Selamat Jalan Mbah….


Sahabat, hari ini tadi pagi jam 7 WIB kakek saya meninggal. Ya, beliau sudah dipanggil Allah untuk yang kedua kalinya. Yang pertama beliau memenuhi panggilan Allah SWT dengan berziarah ke rumah Allah yang mulia di kota Makkah Almukaromah. Dan hari ini, panggilan itupun tiba. Panggilan yang kedua, panggilan yang tidak mengenal kata kembali.
Saya mengenang kakek saya sebagai pelaku sejarah, pelaku ekonomi dan tokoh masyarakat.
Saya selalu terkesan, pada waktu saya kecil, beliau selalu bercerita sejarah perjuangan bangsa dan negara ini. Beliau bersemangat menceritakan perjuangan para ulama, para santri, pada saat beliau harus mengendap dalam parit sawah. Makan bersama dalam barak-barak di pesantren sambil membersihkan senapan dan mengasah parang. Beliau, meskipun bukan termasuk militer, cukup tahu apa yang terjadi karena ikut terlibat dalam barisan para santri yang dikomandani langsung oleh para ulama.
Setelah jaman mulai stabil, ekonomi bergeliat, beliaupun kembali berdagang. Mempersunting seorang putri dari kalangan kiyai, sehingga lahirlah ayah saya. Ayah saya, almarhum, merupakan putra pertama kakek. Dan saya juga cucu pertama. Jadi wajar jika saya menjadi cucu kesayangan, sampai adik saya lahir🙂
Berdagang melanjutkan usaha keluarga beliau. Ayah beliau, pedagang yang cukup terkenal di jamannya untuk kawasan Kudus-Demak-Semarang-Jepara. Darah pengusaha mengalir pada beliau.
Saya pun sering mendengarkan cara beliau berdagang. Saya pun sering diajak ke ruang kerja beliau. Sebuah kamar dalam rumah yang disulap menjadi ruang kerja, menyimpan barang dagangan, menyimpan catatan keuangan, menyimpan rencana dan impian beliau dalam membentuk masa depan keluarga. Saya selalu ingat ruang itu. Karena saya selalu diajarkan dalam pesan beliau: “Nang Ihda, ini seribu. Tapi ditabung, bukan untuk jajan”.
Masih di usia yang sangat kecil, saya sempat bertanya, “Mbah, Makkah itu apa?” Menurut cerita ayah saya, saya hanya diceritakan ka’bah. Pada saat walimatussafar kakek saya, beliau cerita tentang Makkah. Pun dengan semangat beliau bercerita tentang Kanjeng Nabi. Toh tetap saya belum mengerti. Yang saya tahu, pada saat walimatussafar, orang banyak sekali berkunjung. Tentunya makanan banyak. Dan untuk ukuran anak sekolah SD itu sudah cukup. Hanya saya yang tidak mengerti, kenapa kakek dan nenek saya pamitan. Seperti tidak akan kembali. Saya baru menyadari ketika saya remaja dan saudara sepupu saya, meninggal di tragedi Mina pada saat menunaikan ibadah haji.
Pada saat kembali dari haji, orang juga banyak berkunjung. Saat itu saya disuruh oleh tetangga saya untuk memanggil beliau Mbah Kaji. Hanya saja, tetap saja saya kembali ke kebiasaan lama, cukup Mbah saja.
Saya digendong kesana kemari sambil bercengkrama dengan tamu. Saya dibelikan mainan seperti kamera kecil dari plastik berwarna hijau terang. Saat saya tekan tombol diatasnya, sambil saya mengintip gambar didalamnya. Ah, saya melihat gambar ka’bah, saya melihat masjid alharam, saya melihat orang-orang berthowaf. Saya saat itu tahu gambar ka’bah berwarna dan bagaimana bentuk masjid alharam. Saya bandingkan dengan langgar (baca mushola) sebelah, jauuuuuh. Dan kamera mainan itu tak pernah lepas dari tangan saya, sampai saya terlelap tidur dibahu kakek saya.
Memori yang indah.
Kali ini, beliau menepati panggilan kedua, setelah beliau menepati juga panggilan pertama beliau.
Selamat jalan Mbah. Mohon maaf cucumu tidak bisa mengantarkan Mbah ke peristirahatan terakhir.
Hanya doa yang bisa saya sampaikan. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di akhirat.
Saya masih mengamalkan nasihat Mbah. Setiap selesai sholat fardlu dzikir kalimat thoyibah, sayyidul istighfar, beberapa ayat pilihan dalam AlQur’an. Semoga Mbah bisa juga bertemu dengan nenek dan ayah di akhirat.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Maret 30, 2010, in kisah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: