“Bung! Pernah Belajar Matematika?”


(dari upload seorang kawan di FB)
Seorang ilmuwan sedang berada di sebuah pedesaan. Kehadirannya terkait dengan proyek penelitian bidang ilmu yang digelutinya. Suatu hari sang ilmuwan harus melakukan observasi di suatu tempat yang letaknya di seberang danau. Maka untuk tiba di sana sang ilmuwan harus menyewa perahu.

Dalam perjalanan di atas danau itu terjadilah percakapan antara sang ilmuwan dengan juragan perahu. Percakapan ringan dan sepertinya cukup sebagai selingan yang mengakrabkan mereka berdua. Namun keakraban itu mulai terasa hambar dan nyaris membubarkan keakraban yang baru dimulai beberapa saat yang lalu.

“Bung, pernah belajar matematika ?” Sang ilmuwan bertanya seakan ingin menakar lawan bicaranya.

“Tidak,” Jawab tukang perahu, menggelengkan kepala.

“Wah sayang sekali, berarti Anda telah kehilangan seperempat dari kehidupan Anda. Atau barangkali Anda pernah mempelajari ilmu Filsafat ?” Desak sang ilmuwan

“Oh yang itu juga tidak,” Jawab tukang perahu melemah

“Dua kali sayang, berarti Anda telah kehilangan lagi seperempat dari kehidupan Anda. Bagaimana dengan pelajaran sejarah ?” Sang ilmuwan melancarkan pertanyaan pamungkasnya.

“Ilmu itu juga tidak saya pelajari,” Jawab tukang perahu yang merasa sudah KO

“Artinya, seperempat lagi kehidupan Anda telah hilang,” Ilmuwan itu dengan bangga menyimpulkan percakapan itu.

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadilah badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi merekapun oleng. Si ilmuwan itu pucat pasi ketakutan.

Kini giliran tukang perahu mengajukan pertanyaan kepada ilmuwan yang terhormat itu. Tidak ada niatan untuk membalas pertanyaan bertubi-tubi sang ilmuwan beberapa saat yang lalu. Pertanyaan standar karena terkait keselamatan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pemilik perahu. Dengan tenang tukang perahu itu bertanya:

“Apakah Anda pernah belajar berenang?”

“…T-i-d-a-k..,” Sang ilmuwan menjawab dengan terbata-bata.

“Sayang sekali, berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Sahabat! Kembali kita belajat tentang kesombongan. Kesombongan bagaikan penyakit yang aneh. Yang merasakan penderitaan justru bukanlah orang yang mengidap penyakit tersebut, melainkan orang lain di sekilingnya. Orang yang menderita penyakit ini pada umumnya tidak merasakan gejala apa-apa, namun orang lain yang berinteraksi dengannya merasa muak dan mual.

Penyakit arogan ini dapat berjangkit pada semua orang: kaya-miskin, bodoh-pandai, tua-muda, majikan-buruh, wiraswasta atau orang kantoran dan seterusnya. Pendek kata, semua orang. Tidak ada yang steril dari penyakit ini.

Yang menarik, penyakit ini dapat menjadi ganas dan menular apabila itu diderita oleh pemimpin, karena pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin. Semakin besar pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin karena peran atau posisinya, semakin berbahaya apabila ia menjadi sombong.

Oleh karena itu penting untuk dicamkan : Janganlah kita seperti ilmuwan dalam cerita di atas yang penuh dengan kesombongan, berusahalah untuk selalu rendah hati, karena setinggi apapun pendidikan kita, kita tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi ketrampilan, dan selalulah menghargai orang lain, karena kita tetap membutuhkan mereka, seberapa rendahpun pendidikan orang tersebut

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Agustus 16, 2009, in pencerahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: