Ayo Ber-ZIS………..


Mengenang kembali ketika masa khilafah rasyidah, Umar bin Abdul Aziz, yang oleh beberapa ulama dimasukkan dalam khulafa’u rasyidin yang kelima, pada musim zakat pas bulan ramadhan seperti sekarang ini, para amilin (petugas pengumpul zakat) menarik zakat fithrah di pelosok negeri. Dan ketika smapai pada masa pembagian, maka di seluruh negeri tidak ada satupun yang termasuk dalam kategori mustahik/8 asnaf penerima zakat. Maka zakat tersebut dibawa ke daerah Afrika.

Pada kesempatan lain, begitu penerimaan zakat maka diseluruh negeri tidak ada yang mau menerima karena bergengsi setiap dari warga khilafah adalah muzakki, maka zakat tersebut dimasukkan ke kas baitul mal. Ijtihad ulama pada masa itu, akhirnya diumumkan, jika ada penduduk negeri yang berhutang, silahkan melunasi dengan mengambil uang dari baitul mal, tetap saja uang tersebut masih tersisa dengan sangat berlebih.

Maka ulama pun berijtihad lagi, bagi pemuda/pemudi yang belum menikah, segera menikah dan Negara yang akan membiayai pernikahan dan “uang saku” untuk beberapa bulan.

………………………..
Kembali ke masa sekarang, jika BAZNAS yang dikomandani Ustadz Didin Hafidhuddin, alhamdulillah kami sudah bersilaturrahim dengan beliau, memberikan perkiraan angka jika penduduk muslim Indonesia membayar zakat dengan baik dan konsisten, maka cukup untuk mengangkat ekonomi umat dan menyelamatkan jutaan penduduk miskin dan mencegah jutaan lainnya calon penduduk miskin.

Dan perda DKI tidak perlu keluar, fatwa MUI Sumenep tidak perlu terjadi. Maka pertanyaan Allah: afala yatafakkaruun….

Bahkan Allah SWT dalam memberikan perintah berzakat menggunakan kata kerja, khud min amwalihim….. (QS:At-Taubah:103). Ulama memberikan tafsir, khud, yang mengartikan perintah dengan tegas. Tanpa memberikan prolog dalam ayat tersebut.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pun menerjemahkan dengan sebuah tindakan, sepeninggal rasulullah, terjadi gelombang pemurtadan besar-besaran di jazirah Arab, kecuali di 3 kota, Mekah, Madinah dan Thoif. Salah satu bentuk pemurtadan itu adalah keengganan sebagian ummat untuk menyerahkan zakat fithrah. Maka Abu Bakar RA berijtihad, yang tidak menyerahkan zakat fithrah dianggap murtad, karena merobohkan pilar Islam.

Demikian penting zakat di dalam Islam.

Ustadz DR Yusuf Qordlowi, membuat tesis doktoralnya dengan judul fiqh zakat, sebuah tesis yang dikerjakan tidak dengan plagiat, tidak dengan jalan-jalan di Tanah Abang atau Senen untuk mencari skripsi usang untuk ditulis ulang. Beliau mengkaji shiroh, salafush sholih, mengakomodasi kemajuan teknologi dan keragaman profesi dunia masa kini. Maka lahirlah sebuah karya besar dan berbobot, mengingat terdapat 1000 lebih halaman dibuku tersebut.

Maka zakat dengan segala macam bentuknya, zakat fithrah, zakat mal, perniagaan, barang tambang, profesi, barang temuan, dan lain sebagainya, adalah salah satu solusi ekonomi dan pilar dalam Islam untuk mewujudkan kesejahteraan bagi manusia.

Maka saya agak ragu ketika kita masih berzakat setahun sekali, itupun masih harus ditagih oleh petugas zakat dari masjid/mushola tetangga kita, namun masih bercita-cita untuk mengentaskan kemiskinan dan masih punya ideologi kesejahteraan.

Seperti halnya saya ragu jika kita masih saja bertanya apa itu zakat profesi, apa itu zakat mal, apa itu zakat perniagaan, zakat pertanian, dan kita masih beranggapan yang namanya zakat adalah zakat fithrah saja. Artinya ada yang salah dalam kita menerima informasi, ada yang salah atau mungkin tidak tersampaikan oleh ustadz/kiai/ajengan di lingkungan kita masing-masing. Atu jangan-jangan kita ndak pernah baca Qur’an atau ndak pernah baca terjemahan Qur’an. Padahal dengan sangat jelas Allah SWT memberikan perintah-Nya dalam QS: Al-An’am:141.

Bapak dan ibu rahimakumullah, bukan saya bermaksud keras dan menyinggung hati. Namun lebih merupakan kegetiran hati terhadap ummat. Apa yang salah, apa yang menjadikan ummat ini sedemikian rusak sehingga tidak bisa memahami satupun dari ayat Allah SWT? Apakah sudah sedemikian hitam dan berjelaga hati kita sehingga kita tidak mampu lagi menerima kebenaran? Apakah sudah sedemikian rusak moral kita, sehingga kita hanya mampu diam dalam membaca kehidupan.

Mari kita membayar zakat, insyaAllah dengan zakat akan mengentaskan kemiskinan, sehingga tidak perlu ada anak jalanan, tidak perlu ada pengemis, tidak perlu ada PMS lainnya. Dan ingat bukan saja zakat fithrah yang harus ditunaikan. Setiap dari kita mempunyai harta, jika sampai pada nishobnya maka wajib bagi kita untuk mengeluarkan zakat. Apakah kita masih harus menunggu azab Allah SWT menimpa kita? Atau menunggu surah Al-Ma’un menghardik kita?

Antum a’lam, masing-masing dari kita lebih tahu jawabannya.

Dalam sebuah dauroh di pertengahan Mei 2007, dalam sebuah masjid yang masih separo jadi, kami berkumpul mendengarkan taujih robbani dan taujih seorang ustadz yang memang muasis da’wah (perintis da’wah) di kota timika.

Dalam selingan malam yang semakin larut, saya tetap mencoba menyimak untaian kata demi kata yang intonasinya naik turun. Mengisahkan perjuangan rosulullah hingga gigi beliau patah pada saat perang uhud, sampai keberhasilan Umar bin Abdul Aziz dalam membangun negaranya. Ditingkahi suara katak dan jangkrik dibelakang masjid yang memang masih hutan, maklum kami berada di daerah transmigran.

…… Imam Ahmad suatu saat pernah ditanya muridnya: “ya syech, antum sudah tua dan saat ini menghadapi khilafah mu’tazilah yang otoriter, kami yang akan melanjutkan kebenaran ini’.

Dengan senyumnya yang khas, imam ahmad menjawab: ”aku belum saatnya istirahat. Saat itu akan tiba dan pada waktunya kalian yang akan melanjutkan. Aku akan istirahat ketika kaki ini sudah menginjak lantai surga”.

…………………….
Semoga sudah menunaikan zakat profesinya, zakat mal, zakat pertanian dan zakat yang lainnya. Dan sebagai seorang teman yang menjadi cermin, al-muslimu mir’atu al-muslim, kewajiban kita untuk mengingatkan. Maka pengajian bulanan, postingan di madding mushola, email jum’atan, FB, blog, menjadi media yang sip untuk menjadi pengingat. Selepas dari itu, Allah SWT berkehendak terhadap siapa yang yang dikehendaki.

Jadi bagi saya, pada prinsipnya saya tidak boleh dan tidak bisa menyerah, meski hanya berjenggot tipis, tidak berkumis, namun tetap aktifis dalam kebenaran. Selalu ada yang menyambut seruan meski sedikit. Nabi Nuh tidak lebih 85 orang yang mengikuti beliau dalam 950 tahun, Abu Tholib tidak pernah bersyahadat meski Rosulullah SAW diasuhnya sejak kecil, hanya 313 prajurit yang berani unjuk gigi dalam perang Badar melawan 1000-an Quraisy.

Anyway, semoga apapun langkah kita dalam mengusung kebenaran akan menjadi bagian peradaban dan sejarah Islam dan semoga kita semua berkumpul dalam barisan penyeru kebenaran, dalam jamaah penegak keadilan dan dalam shof mukminin di jannah.

7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS:Muhammad:7).

Wallahu a’lam bishowab

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on September 2, 2009, in pencerahan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: