Quis Custodiet Ipsos Custodes?


Bagi saya pertanyaan Socrates ini rumit menjawabnya. Saya menjadi terkenang dengan segala keburukan dan kejahatan yang sudah terjadi di negara ini. Daripada membicarakan sesuatu yang buruk, apalagi orang lain, lebih baik mari introspeksi diri kita. Lihat kembali, jangan-jangan sudah masuk dalam pertanyaan ini?
Saya lebih suka mengatakan ini pertanyaan retoris. Pertanyaan yang mempertanyakan eksistensi manusia. Jika ada yang hendak menjawab silahkan, namun saya lebih suka merenungkannya.

Dalam ulasan sejarah dari pertanyaan Socrates ini, wikipedia memberikan pernyataan yang menarik. SOcrates mepertanyakan bagaimana kekuasaan itu harus diletakkan, shall reside. Ya kekuasaan itu bukan dijunjung, bukan pula diangkat tinggi. Banyak ahli mengatakan power tend to corrupt. Godaan disana sangat banyak, tak terkira jumlahnya. Namun ditangan yang benar, akan menjadi senjata ampuh untuk memberikan kesejahteraan orang banyak. Maka fokus kita kali ini ke arah menajdikan kekuasaan menjadi baik.

Kekuasaan tidak dijunjung, diangkat, ia diletakkan. Ia ditaruh untuk menjadi alas bagi siapapun untuk mendapatkan haknya, untuk mendapatkan kehidupannya, untuk mendirikan pagar sosial, untuk menjadi fondasi masyarakat. Maka disitulah kekuasaan mendapatkan tempat yang sebenarnya.
Sebaliknya, ketika kekuasaan diangkat tinggi sekali, ditaruh diatas langit seolah-olah hendak dekat dengan Tuhan. Yang terjadi, tidak semua orang bisa melihat apa yang diperbuat oleh mereka yang mempunyai kuasa. Tidak semua orang mendapatkan pijakan yang kokoh tatkala mempertanyakan kenapa raskin keluar ngirit. Pagar sosial itu tidak bisa berdiri kuat.

Saya teringat surat yang dikirimkan Abdurrahman Faiz, putra penulis -pendiri FLP-Helvy Tiana Rosa, kepada Presiden Republik Indonesia. Bagaimana dengan polosnya memberikan sentilan-sentilan betapa Indonesia-ku ini masih jauh dari kesejahteraan. Saya malu. Ya, malu membaca surat tersebut. Yang anak kecil 8 tahun saja bisa menulis seperti itu, namun apa yang saya perbuat? Saya juga malu. Toh setelah surat tersebut menang dalam lomba menulis surat kepada Presiden, ternyata presidennya juga tidak banyak berubah. Bisa jadi saya yang tidak tahu apa yang dikerjakan Presiden. Mungkin karena tadi, kekuasaannya begitu tinggi banget, sehingga saya tidak melihat apa yang terjadi. Maklum, saya hanya orang biasa yang bisanya cuma menulis dan menggerutu, pun saya berdomisili di propinsi ujung Timur Indonesia. Lengkap sudah penderitaan saya sebagai orang yang jauh dari pusat kekuasaan.

Maka tidak heran ketika ada tarik ulur Dana Alokasi Umum untuk daerah, ada wacana separasi propinsi jadi negara, rebutan otonomi yang tidak jelas juntrungannya, sampai euforia pemekaran daerah demi dana dari pusat. Wah, rumit ternyata. Saya jadi melihatnya kekuasaan dimaknai sentral-spasial, kekuasaaan adalah pusatnya ruangan. Ada yang dekat dengan kekuasaan, ada pula yang jauh dari kekuasaan. Demi menghilangkan kesan sentralnya maka ada otonomi daerah. Eh ternyata hanya membangun sentral-sentral baru yang sedikit lebih kecil darisentral-nya sentral. Nah pemaknaan sentral-spasial ini menjadikan adanya dikotomi-dikotomi yang lebih meruwetkan negara ini, pun birokrasinya.

Jika saja kekuasaan dimaknai spasial thok, saja. Saya lebih suka membayangkan kekuasaan seperti balon transparan. Mampu melindungi rakyat didalamnya dari hujan, mampu mengatur cuaca, memberikan keteduhan dalam sengatan cahaya, memberikan luasan yang cukup untuk rakyatnya berjalan, namun tetap ada pagar yang membatasi. Mungkin analogi ruangnya tidak sempurna, namun saya mengidamkan bahwa dikotomi jauh-dekat dari kekuasaan hilang. Sehingga setiap orang menjadi penguasa-penguasa dan saling mengingatkan dalam lingkup kekuasaan yang hakiki.

Jadi siapa mengawasi siapa? Ah bingung saya mikirinnya.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on September 9, 2009, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: