Massachusetts.

Pada sisi yang berbeda, saya seringkali melihat ke jendela, menikmati lekuk-lekuk awan, selama perjalanan saya di pesawat. Saya pun tahu, jika pesawat belok, berubah ketinggian, mengurangi kecepatan. Karena saya melihat awan, horison langit sebagai patokan. Ketika pesawat berbelok giroskop di kepala saya bergerak, didukung data dari mata saya bahwa ada patokan yang diterjemahkan pesawat belok. Maka otak saya menerjemahkan bahwa pesawat berbelok karena saya merasa bergerak dan melihat ada perubahan arah.

Saya terkadang iseng dengan mengalahkan keingin tahuan saya dengan tidak melihat ke jendela. Terinsiprasi dari kronologi kecelakaan Kennedy jr. tadi. Saya tetap memandang kemanapun, kecuali jendela. Saya merasakan gerakan pesawat, namun saya tidak bisa melihat perubahan arah pesawat. Otak saya hanya menerjemahkan, bahwa pesawat bergerak. Kemana? Saya tidak tahu. Apakah pesawat berubah arah? Saya tidak tahu. Yup, begitulah awal mula kronologi kecelakaan pesawat yang dialami Kennedy jr. Dia tidak menyadari jika ia keluar dari jalurnya, karena ia tidak melihat patokan.

Kenapa saya menulis ini? Saya menganalogikan dalam kehidupan manusia. Horison adalah tujuan hidup manusia, garis pantai adalah arah dalam kehidupan, dan awan adalah rambu-rambu kehidupan. Bayangkan jika kita tidak melihat ketiganya, tidak mempunyai tujuan hidup, tidak tahu arah yang akan dijalani dan tidak melihat rambu-rambu kehidupan. Maka situasi tersebut saya menyebutnya dengan blindfold life, hidup dengan mata tertutup. Yup, tanpa itu semua, tujuan-arah-rambu kehidupan, you are in the middle of nowhere and don’t know where to go.

Jika sahabat tidak punya tujuan hidup, bukankah sahabat tidak tersesat? Jika sahabat tidak punya arah kehidupan, bukankah sahabat tidak pernah keliru? Dan jika sahabat tidak mempunyai rambu, bukankah sahabat tidak pernah salah? Semacam paradoks bukan?

Pak Ikhwan Sopa berkata, aturan, batasan, dan target diciptakan untuk mengoptimalisasi kreatifitas. Ketiadaan semua itu menjadikan kreatifitas tak berguna dan membosankan, sementara ke-berlebihan-nya menjadikan kreatifitas mati dan sirna. Those are for our own sake!

Justru dengan rambu-rambu kehidupan manusia akan hidup lebih berarti, dengan segala karya kreatifitasnya. Sesekali ia akan salah dan menabrak rambu-rambu tersebut. That’s life! Manusia akan belajar dan memacu kreatifitasnya untuk mencegah tabrakan dengan rambu-rambu tersebut.

Justru dengan arah kehidupan yang jelas, manusia akan sesekali menemukan kekeliruan dalam mengambil arah. Ia bisa mendefinisikan kekeliruan justru karena ia punya arah. Dan kreatifitasnyalah yang justru memperbaiki kekeliruan tersebut.

Justru dengan mempunyai tujuan hidup, ia terkadang tersesat, berbelok dari tujuan semula. Ia melakukan koreksi dan kembali pada jalur yang benar untuk mencapai tujuan. Dan itu dilakukan dengan kreatifitas.

So what? Apa yang akan sahabat lakukan jika tersesat? Bersyukurlah, sahabat punya tujuan. Lakukan koreksi dan belajar dari pengalaman supaya tidak tersesat lagi.

Jika belum mempunyai tujuan? Ya mari dibuat tujuan hidup.

Daripada hidup dalam situasi blindfold life, sahabat akan terbang kemana-mana tanpa melihat horison, radar, GPS, semua sensor mati dan pada saatnya sahabat tidak tahu berada dimana, akan kemana.

Aktifkan semua sensory perception kita. Temukan horison itu dan terbanglah menuju kesana, ke tujuan abadi setiap dari kita.

Selamat terbang!
Sebagaimana saya terbang sambil menulis catatan ini, semoga bisa di-upload secepatnya. Saya masih lebih suka melihat jendela, menikmati bulatan awan dan mengetahui kemana pesawat ini bergerak. Karena saya punya tujuan.

Ada cerita menarik yang saya kutipkan dari bukunya Paul Arden, think the opposite.

Seorang pemuda bekerja sebagai pembawa pesan di sebuah perusahaan periklanan.
Suatu hari ia berkata kepada manajernya, “Saya keluar. Saya akan menjadi seorang drummer.”
Manajernya menyahut, “Saya tidak tahu kamu dapat menabuh drum.”
Ia menjawab, “Sekarang memang tidak, tetapi saya akan menjadi seorang drummer.”

Beberapa tahun kemudian pemuda itu bermain musik bersama Eric Clapton dan Jack Bruce, di sebuah band yang disebut Cream, dan nama pemuda itu adalah Ginger Baker.
“He became what he wanted to become before he knew he could do it”
Karena Ia mempunyai tujuan.

Adakah engkau sudah menetapkan tujuan, sahabat?

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juni 20, 2010, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: