Keep The Spirit Within……


Dalam iringan lagunya D’Masive, tiada manusia yang sempurna.
Namun dalam banyak hal, manusia mengimpikan kehidupan sempurna. Minimal tercermin dalam sebuah pepatah utopis; kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Adakah kehidupan yang lebih utopis dari ini?
Pun banyak diantara kita meyakini kehidupan yang sempurna adalah tujuan hidup kita. Kesempurnaan yang dimanifestasikan dalam sebuah gambaran ideal manusia. Yup, dalam batas khayalan dan imajinasi manusia.
Namun bukankah setiap kita juga meyakini adanya pepatah, no body is perfect. Bukankah kita juga meyakini adanya kesalahan dalam manusia? Bukankah sebagian kita juga mengamini bahwa manusia tempatnya salah dan lupa.
Sebagaimana D’Masive menyanyikannya.
Apakah ini yang disebut paradoks dalam manusia? Ketidak mungkinan dalam kehidupan, namun mungkin terjadi.
Naseem Nicholah Taleb memberikan pandangannya dalam karyanya Black Swan. Dalam resensi bukunya disebutkan betapa manusia tidak siap menghadapi kehidupan itu sendiri. Manusia didominasi hal-hal yang ia pelajari. Sehingga bayangan masa depan pun didasarkan pada teori, ilmu, dan pemahaman baku. Manusia tidak pernah belajar diluar konteks keteraturan, manusia jarang memahami diluar prediksi, dan ujungnya tidak siap dengan ketidak pakeman peristiwa.
Dalam upayanya, manusia membuat pembenaran atas peristiwa. Manusia menjadi korban asimetri atas impiannya sendiri. Mengklaim keberhasilan sebagai usaha dan melemparkan kegagalan sebagai bagian diluar kendali manusia yang disebut sebagai keacakan.
Manusia merasa berperan dalam hal yang baik-baik, namun tidak bertanggung jawab untuk hal-hal yang buruk. Imbasnya, setiap manusia merasa lebih baik dalam kehidupannya dan selalu melempar kesalahan pada lainnya, karena ia merasa berperan dalam hal yang baik, saja.
Mungkin yang harus disadari adalah, kehidupan bukanlah variabel. Kehidupan adalah premis yang pasti dan akan terus berjalan, apapun yang menjadi variabel. Kehidupan adalah konstanta Tuhan untuk manusia. Dan manusianyalah yang menjadi variabel dalam kehidupan. Manusia adalah pelaku dan variabel itu sendiri dalam kehidupan. Karena adanya keterbatasan dalam kemungkinan mengelola kehidupan itulah, manusia memunculkan segala teori dan paradoks baru untuk membenarkan ketidak sempurnaannya.
Oleh karenanya muncul peribahasa no body is perfect untuk membenarkan kemungkinan kesalahan dalam kehidupan manusia, hal yang memang terjadi. Apakah ini self-fulfilling prophecy? Saya tidak berpikir demikian.
Karenanya pemahaman atas kemungkinan dan kehidupan menjadi penting.
Karena sesungguhnya manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, dalam sebuah kondisi yang ideal. Satu-satunya yang mewujudkan persepsi ketidak sempurnaan adalah persepsi itu sendiri. Seperti disitir oleh Victor Frankl dan Alex Pattakos dalam karya mereka; Prisonners in Our Thought. Yup, ketidak sempurnaan itu muncul karena keterbelengguan pikiran manusia sendiri.
Maka life-skill, ketrampilan untuk hidup, menjadi penting. Ketrampilan ini tidak hanya sekedar mengejar tujuan hidup, mengejar impian dengan segala kesempurnaan yang dimpikan. Namun juga ketrampilan mengelola kehidupan itu sendiri untuk menghadapi kemungkinan acak dalam kehidupan. Kemampuan untuk bertahan dalam hidup, tidak sekedar mengejar hidup.
Maka pilihan itu jatuh pada tangan manusia. Apakah ia akan selalu mengeluh, menyalahkan orang lain, menyalahkan alam bahkan Tuhan untuk membenarkan ketidak sempurnaannya. Atau ia akan mengelola ketidak sempurnaan itu menjadi kesempurnaan yang indah dalam ketidak sempurnaan.
Dalam buku ketiganya, Outlier, Malcolm Gladwell memberikan pandangan yang lebih luas. Kesuksesan tidak sekedar manusia an-sich. Selalu ada faktor luar yang memungkinkan kesuksesan terjadi. Selalu ada komunitas, budaya, mindset, bahkan opini masyarakat yang memungkinkan kesuksesan terjadi. Maka penting juga bagi manusia untuk melihat sekitarnya. Tidak kemudian menjadi manusia yang memandang hanya ia, manusia, yang menjadi faktor satu-satunya kesuksesan.
Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan saya sebelumnya tentang to be dan to have. Pastikan saat menetapkan tujuan hidup, segalanya diset dalam sesuatu yang sempurna. Namun juga harus disadari bahwa tujuan itu tidak akan muncul begitu saja. Seperti pergulatan Sam dalam menyelamatkan dunia dengan membawa lari kubus planet Cybertron dari kejaran Megatron. No sacrifice, no victory. Ia tidak menjadikan kelemahan manusia yang hanya tulang dan daging untuk membenarkan kekalahannya dari mahluk robot raksasa Megatron.
Maka pastikan anda juga memahami ucapan Megatron; by the end of the day, one must stand while one must fall. Oleh karenanya yang dibutuhkan disini adalah daya juang, tidak sekedar mengharap keajaiban dan melempar kesalahan. Semangat untuk berusaha dan berkarya dalam hidup.
Pertanyaan saya waktu kecil menjadi relevan untuk menutup catatan ini; anda makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Anda yang bisa menjawabnya.
Selamat berjuang saudaraku. Saya yakin, kita pasti bisa.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 26, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: