Menanti Di Stasiun Kehidupan


*Hidup ini hanya kepingan…. (Pas Band)*

Menanti adalah pekerjaan yang paling asyik sekaligus paling membosankan.
Tergantung dari sisi mana kita memandang dan menikmatinya. Saat menunggu kereta api dalam kondisi santai, misalnya, bersama kekasih atau istri, barangkali itu merupakan momen mengasyikkan. Bahkan, jika itu merupakan
pertemuan perpisahan, kita berharap kereta itu lambat datang. Meski tanpa diharapkan demikian kereta api di Indonesia memang sudah sering terlambat datang. Namun, jika kita hendak berangkat kuliah atau kerja dan jam masuk merangsek cepat, penyakit telat kereta itu menjadi sungguh menjengkelkan.
Lebih-lebih jika ia datang dengan berjubel penumpang hingga ke atap. Hendak diselipkan di mana lagi tubuh tipis ini, mungkin demikian gerutu kita.

*Back to laptop*, soal menanti sebagaimana saya jalani semasa kuliah hingga beberapa bulan setelah pernikahan — di mana saya menjadi penumpang tetap kereta — adalah persoalan tersendiri. Namun saat menanti di stasiun kereta, saya belajar beragam hal. Antara lain belajar mengisi waktu, dengan baca
koran atau sekadar mencuri baca dari kawan sependudukan yang membentangkan lebar-lebar korannya. Itu jika tanggal tua. Juga belajar menilai karakter peminta-minta.

Ya, tentu saja, keluarnya uang dari kantong ke telapak tangan si peminta-minta butuh siklus keputusan dengan berbagai parameter: pengemis cacat atau tidak? Ada uang di kantong apa tidak? Pengemis wanita atau laki-laki? Jika wanita, sudah tua apa belum? Jika laki-laki, kelihatan gagah atau tidak. Terus, dari air mukanya, kira-kira jujur atau tidak. Tapi jika malas atau mengantuk selepas begadang malamnya ya sudah siklus itu lewat saja, dan yang ada adalah isyarat penolakan halus dengan ucapan,”Maaf, Pak/Bu.” Saya juga belajar menahan pandangan mata meski lewat seliweran gadis-gadis pekerja kantor dengan beraneka busana menantang. Mencoba mengingat wajah cantik istri dan, saat anak sudah lahir, tidur lelap si mungil yang kini sudah jadi si bongsor.

Ah, menanti memang paling mengasyikkan sekaligus paling membosankan.
Tergantung bagaimana kita memaknainya, tergantung bagaimana kita mengisi waktu selama penantian. Kita mengisi waktu dalam penantian dan kita belajar banyak hal selama penantian berlangsung. Barangkali seperti itulah hidup kita — yang menanti di tiap stasiun kehidupan menuju destinasi akhir, kematian. Kereta kehidupan akan selalu datang dan, beda dengan buatan
manusia, akan selalu tepat waktu.

Di tiap stasiun kita punya cerita penantian masing-masing. Di stasiun kelahiran, ada tawa ceria dan melulu bahagia. Mungkin hanya di stasiun ini tak kita kenal rasa bosan. Di stasiun SMP, kita bosan dianggap “anak bawang” dan pingin cepat-cepat pindah ke stasiun berikutnya, agar dipercaya belajar mengendarai motor bapak, misalnya. Di stasiun yang lain, stasiun SMA, misalnya, ada cerita cinta dan mungkin patah hati. Di stasiun favorit, seperti stasiun jodoh, banyak yang mengantri naik. Ada yang datang belakangan namun langsung naik duluan. Namun ada yang harus sabar menanti hingga giliran belakangan. Jika yang tak berikhtiar sama sekali, ia akan termangu diam dan ragu, penuh kebimbangan dan ketakutan akan seperti apa perjalanan kereta di stasiun-stasiun berikutnya.

Hidup ini adalah kepingan-kepingan yang harus berupaya kita rangkai menjadi utuh. Satu stasiun, semisal stasiun jodoh atau rejeki saja, bukanlah gambaran kehidupan itu sendiri secara menyeluruh. Kereta harus melalui tiap stasiun agar tercipta satu rangkaian rute yang utuh dan lengkap. Dan setiap kita akan menjalaninya, lantas apakah garis hidup setiap orang akan sama?
Tidak, karena yang membedakan adalah pada kualitas waktu penantian itu sendiri. Akankah kita menggerutu atau tersenyum dalam tiap menit penantian? Apakah
kita terlena tidur atau bersiap siaga? Apakah kita mengatur rencana atau sekadar menatap hampa dengan wajah bosan?

Ya, menanti di stasiun kehidupan semestinya adalah seperti tukang koran menanti pembeli di stasiun. Ia aktif, ia bergerak, ia mengalir dengan semangat untuk hidup.

*Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1431 Hijrah. Semoga hidup, amal ibadah dan kehidupan kita lebih berkah di tahun yang baru. Amin!*
Tulisan mas Nursalam dari milis sebelah

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Desember 22, 2009, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: