Kebeningan Kata: Terbaik Untuk Dunia


Kata itu bergemuruh dalam sekiian ratus tahun. Bergemuruh dalam setiap helaian nafas mujahid. Nabi SAW berkata: “Kota Heraclius, Konstantinopel, akan jatuh terlebih dahulu. Yang menaklukan adalah sebaik-baik pasukan, dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima”.
Kata itu begitu bening. Jelas dan sederhana. Al-Fatih kecil begitu terobsesi dengan kata ini. Ia memahami betul, apa yang dibutuhkan untuk menjadi sebaik-baik panglima. Menjauhi kehidupan istana, berguru pada ulama, beribadah dengan khusyu’, dan tiap pagi, dari puncak perbukitan di Bursa, dia memandang ke seberang utara Laut Marmara, ke arah Konstantinopel, seraya berdoa, “Ya Allah, jadikan aku sebaik-baik pemimpin atau sebaik-baik prajurit”. Visi bening itu menguasai Al-Fatih kecil.
………………
Ia pemuda biasa. Lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Ia bermimpi untuk melawan ke-dzolim-an yang mencakar koyak wajah bumi para Nabi, tanah kelahirannya. Suatu hari masih dalam sengatan mimpinya, ia bersama teman-temannya membuat acara kemah ketangkasan di pantai Gaza. Dan dari sanalah kisah menakjubkan itu dimulai. Diakhir acara mereka saling adu ketahanan. siapa bisa melakukan head stand, berdiri dengan kepala, terlama, dialah sang pemenang. Sang pemenang berhak digendong bergantian selama perjalanan pulang.
Tiga menit, satu persatu peserta menyerah, lalu tinggallah pemuda itu sendirian. Dia masih bertumpu diatas kepalanya, bahkan beberapa jam kemudian. Gila! Seru teman-temannya. Tetapi ia tak beranjak. Wajahnya dicobakan untuk tersenyum. Hingga pada satu titik waktu, ia tak tahan lagi. Serasa ada yang meledak di kepalanya. Lalu ia jatuh. Sayangnya saat mencoba bangkit, ia limbung. Ia jatuh lagi. Dan kakinya sulit digerakkan, bahkan serasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Hari itu, usianya baru enam belas tahun.
Ia lumpuh dimasa remajanya. Tapi mimpinya tidak ikut lumpuh. Mimpi itu tetap menyala, bahkan kian berkobar. Dengan kelumpuhannya ia memilih untuk menjadi guru agama Islam di sekolah dasar. Atas mimpinya yang menjulang, setiap katanya menjadi penyengat. Konon, setiap kali mengajarkan sesuatu, murid-muridnya bak kerasukan. mereka begitu bersemangat mengamalkan apa yang dikatakannya.
Suatu hari disinggungnya tentang sholat malam. Maka paginya para wali murid memprotes sekolah karena anak-anak mereka jadi begadang semalaman, menanti sepertiga malam terakhir untuk sholat. Suatu hari, disinggungnya pula tentang puasa sunnah. Maka para orang tua pun kelabakan karena hari-hari berikutnya anak-anak mereka yang masih kecil memboikot sarapan pagi dan makan siang untuk berpuasa. Padahal musim panas begitu dahsyat dengan siang panjang bermandikan matahari.
Kekuatan kata itu menjadikan setiap orang, bahkan anak-anak, larut dan mengikutinya. Kata-kata itu yang begitu ditakuti oleh Israel, pada saat dewasanya. Bagai matahari setiap kata-katanya bersinar meledakkan. Bertahun-tahun ia dipenjara Israel demi membungkam kata-katanya. Saat itu tidaklah lebih ia hanya seorang tua renta diatas kursi roda yang bicara pun terbata-bata. Suaranyapun kecil hampir kehabisan bunyi. Tetapi setiap kata selalu beriringan dengan kekuatan jiwa, keyakinan ilahi, membuatnya begitu ditakuti dihadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap agresor Israel. Ia lebih dikenal dengan Syaikh Ahmad Yassin.
……………..
Namanya Heri Hendrayana. Masa kecilnya dihabiskan diantara tumpukan buku bergizi, permainan yang penuh semangat dengan teman sebaya , dan curahan perhatian serta kasih-sayang berlimpah dari kedua orang tuanya. Orang tuanya membesarkan Heri kecil dengan wawasan luas, pendidikan terbaik dan kasih sayang yang sangat besar. Keduanya membesarkan dengan semangat religius yang kuat.
Saat itu berusia sepuluh tahun. Saat yang membalikkan kehidupannya. Heri kecil yang kutu buku itu jatuh dari dari pohon setinggi tiga meter. Tangan kirinya patah. Karena keadaan yang parah, tidak ada pilihan lain untuk menyembuhkannya kecuali dengan memotong tangannya. Diamputasi.
Ya, anak kecil itu kehilangan lengannya. tapi tidak semangatnya.
Ketika satu tangannya harus direlakan untuk hilang, bapaknya datang membawakan sekantong kelereng. hadiah terindah yang Heri kecil terima saat itu. Di kamar tempat ia dirawat, bapaknya menemani dan melatih bermain kelereng dengan satu tangan. Bapaknya pula yang menumbuhkan rasa percaya dirinya dan tidak menyibukkan diri dengan kekurangan. Permainan sederhana yang membuat percaya dirinya tumbuh. Begitu pulang dari rumah sakit, dengan tangan tinggal satu, dia mengajak teman-temannya bermain kelereng. dan dia mampu menguasai permainan dengan baik.
Heri dewasa, yang kelak kita kenal dengan nama Gola Gong, berkata, “Aku hanya berpegangan pada omongan Bapak dan Mak bahwa pada setiap peristiwa selalu ada hikmah. jika seorang hamba Allah mendapat kesusahan, itu artinya Allah sedang menguji.
………………….
Seorang teman, pernah berkorespondensi. Bahwa, katanya, jika hendak mematikan sebuah pohon di benua Afrika sana, teriaklah, makilah dan cercalah dengan perkataan yang paling kasar pada pohon itu. Masih katanya, pohon itu perlahan akan mati tanpa perlawanan. Cara yang mudah membunuh ide, membunuh karakter, membunuh kepribadian dan membunuh psikologi manusia. Cercalah maka engkau mendapat hasilnya.

Dari teman yang lain, beliau bercerita dari keluarga Pepeng si”Jari-Jari”. Bagaimana Pepeng yang benama asli Ferrasta Soebardi, selalu menggunakan kata positif dalam membangun keluarganya. Pepeng merenung, apa yang membentuk dunia ini. Setelah ia cari, ya kata. “Hatta, Allah dengan firman-Nya yang absolut, mutlak benar, tidak spekulatif, tidak asumtif; itu semua kata” katanya.

Itu semua yang akhirnya membuatnya jauh lebih dekat kepada keluarganya. “Jadi, dengan berkata-kata dengan Allah, selalu muncul kekuatan pada diri saya”, ujar Pepeng.
Dalam QS:20/Thoha:43, Allah berkehendak mengutus Musa AS untuk memperingatkan Fir’aun, ikon kekuasaan yang kebablasan dengan mengatakan “Ana Robbukumul A’la”. Namun tidak lupa dengan pendekatan yang sangat santun, Allah berpesan untuk menggunakan kata yang baik, lemah lembut, qoulallayyina.
Maka sedalam apa kita menggunakan kata? Sebesar apa kita menggunakan kata? Tergantung sedekat apa kita dengan Allah. Kata akan selalu menjadi keajaiban. Keajaiban yang bisa mengundang decak kekaguman manusia atas capaian yang luar biasa atau bahkan mengundang gelengan kepala ketidak percayaan atas kesesatan yang terjadi. Sekali lagi kata menjadi salah satu elemen kunci dalam kehidupan kita.
Akan sangat tidak relevan kita berkata, bernasihat, ber-taushiyah kepada anak kita: “Sholatlah”, sementara kita sendiri jarang terlihat sholat. Kata akan menemukan relevansinya ketika diamalkan. Lihatlah Muhammad Al-Fatih, Ahmad Yassin, Gola Gong. Betapa kata itu menginspirasi kehidupan mereka. (Ihda Taftazani, dari berbagai sumber)

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 1, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: