Catatanku Bersama Istri 3


……..bagian 3…….
Saya, tersenyum bahagia membaca happy-ending riwayat ini. Sungguh sebuah kombinasi keluarga yang menyenangkan. Ditengah pusaran kekuasaan, berjabatan sebagai khalifah, presiden, tidak membuat Umar Ibn Abdul Aziz terlepas dari wala’ kepada Allah SWT. Ditengah kemudahan sebagai istri pejabat publik, Fathimah tidak kemudian menjadi Ibu Negara yang super.
Saya membayangkan dalam level yang paling sederhana, jika percakapan yang kurang lebih sama terjadi antara saya dan istri saya, antara suami dan istri, antara suami anda dan istri anda, saya merasakan kehangatan cinta, saya merasakan ikatan kesetiaan, saya merasakan kekuatan kasih sayang. Lebih jauh lagi, saya merasakan kami berdua tengah di surga. Saya mencium wewangian bunga, melambai diantara gemericik air mengalir jauh tak terkira. Kami pun berjalan di tengah taman itu sambil berkata, “hadza min fadhli robbi, ini semua karunia Tuhanku”.
Saya pun berpikir, apakah saya harus mengatakannya malam ini kepada istri saya? Saya pun berpikir, anda mestinya punya cita-cita yang sama.
Kemudian saya membayangkan dalam level yang jauh, apakah percakapan ini terjadi pada presiden kita? Seandainya, para pemimpin negeri ini bercakap seperti halnya Umar Ibn Abdul Aziz. Saya yakin, angka kemiskinan bisa ditekan, angka korupsi jauh dibawah ambang, angka kejahatan turun ditelan kebaikan.
Maka benang merah dari kedua angan tadi adalah keluarga yang sholeh akan menyusun negeri yang sholeh. Sehingga negeri ini dipenuhi oleh keluarga yang penuh kesetiaan, penuh cinta dan penuh kasih sayang.
Ya, semuanya berawal dari keluarga yang sholeh.
Kapan saatnya memperindah keluarga kita? Ikhwah, saat itu telah tiba. Saat itu telah datang. Saat itu adalah saat kita memperbagus keluarga kita dengan bacaan Qur’an, dengan qudwah, contoh yang baik dan nyata untuk anak kita. Saat itu adalah saat kita berkesempatan untuk merenovasi kembali tubuh dan jiwa kita, menghilangkan perilaku dan tindak tanduk tercela di tengah kehidupan kita, serta mengeluarkan diri dari kungkungan ekslusifisme menuju pembangunan hubungan positif dengan keluarga.
Saat itu adalah sekarang. Saat rahmah, maghfiroh, ditebar Allah SWT untuk mu’minun, untuk shoimun, untuk yang menuju muttaqin. Tentunya juga untuk keluarga mu’minun, keluarga shoimun, keluarga muttaqin.
Ikhwah, selamat menikmati surga yang diindikasikan Nabi SAW, baiti jannati, rumahku surgaku. Selamat menikmati surga baru kita. Surga didunia, sebelum surga di akhirat, sehingga tidak kaget dengan surga abadi nantinya. Wallahu a’lam (referensi riwayat dari Jalan Cinta Para Pejuang)

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 9, 2009, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Salam kenal.. Saya juga mau sharing tentang kualitas dan kuantitas pertemuan dengan keluarga…

    http://asepsaiba.wordpress.com/2009/10/22/pilih-mana-kuantitas-atau-kualitas-pertemuan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: