Mimpi Anak Ikan Paus 1


Adalah Abdurrahman ibn Auf datang ke madinah, muda dan tanpa harta. Sa’ad ibn Ar-Rabi, anshor yang dipersaudarakan kepadanya segera berkata, “Saudaraku terkasih dijalan Allah, sesungguhnya aku termasuk orang berharta di Madinah ini. Aku memiliki 2 kebun yang luas. Diantara keduanya pilihlah yang kau suka, dan ambillah untukmu. Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka, tinggallah disana. Dan aku memiliki dua orang istri yang cantik. Lihatlah dan pilihlah salah satu diantaranya, pasti akan kuceraikan lalu kunikahkan denganmu”.
Pemuda Makkah itu tersenyum. Lalu dengan lembut berkata, “Terima kasih atas segala kebaikanmu. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sebaiknya tunjukkan aku jalan menuju pasar”.
Sa’ad, seperti halnya pandangan umum penduduk madinah, memandang tinggi pernikahan, “Tetapi setidaknya menikahlah”, tukas Sa’ad.
“InsyaAllah dalam sebulan ini saya akan menikah”, jawab Abdurrahman.
Maka ditunjukkannya jalan menuju pasar. Menjadi kuli di hari pertama, menjadi makelar di hari kedua. Di hari ketiga dia, Abdurrahman, menahbiskan diri sebagai pedagang paling jujur, profesional, informatif tentang produknya, cerdas menggulirkan kas, juga suci dalam menakar dan menimbang. Ia menjadi komandan Nabi SAW untuk melaksanakan surat Al-Muthoffifin yang turun menjelang hijrah. Ia menjadi panglima dalam membasmi hegemoni ekonomi riba ala Yahudi di pasar Madinah.
Dan benar, sebulan kemudian ia datang kepada Nabi SAW dengan pakaian penuh noda minyak khaluq. “Saya menikah ya Rasulallah!” antara bangga dan tersipu malu.
“Dengan siapa?”
“Seorang wanita anshor”.
“Apa maharnya?”
“Emas seberat biji kurma”.
“Wahai Abdurrahman, selenggarakanlah walimah meski dengan seekor kambing”.
Menarik. Ya menarik sekali sisi kehidupan Abdurrahman ibn Auf dalam fase awal di Madinah. Maka bantuan yang halal baginya, ia tanggalkan untuk meraih sesuatu yang lebih besar; etos kerja jhadi. Fasilitas yang diperturutkan, bagi Abdurrahman ibn Auf, adalah beban, penyakit sekaligus pintu kekalahan. Maka menggali potensi diri untuk mewujudkan mimpi dan cita adalah keniscayaan. Sementara sebagian mengandalkan nama besar keluarga, sisa warisan ayahnya, meminjam fasilitas orang, demi mencapai kejayaan, tentunya menjadi sebuah ironi yang menampar keutuhan mimpi dan cita itu sendiri.
Abdurrahman ibn Auf memasuki pasar Madinah dengan sebuah konsep yang jelas tentang ekonomi yang adil dan menentramkan; surat Al-Muthoffifin. Dengan konsep ilahiah itu, ia bertarung dengan juragan Yahudi yang selama ini saling mengedipkan mata untuk mencekik warga Madinah dengan ekonomi ribawi.
Maka ikhwah, pengetahuan praktis dan juga strategis atas mimpi dan cita itu menjadi pelengkap yang sempurna untuk merumuskan pola dan gambar yang indah dari mimpi dan cita. Sebuah keilmuan, oleh karenanya, wajib dimiliki sang pemimpi.
Dan Abdurrahman ibn Auf tak lupa memberikan sebuah tanggal, sebuah batasan waktu, sebuah tenggat. Sehingga ia bisa mengevaluasi capaian-capaia harian untuk mewujudkan cita-citaya. Perencanaan pribadi yang jeli, cermat dan bening. Itu kuncinya. Ambil titik akhir, tarik garis ke belakang dari titik akhir tersebut menuju masa kini. Maka terjadilah sebuah perencanaan. Maka ketika mimpi itu menguasai kita, segera beri tanggal, segera beri batas waktu untuk menjadikannya cita-cita.
Maka setiap muslim harus membangun mimpi yang besar, mimpi yang memberikan jaminan kejayaan.
Ada sebuah kisah menarik. Suatu siang di sebuah TK, ibu guru meminta anak-anak untuk menggambar bebas. Ada pemandangan beraneka warna, ada gunung berjulang mendaki, pun rumah-rumah lengkap dengan pepohonan. Suasana, ayah dan ibu yang berpose di depan rumah, bibi berbelanja dan beraneka gambar lainnya yang ‘biasa-biasa saja’.
Seorang anak lelaki di kelas itu agak lain. Dia penuhi kertas gambar A3-nya dengan sapuan crayon warna hitam. Hanya hitam. Hitam sepenuhnya, seluruhnya.
………………bersambung……………..

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 5, 2009, in pencerahan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: