Bebek Rica-Rica Versi Bengalon


Nah ini dia tanggal mainnya. Setelah sebelumnya berputar di area pertambangan utama, maka sorenya saya merencanakan perjalanan untuk ke Bengalon, area pertambangan berikutnya. Jarak tempuh 2 jam perjalaman darat dari Sengatta.

Pagi hari, kami sudah siap dengan segala perlengkapannya. Helmet, kacamata safety, sepatu -yang saya sengaja memilih yang tinggi/bot, dan rompli reflektif. Nah ternyata yang mengantar adalah teman lama mantan dari Tembagapura juga. Maka akhirnya saya duduk didepan menemani dia sambil ngobrol. Ini yang membuat saya menjadi rada-rada berasa naik ke tambang puncak gunung. Dengan gaya mirip di atas sana, plus teman saya membawa mobilnya toyota bulldog, saya merasa akan naik ke atas. Hanya bedanya saya tidak memakai jaket, itu saja.

Sepanjang jalan kami bercerita kesana kemari. Mengingat masa lalu, melihat perkembangan Sengatta, bagaimana cara ke Bengalon dan apapun kami bicarakan. Jarak 2 jam, ditempuh dengan lubang-lubang tidak bersahabat, aspal jalan yang terkelupas sana-sini, 1 jembatan yang cukup kokoh, 1 jembatan yang pembatas dan tembok pengamannya sudah longsor, dan 3 lokasi jalan yang tinggal separo. Ya, ada lokasi yang separo jalannya longsor, jadi praktis tinggal setengah lebar jalan. Kurang lebih lebarnya 2-3 meter, jika berpapasan dengan kendaraan dari depan, salah satu harus mengalah. Yang saya bayangkan, bagaimana jika malam hari. Ah saya belum bisa membayangkan itu. Kami melewati itu semua dengan riang dan aman. Ya tentu saja, yang dibawa teman saya kan orang safety……

Liukan tikungan, tanjakan, sepanjang perjalanan melihat kanan dan kiri masih hutan hijau lebat dan berkabut. Beberapa titik ada rumah. ladang dan warung, namun masih tetap didominasi hutan. Sempet melihat ‘bantargebang’-nya Sengatta, tempat pembuangan sampah akhirnya kota Sengatta. Maka dalam status sebelumnya, saya menyebutnya rool coaster 2 jam. Ya, masih tetap terguncang, terlempar dan juga terikat di seat belt. Namun kali ini saya menikmati setiap hentakan mesin dan perpindahan transmisi untuk mengantisipasi lubang dan tikungan.

Akhirnya, kami bertemu dengan kru yang bertugas di Bengalon. Istirahat dan ngobrol sebentar di warung, sesaat sebelum masuk ke area tambang. Lapor ke petugas keamanan untuk mendapatkan kartu sebagai tamu, kami melanjutkan untuk langsung menuju lokasi mekanik bekerja untuk repowering. Istilah yang digunakan untuk meremajakan jeroan haultruck yang sudah tua sehingga bertenaga kembali, repowering.

Menarik dan benar-benar bengkel yang terletak di lapangan, bersebelahan dengan bengkel dari operator tambang Bengalon. Seperti biasa, menjalankan pekerjaan saya membutuhkan ngobrol, memeriksa kondisi, mensimulasikan pekerjaan dan seterusnya, sehingga saya mempunyai gambaran apa yang dilakukan teman-teman saya di field service.
Setelah cukup mendapat gambaran, kami melanjutkan ke kantor Bengalon. Sepanjang jalan saya berpapasan dengan truk-truk pengangkut batubara. Menggunakan prime mover truk, menari 2 gerbong penuh berisi batubara yang akan diantar ke pelabuhan lembu tutung, tempat coal jetty untuk dibawa ke stockpile Sengatta.

Ah, kami tidak bisa berkendara cepat disini, di depan ada truk pengangkut batubara. Peraturan tambang Bengalon mengatakan kami harus menjaga jarak 100 meter dari truk tersebut. Sabar, sabar, kata teman saya. Justru ini, saya manfaatkan untuk motret sekitar. Beberapa view bagus saya temui.

Sampai di kantor cabang Bengalon, kami disambut dengan keramahan khas. Ya khas yang selalu saya dapatkan ketika berkunjung ke cabang. Justru banyak ngobrol pada awal sampai di kantor cabang Bengalon. Sampai tiba makan siang. Lapar nian saya, saya makan bergabung dengan kepala cabangnya smabil ngobrol macem-macem.

Telepon itu datang. Aha, saya ditelepon kawan lama saya yang sudah pindah bendera ke operator tambang Bengalon. Dulu mentor saya pada tahun 2002-2003. Saya memenuhi undangannya dengan mampir ke kantor beliau setelah makan siang. Dekat, hanya 100 meter dari kantor cabang saya.

Ah sangat menyenangkan bertemu kawan lama. Ngobrol di ruangan beliau, tidak ada perubahan dari beliau. Dari sisi fisik yang memang segitu-gitunya, sikapnya kepada kami yang masih muda masih sama. Dan ternyata saya juga bertemu teman lama lagi, mantan Tembagapura yang juga berubah bendera ke operator tambang Bengalon. Sudah menjadi superintendent rupanya. Memang keras…………..
Kami berhaha-hihi, cerita masing-masing. Ini mah bukan kerja tapi reuni, celetuk mantan mekanik Tembagapura. Hai, seru saya. Akrab sekali dengan teman-teman yang dulu satu bendera. Beda bendera saja, namun kami masih kenal dan tegur sapa dengan akrab.

Saatnya melanjutkan pekerjaan. Sekali lagi, saya kerja dengan ngobrol, simulasi pekerjaan, nanya sana-sini, dan seterusnya. Sampai akhirnya tawaran yang sangat sulit ditolak itu datang. Awalnya memang saya dijadwalkan untuk bermalam di Bengalon. Namun karena datanya sudah cukup lengkap dan sudah saya sampaikan temuannya ke kepala cabang, maka saya ditawari bebek rica-rica yang dimasak oleh teman-teman service Bengalon sendiri.

Saya ragu, apakah cukup sisa waktu untuk mengerjakan laporan. Karena konsekuensinya saya akan pulang dan sampai di Tanjung Bara paling cepet jam 22 WITA. Pertimbangan yang membuat saya tidak bisa menolak adalah mereka, temen-temen Bengalon, meyakinkan saya masakannya boleh diadu. Dan pengganti menginap di Bengalon.
Saya masih ragu. Namun akhirnya diputuskan kami akan makan malam di mes, rumah karyawan di Bengalon. Namun dengan catatan saya harus merampungkan laporan saya dahulu. JAdi para mekanik yang merangkap chef tadi pulang normal jam 17, sementara saya baru beranjak dari kantor jam 18 WITA.

Diantar denga kepala cabangnya, kami menuju ke rumah karyawan. Dan memang aroma menggoda bebek rica-rica membuat saya harus menahan lapar. Ternyata diantara mekanik ini ada spesialisasi. Selain dalam pekerjaan yang memang ada ketrampilan/skill khusus, di bagian masak memasak juga ada. Ada yang spesialis ikan bakar, rica-rica, sayur berkuah, saraba, dan lainnya. Memang lengkap di rumah ini. Saya katakan, ini rumah dengan menu 4 sehat 5 sempurna.

Bebek rica-rica telah digelar. Kami makan bersama dan….huuaaah pedassss….. Padahal katany chef-nya, ini belum seberapa mas, kalo yang bikin si anu, bisa minimal cabe sekilo masuk semua. Saya tidak berani membayangkan. Lha yang seperempat kilo saja sudah bikin merah dan rada ngebul. Wah ini bakalan tidak tidur sepanjang pulang nanti.

Pedass….. Masih terasa. Yang bikin nikmat, selain pedesnya, juga kebersamaan. Menyenangkan sekali.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Agustus 16, 2009, in kisah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: