Blaming? Catatan Sore


Satu teman saya barusan berkata, “ah, bukunya Malcolm Gladwell bahasanya susah. Saya tidak begitu paham apa yang dikatakannya”. Terkadang saya pun juga mengatakan, hasil terjemahan buku The 8th Habit-nya Steve Covey rada aneh.
Apa kesamaannya? Yup, keduanya, baik saya dan temen saya, mengeluh dan melemparkan bola kesalahan itu pada buku. Ya, karena kegagalan saya dan teman saya membaca dan memahami sebuah buku. Saya sengaja menuliskan ini, untuk merekonstruksi pemikiran bawah sadar saya untuk tidak mudah melempar kesalahan.
Jika boleh bercerita, manusia amat sangat mudah melempar kesalahan karena sejak kecil diajari dan dicontohi seperti itu. Lihat saja, ketika anak kecil itu jatuh, siapa yang pertama kali ketiban salah. Jika bukan batu yang tidak tahu menahu, pasti kodok yang mengikuti jejak kambing yang terlanjur hitam. Oleh karenanya dalam pikiran bawah sadar sang anak, terbentuk sifat melemparkan kesalahan. Secara tidak sadar, beberapa orang tua justru mengajarkan, mencontohkan, menanamkan sifat ini pada anak melalui perilaku. Makanya diawal saya mengatakan untuk merekonstruksi pikiran bawah sadar saya.
Nah, contoh kecil tersebut menunjukkan betapa hal yang seringkali tidak kita pahami, akhirnya berujung pada penyalahan atas pihak lain, blaming. Dalam level yang abstrak dan sederhana, saya menyalahkan hasil terjemahan. Padahal bisa jadi orang lain cukup paham pada buku terjemahan tersebut. Jadi siapa yang salah?
Karena standar saya yang rendah. Sama halnya dengan teman saya yang menyalahkan Malcolm hanya karena ia tidak memahami isi Blink. Padahal saya paham lho. Artinya standar teman saya perlu dinaikkan, kapasitas teman saya perlu dinaikkan untuk memahami Blink itu. Sama halnya standar saya harus dinaikkan untuk bisa membaca nyaman The 8th Habit.
Jadi masalahnya ada di standar kita masing-masing. Never blame your tool, kata orang bijak. Standar, gaya, pengetahuan, kemampuan kitalah yang menentukan buku, alat, alam ini akan berguna atau tidak. Sekali lagi standar kita yang harus dilihat kembali.
Jika dalam tataran yang sederhana, pemahaman atas buku, ternyata sudah menyalahkan orang lain, maka saya ngeri membayangkan blaming yang dilakukan manusia saat terjadi bencana.
Blaming itu akan menjadi hujatan pada komunitas yang lebih besar, misal pemerintah. Blaming itu akan berupa hujatan kepada Tuhan atas bencana itu. Jika manusia sudah menghujat Tuhannya, lalu kemana kah ia akan berpaling?
Tanyalah pada rumput yang bergoyang……

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 31, 2009, in pencerahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: