313KM 7Jam-ku….


Apa yang terjadi selama 10 jam terakhir?
Buanyak jawab saya. 7 jam saya menghabiskan waktu saya di mobil yang membawa saya dari balikpapan ke Sengatta. Dan akhirnya berjalan dalam malam untuk makan di coffee shop perusahaan tambang terbesar di Sengatta.
Mulai jam 10:30-an berangkat dari hotel, saya dijemput oleh temen saya, sesama auditor untuk menuju ke Sengatta. Awal mula saya berpikir akan lewat Rapat dan Batu Ampar, ternyata lewat Balikpapan Baru dan berbelok ke arah Samarinda. 2 jam saya lewati menuju Samarinda, berkontur perbukitan memaksa mobil saya terus menerus bermanuver dalam naik-turun, kelokan dan lawan mobil yang tak hanya mobil kecil namun bis dan truk yang kira-kira besarnya. Jalan ini ternyata merupakan jalan negara, jalan utama yang menghubungkan beberapa kota besar di Kalimantan.

Berhenti makan siang di Samarinda, pas kebetulan di sebelah Islamic Center. Keren abis masjidnya. Sayang tidak bisa sholat disitu, semua pagar terkunci, jadi hanya motret dari pager doang. Berjalan sepanjang sungai Mahakam menuju Bontang merupakan perjalanan yang menyedihkan. Meski sebenarnya sejak berangkat dari Balikpapan sih. Saya diburu waktu sehingga sepanjang jalan saya tidak mempunyai kesempatan untuk motret sedikit pun. Saya hanya bisa motret dengan kendaraan yang melaju dan sekenanya dan seadanya. Meski ada beberapa objek yang menarik seperti masjid tua di Loa Janan, kampus sekolah unggulan melati di Samarinda, gerbang perumahan City Samarinda, dan lainnya.

10 kilometer sebelum Bontang, saya belok kiri ke arah Sengatta, sejalur dengan Lok Tuon. Nah mulai daerah, yang saya lupa namanya, jalan sama sekali tidak bersahabat. Nah ini yang bikin saya puyeng adalah lubang dan tanah yang separo longsor. Pantesan HR Manajer divisi mining menyambut saya dengan berkata, selamat naik roll-coaster terpanjang. Ya semacam roll coaster, yang membanting tubuh saya ke kanan kiri tanpa ampun. Disitulah ketahuan kegunaan seat belt. Tanpa seat belt, dijamin akan terlempar, terkocok, terpental dan mendarat tanpa ampun di sisi mobil lainnya. Jika mabuk darat, saya tidak rekomen deh. Saya hanya heran dengan supir saya yang nyantai, masih bisa cerita, haha hihi, ngejelasin beberapa tempat dan mengendalikan mobil minivan yang rem dan gas-nya masih ciamik. Tidak ada gejala puyeng atau capek dan sebagainya. Dan memang hafal jalur ini, kelihatan dari gaya nyupirnya tahu kapan melambat, kapan ngebut, kapan ngedim, kapan maki-maki dan seterusnya…….

Untuk menghibur diri, saya mencoba menikmati pemandangan. Disini saya mulai mencintai negeri ini. Ternyata negeri ini tidak selebar daun kelor, apalagi daun kelapa. Taman Nasional Gunung Kutai yang saya lewati entah berapa ratus kilometer, memberikan sensasi tersendiri. Ya, hutan yang belum tersentuh, well kecuali jalan negara yang saya lewati ini. Bener-bener hijau dan berkabut, mirip dengan jurang-jurang sepanjang perjalanan dari MP50 ke MP66. Belum dengan sungai yang berkelok dan rawa-rawa.

Dan akhirnya saya tepar dan terkapar mendekati kota Sengatta. Beruntung kota Sengatta bisa menghibur saya dengan membisik dalam hati, Sengatta here I come.

Blaik, ternyata guest house yang akan saya tempat masih 13 KM lagi, setelah melewati kota Sengatta. Jadi inget Kuala Kencana, yang masih 25 KM dari Timika. Pemandangan Sengatta mirip dengan Timika. Kota yang tumbuh segaris, masih berkembang dan didominasi pekerja pertambangan dan jasa terkait. Jadi bukan pemandangan yang aneh jika di jalanan penuh dengan mobil perusahaan bernomer lambung berbagai merek, dan juga karyawan perusahaan dengan seragam yang berwarna warni.

Setelah jalan berkelok, melewati hutan dan checkpoint Tanjung Bara, akhirnya tibalah saya di komplek perumahan Tanjung Bara atau juga disebut Batu Putih.
Memandang sesaat guest house yang saya tempati, relatif sama dengan Kuala Kencana, hanya bedanya baru kali ini saya menempati rumah panggung, selain di rainbow ridge MP66🙂 Ya, hampir sem ua rumah di Tanjung Bara bermodel rumah panggung. Dalam Jalur guest house saya, terdapat 6 rumah termasuk guest house saya. Fasilitas didalamnya, rada kurang dibanding guest house kantor di Kuala Kencana. Namun cukup luas dan lebar dengan flat TV, dishwasher, mini bar, dan penjaga rumah yang selalu rajin membersihkan rumah dan cucian penghuni.

Nah yang bikin rada bete sebenarnya pada saat makan malam. Berjalan kaki ke coffee shop Tanjung Bara, saya menemui tipikal coffe shop di Kuala Kencana dan Tembagapura. Menunya? Sama persis. Rasanya? Kurang lebih sama. Baru setelah makan saya sadar, bahwa saya sedang hidup di dunia pertambangan, di komplek perumahan, di area jobsite. Maka saya serasa hidup di Kuala Kencana.
Sambil jalan pulang, saya mengamati adanya lapangan tenis, kolam renang, meshall (kantin), guess house pemilik tambang, perumahan karyawan lainnya. Dengan kontur berbukit, saya cukup menikmati pemandangan malam jam 20 WITA dengan segala lampu dan kibaran bendera negara saya. Deket kok, cuma 200 meter dari guess house.

Saya berkata ke istri saya, Tanjung Bara mah seperti Tembagapura dengan cuaca Kuala Kencana. Satu hal yang saya bingung, malam jam 20 WITA tidak ada rasa dingin-dinginnya sedikit pun. Apakah saya yang belum beraklimatisasi atau memang panas. Suer, sampai sekarang saya masih terasa panas, meski malam jika di luar rumah.

Memang perjalanan yang sangat menyenangkan. Apapun itu saya menyenangi dan bersyukur untuk bisa berjalan sejauh ini menikmati bumi Indonesia. fabi ayyi ala’i robbikuma tukadzdziban? Demikian Allah SWT menegur saya. Hanya jika boleh, ini jika boleh minta ya, mbok ya saya jalan-jalannya sama istri. Sayang banget, sampai diketawain temen baik saya Azzam. Yah sejak di Balikpapan 4 hari, di Sengatta 7 hari, nerus ke Samarinda 5 hari, saya bener-bener a series of a lonely night dengan segala pemandangan, pengalaman dan takjub atas ciptaanNya.🙂 namanya juga ngeles dan nyoba nego….

Anyway, saya menyukai perjalanan ini. Exciting experience. Saya sempet nanya berapa jarak Balikpapan ke Sengatta, sekitar 313KM. Wah, kurang lebih sama dengan jika saya mudik ke Jawa Tengah dari jakarta, cuma tidak termasuk jalan rusak, lubang, longsor separo dan kubangannya……..

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Agustus 13, 2009, in kisah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: