Imajinasi Saya


Sahabat, saya sedang belajar merangkai rubik. Agak rumit namun menyenangkan. Saya bisa menggunakan segenap imajinasi saya hanya untuk menyusun kubus berwarna itu. Ya saya berima jinasi dengan segenap jiwa dan raga saya.
Nah saya teringat dengan sebuah tulisan pak Prasetya dalam perjalanan saya. Sambil menunggu pesawat, di lounge saya mendapati pencerahan yang membuat saya berusaha mencintai rubik.
Jika saya mengajak sahabat untuk berimajinasi sebentar. Kita bayangkan sebuah mobil, apapun. Mobil tersebut begitu indah, gagah dengan grill, bullbar, garisnya halus namun tegas.
Kita buka pintu pengemudi dan duduk di kursi pengemudi. Wow, seat cushionnya lembut, dengan busa yang empuk. Sandaran kursinya secara otomatis menyesuaikan dengan tinggi dan berat badan kita. Pun jarak kursi ke kemudi, menyesuaikan otomatis. Maka pegangan kita ke kemudi mobil menjadi nyaman. Ah, kemudinya pun terbalut bahan kulit, benar-benar nyaman dipegang.
Saat menghidupkan sistem elektrik dan mulai menghidupkan mesin, sapaan suara lembut menyapa kita. “Selamat datang, selamat pagi. Apakah anda sudah tersenyum hari ini?” Aha, mobil pintar. Kita bisa dipandu dengan kemampuannya berinteraksi dengan mobil. Pun saat menghendaki lantunan Tohpati dari album Serampang Samba, benar-benar serasa mendengarkan permainan gitar akustik Tohpati, yang memanjakan telinga.
Interior mobil yang begitu nyaman, hembusan udara mewangi pun diatur menyesuaikan dengan suhu tubuh kita. Suhu yang tidak panas namun juga tidak dingin, semakin nyaman dalam berkendara.
Dan satu hal lagi, captain seat-nya mampu menampung beberapa minuman, baik dingin maupun panas, kita yang menentukan. Sehingga berkendara lebih nyaman dengan segelas ice blackcurrant tea yang segar.
Menarik bukan? Yup, semua itu terjadi didalam pikiran kita, otak kita. Dan inilah salah satu karunia Tuhan pada manusia.
Dalam ilmu pengetahuan, semua imajinasi di atas dalam ranah VAKOG. Visual, Auditory, Kinestetic, Olfactory, Gustatory. Ya kita memvisualkan mobil itu dengan garis yang lembut namun tegas, gagah dan seterusnya. Kita mendengarkan gitar akustik Tohpati sepanjang perjalanan, kita merasakan lembutnya seat cushion dan pegangan kemudi yang mantap. Kita menikmati wewangian harum lembut dalam mobil. Kita merasakan segarnya ice blackcurrant tea sambil mengendarai mobil.
Nah, kita menggunakan VAKOG dalam imajinasi kita. Dalam keseharian, VAKOG adalah modalitas kehidupan. Namun bukankah binatang juga mempunyai VAKOG juga? Betul. Binatang mempunyai VAKOG juga. Hanya berbeda pada tujuannya. Binatang menggunakan VAKOG sebagai sensory perception, sebagai indera, tidak lebih. Binatang menggunakan kemampuan penglihatan, pendengaran, bau, kinestetik, mendengarkan sebagai indera untuk hidup.
Manusia, selain menggunakan VAKOG sebagai indera juga menggunakannnya sebagai thinking, proses kreatif manusia. Dan itu yang baru saja kita lakukan. Pada aktualnya, kita tidak melihat mobil tersebut, namun kita bisa menggunakan VAKOG dalam proses kreatif dalam pikiran kita. Jadi sangat jelas perbedaan manusia dan binatang.
Dan berbicara tentang kreatif, tak berlebihan jika, masih di artikelnya pak Prasetya, dikatakan cara paling mudah mengkhianati Tuhan adalah dengan tidak kreatif. Dengan tidak menggunakan anugerah VAKOG dalam thinking mode di kehidupan kita. Anugerah VAKOG dalam proses kreatif hanya ada pada manusia. Jika tidak digunakan bukankah pembiaran atas anugerah Tuhan? Dus sama dengan menelantarkan dan bahkan membatasi dan ujungnya adalah mengkhianati tujuan dari anugerah ini.
Maka gunakanlah VAKOG dalam proses kreatif kita. Saya menggunakan sebagian dari VAKOG dalam menyusun rubik. Saya menggunakan VAKOG saat ini, saat saya menulis artikel ini.
Sekalian saya menulis artikel ini pada hari Minggu, hari libur. Mengutip pak Ikhwan dalam statusnya, saatnya rekreasi. Ya rekreasi. Kata tersebut saya bagi menjadi dua kata, rekreasi menjadi re dan kreasi. Ya, penciptaan ulang, re-kreasi. Kreasi, penciptaan selalu diulang oleh manusia, pertama di pikiran manusia dengan VAKOGnya dan kemudian dikreasikan menjadi kenyataan. Kreasi sebagai proses kreatif manusia akan sangat kuat dengan menggunakan VAKOG secara total.
Maka pas di hari libur yang kita dedikasikan untuk rekreasi, mari kita wujudkan mobil imajiner kita. Mari kita wujudkan apapun mimpi dalam pikiran kita. Mimpi yang berVAKOG akan lebih kuat dan lebih dalam dan juga akan mempunya daya pewujudan yang lebih dahsyat.
Imajinasi kita hanya dibatasi oleh kemampuan kita berimajinasi.
Dan saya berimajinasi, saya diketinggian tebing di pantai. Merasa angin menerpa wajah saya membaui air laut. Sambil saya merangkai rubik, berdiri bersandar pada mobil saya. Ditemani istri saya yang tertawa melihat rubik saya semakin tak berbentuk, ditingkahi suara anak-anak saya yang saling lempar bola pasir. Ah betapa indahnya, dan saya harus bersyukur karenanya. Meski hanya imajinasi.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Maret 21, 2010, in pencerahan and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. mumpung berimajinasi gratis, ngikut aja deh..šŸ˜€

  2. Tulisan yang menarikšŸ™‚
    Sebelum blog ini berkembang menjadi lahan bisnis online, ada baiknya pake domain sendiri biar ga kena banned.

    Mudah2an di Timika nanti ada Internet Marketing Comunity :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: