Persepsi Kehidupan (1)


Seekor katak secara refleks dapat melompat menyelamatkan diri jika ia secara tiba-tiba dimasukkan ke dalam kuali yang berisi air mendidih. Namun, jika sedari awal katak itu dimasukkan ke dalam kuali yang airnya dingin, ia akan diam karena berada dalam zona nyaman.

Sekalipun air itu dipanaskan secara perlahan-lahan, si katak tetap akan diam. Bahkan, si katak terlelap tidur!

Dia tidak berusaha menyelamatkan diri karena menikmati hangatnya perpindahan suhu air. Ini berarti si katak sudah beradaptasi dengan panasnya air karena dari awal dia sudah beradaptasi dengan “ancaman lambat”. Akibatnya, si katak tidak pernah menyadari adanya ancaman lambat hingga ia mati dalam air mendidih dan lebih celaka menikmatinya (Peter Senge, The Fifth Discipline, 1990).

Sama halnya dengan seekor jengkerik/jangkrik yang mustinya bisa melompat bermeter-meter jauhnya. Namun oleh pemiliknya, jangkrik ini dijadikan jangkrik aduan, dan disimpan di kotak korek api. Setiap hari diberi makan dalam korek api. Pada saatnya jangkrik ini harus bertemu lawannya, ia melompat. Namun tak tidak lebih jauh dari beberapa sentimeter. Huh, kata pemiliknya. Jangkrik itu begitu terbiasa terkungkung dalam kotak korek api, hingga lompatannya tidak sejauh melainkan batas panjang korek api dan setinggi korek api.

Di suatu negara, pernah terjadi kebakaran yang melanda kebun binatang. Maka oleh petugas kebun binatang tersebut, semua pintu kandang/kerangkeng dibuka. Semua hewan dilepas, semua digiring keluar. Tak terkecuali gajah muda ini. Ya, gajah muda pun dilepas, rantai yang biasa mengikat rantainya dilepas. Heran, begitu pikir pawang gajah. Sang gajah muda hanya gelisah memandang asap, tapi ia tak beranjak keluar kandangnya. Gajah ini hanya berjalan kesana kemari. Ya, kesana kemari, namun ternyata dalam radius rantai. Meski rantai sudah dilepas dan sang pawang melecuti gajah untuk pergi, tetap gajah hanya berputar-putar disitu. Ah, ternyata, sejak kecil gajah itu terbiasa dirantai. Hingga saat kebun binatang itu terbakar, bahkan saat sudah dilepas rantainya, gajah muda ini masih menganggap tidak mungkin untuk berjalan keluar pintu kandangnya. Dan akhirnya gajah muda itu mati terbakar.

Apa moral story dari 3 cerita di atas? Yup, semuanya masuk dalam faktor pembiasaan yang berujung pada kematian.
Begitulah hidup kita. Sebagian dari kita mengeluh, sebagian dari kita mengatakan Tuhan tidak adil, sebagian dari kita mengatakan hidup ini aneh. Namun pada kenyataannya, manusia yang mengatakan itu semua ternyata masih sama. Tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Ia hanya bisa mengeluh, merutuk orang lain, menyalahkan Tuhan, mengutuk kehidupan. Tapi tidak pernah berusaha untuk berubah.

Sebagian orang mengatakan itu zona nyaman. Ah zona nyaman yang aneh. Tatkala zona nyaman itu dihina, dikeluhkan, ingin berubah, namun tak kunjung ia mengalami perubahan. Dimana letak nyamannya? Bukankah zona yang selalu dikeluhkan adalah zona tidak nyaman? Maka keluarlah dari zona ketidak nyamanan. Keluarlah dari hal yang menggangu. Keluarlah dari hal yang menghambat pencapaian hidup.

Selamanya manusia akan berada dalam satu tempat yang sama, kecuali ia mau bergerak melangkahkan kakinya ke tempat lain.

Selamanya manusia akan terjebak dalam air yang dihangatkan pelan-pelan, lebih hangat lebih nyaman. Tanpa sadar sudah cukup panas untuk membunuh. Ya, karena manusia tidak menyadari perubahan kehidupan. Ia sibuk hidup di masa lalu. Ia sibuk membanggakan kejayaan lampau, past glory. Ia sibuk mengatakan; “Ini aku, dulu….”. Sehingga saat kehidupan terus berjalan, ia meninggal perlahan, tergilas waktu dan kehidupan. Ia tak mampu beradaptasi dengan baik. Padahal kemampuan adaptasi menjadi ketrampilan hiudp, life skill, yang mendasar.

Manusia juga terjebak dengan belenggu persepsinya.
Persepi yang sama yang membelenggu jangkrik sehingga tidak mampu melompat lebih tinggi dari kotak korek api. Persepsi yang sama mengikat gajah meski rantainya sudah dilepas. Persepsi, kata kunci saat ini.
Mengutip dari mas Syarif, faktor apakah yang sebenarnya membuat anda demikian terikat oleh kondisi yang tidak anda sukai?
Ayo segera bangun dan berpikir jernih, sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar memaksa kita.

Periksalah kembali, daftar panjang dan terlihat berat itu.
Apakah pantas alasan itu lebih perkasa dibandingkan kemerdekaan kita untuk memilih?
Seberapa menakutkankah kegelapan yang akan menghadang, dan apakah lebih gelap dari mata terpejam?
Seberapa dalamkah jurang yang menganga, dan apakah lebih dalam dari hati manusia?
Seberapa mengkhawatirkan ketidakpastian yang akan terjadi, apakah lebih akut dibandingkan dengan ketidakpastian nyawa kita besok hari?
Seberapa besar amarah pasangan kita, apakah akan menyebabkan cintanya hancur lebur dan retaknya biduk bahagia keluarga?
Apakah kasih sayang orangtua demikian rendah sehingga akan luntur padahal kasih mereka sepanjang jalanan?

Tahukah siapa yang benar-benar memaksa anda bertahan untuk tetap berkubang dengan kondisi yang tidak anda sukai?

Dia itu adalah ANDA sendiri!
Mari kita berjernih pikiran, bahwa sebenarnya yang memaksa anda untuk tetap dalam kondisi itu adalah Anda Sendiri!

——bersambung——

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 31, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: