Persepsi Kehidupan (2)


——bagian 2——

Manusia juga terjebak dengan belenggu persepsinya.
Persepi yang sama yang membelenggu jangkrik sehingga tidak mampu melompat lebih tinggi dari kotak korek api. Persepsi yang sama mengikat gajah meski rantainya sudah dilepas. Persepsi, kata kunci saat ini.
Mengutip dari mas Syarif, faktor apakah yang sebenarnya membuat anda demikian terikat oleh kondisi yang tidak anda sukai?
Ayo segera bangun dan berpikir jernih, sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar memaksa kita.

Periksalah kembali, daftar panjang dan terlihat berat itu.
Apakah pantas alasan itu lebih perkasa dibandingkan kemerdekaan kita untuk memilih?
Seberapa menakutkankah kegelapan yang akan menghadang, dan apakah lebih gelap dari mata terpejam?
Seberapa dalamkah jurang yang menganga, dan apakah lebih dalam dari hati manusia?
Seberapa mengkhawatirkan ketidakpastian yang akan terjadi, apakah lebih akut dibandingkan dengan ketidakpastian nyawa kita besok hari?
Seberapa besar amarah pasangan kita, apakah akan menyebabkan cintanya hancur lebur dan retaknya biduk bahagia keluarga?
Apakah kasih sayang orangtua demikian rendah sehingga akan luntur padahal kasih mereka sepanjang jalanan?

Tahukah siapa yang benar-benar memaksa anda bertahan untuk tetap berkubang dengan kondisi yang tidak anda sukai?

Dia itu adalah ANDA sendiri!
Mari kita berjernih pikiran, bahwa sebenarnya yang memaksa anda untuk tetap dalam kondisi itu adalah Anda Sendiri!

Bukankah di dunia ini, tidak ada yang benar-benar memiliki kesempatan tunggal. Jika ada peluang gagal, berarti disisinya ada peluang sukses. Jika ada peluang menganggur, berarti disisinya ada peluang bekerja. Jika ada peluang susah, berarti disisinya ada peluang mudah. Jika ada peluang untuk jatuh, berarti disisinya ada peluang naik.
Bahkan keniscayaan keberadaan Tuhan pun dipersepsikan ada pendampingnya, yakni keyakinan atheis.

Satu-satunya yang tidak ada pasangannya adalah persepsi. Jika anda mengatakan diri anda tidak merdeka, maka anda benar-benar sedang kehilangan kemerdekaan anda.
Sekali lagi, tidak pernah ada yang memaksa anda, kecuali anda sendiri.

Anda benar-benar pribadi merdeka yang utuh sampai persepsi anda mengatakan bahwa anda tidak punya pilihan.
Setelah kehidupan, anugerah terbaik dari Tuhan, bagi anda adalah kemerdekaan anda.

Maka kembalikan persepsi kita dalam kemerdekaan yang sesungguhnya. Anda benar-benar merdeka dan oleh karenanya anda mempunyai keinginan. Maka persiapkan jiwa anda untuk keinginan itu. Persiapkan hati anda untuk impian itu.
Ingat, jiwa yang kerdil, hati yang kecil tidak mungkin menghasilkan keinginan yang besar.
Selamat menempuh hidup baru.
*renungan dini hari atas persepsi saya pada kehidupan*

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 31, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: