To Be atau To Have


What do you want? What is your goal? What exactly you chase on the life?
Selesai bermunajat, sekilas melihat TV swasta dalam biografi Rupert Murdoch. Ibunya berkata, betul Rupert menghasilkan uang, namun bukan itu letak kenapa saya, ibunya, bangga sebagai ibunya Rupert. Masih lanjutnya, menghasilkan uang adalah bagian darinya.
Sang ibu mengisyaratkan bukan sekedar masalah uang, bukan sekedar ukuran kuantitas, bukan angka. Saya tidak sempet melanjutkan nontonnya, keburu saya lebih suka membaca Al-Qur’an.
Saya teringat, dalam satu perjalanan saya ke ibukota, dalam majalah penerbangan saya sempat membaca artikelnya motivator, yang maaf banget saya lupa namanya. Beliau menyebutnya to have atau to be.
To have, lebih ke arah kuantifikasi dan bagian dari tujuan kita hidup. To have a 10-billion cash. To have a new mercy S400 hybrid. Yup, have, memiliki. Banyak kemudian terjebak dalam kuantifikasi dan materialisasi to have ini.
To be, sesuai makna leksikalnya, menjadi. Ya, menjadi apapun. Menjadi robot dari bentuk awal mobil, menjadi kaya, menjadi sukses, menjadi apapun.
Dalam pembahasan manajemen, to be menjadi unmeasurable. Memang. Karena unmeasurable itu, tidak ada batasnya akankah ia menjadi apa. Oleh karenanya to be menjadi tak terbatas dan terus abadi.
To be, keinginan kita menjadi apapun, akan membentuk perilaku dan pribadi yang lebih komplek. Dan dalam perjalanan menuju to be, to have bisa menjadi hasil sampingan. Betul, saya ingin menjadi orang yang sukses, maka saya bekerja keras. Karena saya bekerja keras, maka saya mempunyai tabungan 1 trilyun. Namun tujuan saya bukan 1 trilyun, tujuan saya sukses. Maka saya pun tidak akan pusing untuk membelanjakan 1 trilyun saya sesuka-suka saya, karena tujuan saya memang bukan 1 trilyun, tujuan saya adalah sukses. Akan sangat berbeda jika tujuan saya adalah 1 trilyun, maka saya akan matia-matian mengejar 1 trilyun dan saat saya punya sejumlah itu, saya akan mempertahankannya. Ingat tujuan saya adalah 1 trilyun. Saya berpikir, karena sebagian manusia terjebak dalam to be inilah yang menyebabkan sebagiannya terjebak dalam materialisme semu. Menjadikan ukuran materi menjadi parameter dalam hidup dan penilaian.
Disitu letak perbedaan yang mendasar dari to have dan to be.
Bagaimana dengan anda? Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Apakah saat ini, kemarin, bulan lalu, tahun kemarin adalah to have atau to be?
Saya bereksperimen dengan menggabungkannya, dengan tetap meletakkan to be sebagai tujuan utama. Saya ingin menjadi hebat. Saya membuat parameter waktu dan target antara. Dalam 3 tahun, saya harus bisa ngelanjutin kuliah, dalam 3 tahun berikutnya saya harus mencapai jajaran manajerial, dalam 3 tahun berikutnya saya harus bisa mengajar di universitas. Di universitas itu, saya harus bisa mengajar, mengarang buku minimal 5, menjadi expert disisi akademis dan praktis.
Semoga tidak rumit. Namun kurang lebih itu yang disebut personal goal, road map hidup saya. Saya mendefinisikan hebat adalah kembali ke dunia ajar mengajar. Nah jalan menuju kesana, harus melewati beberapa fase. Saat saya harus mengejar gelar akademis, persyaratan legal dan pengakuan menjadi penting. Maka saya harus melanjutkan kuliah saya. Pun untuk menjadi akademisi yang hebat, sisi teoritis yang tercakup dalam keinginan saya untuk belajar, juga harus ditunjang dengan pengalaman praktik. Maka saya pun harus masuk dalam jajaran manajerial perusahaan bereputasi baik. Mustinya seiring jabatan juga muncul pendapatan dan remunerasi. Apakah itu berupa gaji yang wah atau mobil atau rumah, saya tidak tahu. Namun hal tersebut pasti ngikut.
Saat saya masuk kembali ke kehidupan mengajar, maka fokusnya adalah mengajar, tentunya membangun aktifitas yang relevan, yaitu menulis buku atas dasar kajian teoritis dan praktis. Disitu saya bisa menjadi expert, ahli, spesialis. Disitulah saya menjadi hebat. Apakah disini ada kompensasi materi? Pasti ada. Gaji menjadi dosen, royalti buku, pembicara, konsultasi, dan lainnya.
Yakinlah definisi materi akan mengikuti selama tujuan kita adalah to be.
Jadi tujuan kita akan mengantarkan kita padanya. Pastikan tujuan kita benar, tepat dan bermanfaat.
Selamat merancang tujuan anda. Semoga anda mencapai tujuan anda.
*catatan introspeksi tujuan hidup saya dini hari ini*

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 23, 2009, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: