Aku Ingin Menang…..


Ramadhan… Sungguh beruntung kali ini aku masih diberi waktu untuk menemuinya, bercengkrama merenda waktu di malam dan siang hari. Beruntung karena Dia masih memberi kesempatan lagi walau terkadang aku sering menyia-nyiakan waktu yang diberikan. Tanpa sadar, dan begitu ringan. Sehingga tiba-tiba sang waktu membawanya pergi. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya kodratku adalah pelupa, lalai, dan selalu menyesal setelah semua berlalu tanpa memberi manfaat, disamping tidak konsisten dan mudah terpengaruh oleh hal sepele yang datang menggoda.
Ramadhan, bulan yang mulia. Sebuah kemuliaan yang seharusnya sangat sederhana tetapi menjadi begitu rumit. Sederhana??? Setidaknya begitu. Hanya dengan seteguk air dapat menyejukkan kerongkongan yang kering dan dengan dua biji kurma dapat meredam perihnya hisapan lambung.
Namun pada kenyataannya hanya raga yang mampu mengikutinya. Sedangkan jiwa justru mengumbar kepuasan. Puas karena semaraknya hidangan di atas meja, puas karena aneka ragam makanan pembuka puasa-yang biasanya tak pernah ada, puas jika mampu bertarung memperebutkan ruang jalan raya ketika waktu berbuka semakin dekat. Puas karena mampu menyediakan segala yang baru untuk tubuh ini dalam menyambut hari kemenangan.
Menang?? Siapa yang menang, siapa yang kalah?
Dalam kesadaran yang terlambat, nyatanya aku selalu menjadi orang yang kalah dan terus kalah disetiap kesempatan yang diberikan. Kalah dalam merebut esensi yang tersirat jauh di dalam. Aku hanya sekedar menjalani tidak makan dan tidak minum di siang hari, namun setelahnya, makan minum berlipat ganda. Siang merasakan perihnya lambung dan keringnya tenggorokan. Namun malam hari menahan sakitnya perut karena lambung yang kepenuhan. Sehingga aku tak mampu ber-hijrah melayang menembus langit yang katanya pada bulan itu terbuka lebar, tak berdinding tak ber-hijab. Bukan karena tak diberi kesempatan tapi karena terlalu berat memanfaatkan kesempatan. Malam seribu bulan sebagai grandprize yang dijanjikan hanya sebatas cerita indah dan angan yang tak kesampaian.
Kapan waktuku untuk mendekati-Nya? Aku ingin bersua dengan-Nya, di rumah-Nya, di sepertiga malam waktu yang dijanjikan-Nya, dalam acara i’tikaf yang di sukai-Nya, dalam ke-khusyu’-an sholat malam yang dianjurkan-Nya. Ingin kumenangis diharibaan-Nya bermandikan air mata keikhlasan dalam rintihan khouf dan roja’, menumpahkan segala rindu yang membara.
Namun ada kekuatan yang masih begitu kuat mengikat dan membelenggu jiwaku, aku pun terjajah tak berdaya. Aku tak berdaya saat orang-orang di sekitarku mengundang buka puasa bersama kemudian bersenang-senang membicarakan sesuatu yang sia-sia.
Aku selalu kalah tak berdaya karena aku memandangnya hanya dari sisi keindahan luarnya, karena itulah yang paling mempesonakan. Sedangkan esensinya terbalut rapi didalam, entah aku mengerti atau tidak. Mungkin menunggu waktu senjaku tiba, saat aku tak mampu lagi menjelajah dunia ini. Aku ingin hidup seribu tahun lagi… kata Chairil Anwar dengan lantang, dan ternyata ia mati muda.
Aku ingin menjadi pemenang!!! Aku ingin menang!!!, aku hanya ingin menang…
Tanggal 1 Syawal selalu disebut sebagai hari kemenangan dan hari yang mulia. Begitu banyak ucapan selamat yang kuterima karena aku dinilai telah selesai menjalani peperangan di bulan Ramadhan. Nyatanya, aku tidak pernah menjadi lebih baik, tidak pernah menjadi lebih mulia, tidak pernah menjadi lebih dermawan, tidak pernah menjadi lebih hanif, tidak pernah menjadi lebih ikhlas, tidak pernah menjadi lebih dari waktu sebelumnya. Masih terlalu berat untuk berubah, aku belum mampu menanam sebuah kekuatan di dalam untuk dapat melawan segala godaan yang datang.
Aku baru mampu menyemai sebuah kegiatan, yang dituaipun hanya sebatas kebiasaan. Aku belum mampu menyemai sebuah kebiasaan taqwa yang akan menuai watak penghambaan, hingga memperoleh takdir kemuliaan.
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. () Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. () Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan adzab Jahanam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.QS:25/Al-Furqon:63-65
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. () Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya, () mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.QS:25/Al-Furqon:74-76
Pada orang-orang itulah, salam terbaik diberikan.
Salam yang menyejukkan dan undangan yang tulus dari Pemilik Keabadian yang dibawa oleh utusan yang suci di bulan yang penuh berkah di malam yang mulia.
Ketika turun ayat ini Abu Bakar RA duduk dan berkata ‘Ya Rasulullah alangkah baiknya orang yang mendapat ucapan itu.Maka Nabi SAW bersabda ‘Ingatlah kata itu akan dikatakan kepadamu.
Ah, andaikan sabda Nabi SAW tersebut untukku. Ah..hanya sebuah keinginan. Tetapi keinginan itu seperti belut, mudah menangkapnya tapi sulit memegangnya. Ikhwah, do’akan agar kita dapat mendengar dan mendapatkan sapaan itu nanti dan meraih kemenangan sejati.
(adzkiz khansa)

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on September 16, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: