Muhammad SAW, The Inspiring Romance


Romantisme biasanya lekat dengan Barat dan modern. Ambil contoh Paris. Ibukota Perancis ini dikenal sebagai kota cinta dan kota paling romantis di dunia. Valentine, Romeo and Juliet, seluruhnya tidak identik dengan Timur, apalagi Islam. Jarang, bahkan mungkin terasa amat mengherankan ketika disebutkan bahwa dunia Islam juga menorehkan sejarah dan romantisme yang sangat hebat.

Maka, ketika ada sebuah buku yang mengulas hadits-hadits sahih bukti romantisme nabi, sejatinya buku itu akan sangat menarik perhatian. Malah, kehadirannya sungguh dibutuhkan saat ini. Paling tidak, di samping menjadi referensi yang Islami, para pembacanya dapat menemukan trik-trik untuk menghindarkan diri serta melindungi keluarganya dari ancaman kehancuran rumah tangga yang datangnya tak disangka-sangka. Bukan apa-apa, sekuat-kuatnya godaan dari luar, yang jauh lebih penting sebagai benteng pertahanan rumah tangga adalah harmoni suami istri. Salah satunya: dengan romantisme yang tak pernah padam.

Sungguh, rasa cinta itu memang perlu terus dibakar agar tetap menyala dan menghangatkan rumah tangga. Di sinilah arti penting buku ‘Muhammad SAW, The Inspiring Romance’ yang ditulis Hatta Syamsuddin, Lc. Simak saja beberapa ide dari total 40 inspirasi yang dilengkapi hadits-hadits dan kisah yang kabarnya terkumpul secara tak sengaja karena didorong keingintahuan sarjana lulusan fakultas syariah Universitas International Afrika ini menemukan jejak-jejak romantisme ala Rasulullah SAW.

Beberapa diantaranya: “Cucilah pakaianmu wahai para lelaki, ambillah (cukurlah) sebagian rambutmu, bersiwaklah kamu, berhiaslah dan bersucilah, karena Bani Israil tidak melakukan ini padahal istri-istri mereka berhias”. Hadits yang diriwayatkan HR Ibnu Sakir ini mengajarkan para suami untuk menjaga penampilan, baik pakaian, rambut, kumis, jenggot dsb. Jangan acuh, karena tampilan inilah yang ditatap oleh mata pasangan Anda. Meski sederhana, ia bisa menggetarkan.

Atau juga hadits berikut ini. Dari Miqdad bin Ma’ad ra, Rasulullah SAW mengajarkan, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahu kepadanya bahwa ia mencintainya”. (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad. Hadits ini mengingatkan kita untuk tak pernah bosan mengungkapkan kata cinta. Meskipun cinta bukan sekadar kata, namun ia tetaplah membutuhkan sebuah pengakuan.

Banyak lagi contoh lain yang telah nabi praktekkan dalam membuat hati istri beliau tergetar dan merasakan cinta yang tak pernah dingin. Ada kisah yang mencontohkan betapa perlunya sesekali makan bersama dalam satu piring. Ada juga inspirasi dari satu hadits berikut yang sudah cukup populer disebutkan dalam kisah-kisah percintaan nabi. “Adalah aku pernah mandi bersama Rasulullah dari satu bejana antara aku dan beliau…” Hadits yang diriwayatkan Aisyah RA ini juga mencontohkan bahwa mandi bareng bisa memicu kehangatan ikatan suami istri.

Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang dipaparkan. Efek psikologis penulis yang masih relatif muda menjadi kekuatan tersendiri buku setebal 304 halaman terbitan Indiva Media Kreasi tahun 2007 ini. Inspirasinya sangat kontemporer dan gaul. Cocok dijadikan referensi oleh setiap pasangan yang baru menikah. Jurusnya tak butuh modal besar. Rasanya, unsur kemahasiswaan saat buku ini diselesaikan membuat penulisnya justru kreatif menggali ide serta mengadaptasi praktek yang pernah diterapkan nabi. Maka, tertulislah ide-ide cerdas nan produktif semisal, diskusi dan sharing buku bacaan, saling mengajarkan dan bertukar keterampilan, merangkai puisi dan untaian kata mesra, dan lain-lain.

Yang tidak kalah menarik, bukan hanya kreatifitas dalam menghangatkan rumah tangga. Sebagai sebuah buku dakwah, penulis mengarahkan pembacanya untuk meletakkan cinta keluarga di tempat yang sepantasnya. Untuk ini hadits yang cukup mewakili berbunyi, “Sesungguhnya cinta mulia berasal dari iman”. Karena itu, pekerjaan berat dan indah dalam seluruh aktivitas cinta keluarga haruslah berpengaruh pada peningkatan keimanan si pencinta.

Kalaulah ingin disebutkan kekurangan, sayangnya buku ini tidak memberi perhatian khusus pada isu seputar poligami. Padahal, tiap kali masalah rumah tangga dikaitkan dengan dunia Islam, tudingan miring yang dilandasi kecurigaan atas kecurangan dan ketidakseimbangan posisi laki-laki terhadap perempuan selalu muncul. Apalagi, istri-istri nabi juga menghadapi kendala-kendala emosional seperti cemburu dan semacamnya. Pertanyaannya, bukan sekadar bagaimana hadits-hadits nabi mencontohkan manajemen cinta pada beberapa pasangan, tetapi juga bagaimana agar para lelaki tidak asal mengutip ‘sunnah rasul’ untuk membenarkan poligami yang mereka lakukan.

Yang berdasar Hatta Syamsudin Lc, pengarang buku ini, akan dijabarkan dalam edisi keduanya. Mestinya akan menjadi bahasan yang menarik. Apakah akan menjadi bahan polemik baru atau bahkan memberikan sesi praktis dalam cinta yang berbilang.
Kita tunggu saja.
*menyadur resensi pak muchammad dengan penambahan seperlunya.*

Saya bercita-cita bikin acara bedah buku ini di Timika, bagian dari tarbiyah a’iliyah. Ada yang tertarik dengan bukunya? Saya punya 3 yang salah satunya dengan tanda tangan asli penulisnya🙂

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Desember 30, 2009, in Buku and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. saya tertarik dengan bukunya😀

    Fiamanillah,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: